Mengenal Sejarah Tanam Paksa di Museum Multatuli

0
244
Patung Multatuli
Patung Multatuli

Kenapa musem ini disebut sebagai Museum Multatuli?

Karena, nama museum ini diambil dari nama pena seorang Eduard Douwes Dekker. Ia awalnya adalah seorang Asisten Residen Lebak yang diangkat pada tahun 1856 di masa Pemerintahan Belanda dulu.

Di saat menjabat sebagai Asisten Residen, ia mulai melihat dan menentang adanya sistem tanam paksa di daerah yang ia pimpin, yaitu di daerah Lebak. Ketidaksetujuannya terhadap sistem ini akhirnya ia tulis menjadi sebuah novel dengan judul Max Havelaar. Di novelnya ini, ia kemudian menggunakan nama pena Multatuli.

Kopi, komoditi Tanam Paksa
Kopi, komoditi Tanam Paksa

Novel Max haavelar bercerita tentang ketidakadilan sistem tanam paksa yang merupakan usulan dari Pemerintahan Belanda. Sistem ini akhirnya malah menindas rakyat Lebak. Melalui novel ini juga, ia membeberkan nasib buruk rakyat yang telah dijajah dan sangat dirugikan dengan pembagian keuntungan yang tidak adil dalam sistem tanam paksa ini.

Karena sikap Eduard Douwes Dekker yang anti-kolonialisme dan telah membela rakyat Lebak, akhirnya untuk mengenang jasa-jasanya dibangunlah sebuah museum dengan nama Museum Multatuli oleh Pemerintah Daerah Lebak sekitar dua tahun lalu, yaitu pada tanggal 18 Februari 2018.

Ketika saya mengunjungi Museum Multatuli, tidak terlihat bahwa bangunan ini merupakan sebuah museum. Museumnya memang berada di sebuah bangunan yang terlihat seperti rumah yang sudah tua, namun masih kokoh. Bangunan ini adalah bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada 1920-an. Walaupun begitu, dekorasi dan peralatan museumnya masih sangat baru. Pemerintah Daerah Lebak juga mendapat sejumlah hibah buku dari Museum Multatuli di Belanda.

Kilas Sejarah Kabupaten Lebak
Kilas Sejarah Kabupaten Lebak

Ketika masuk ke gerbang museum, di halaman depannya, saya melihat ada sebuah patung Multatuli yang sangat besar yang sedang duduk sambil membaca buku. Di ruang depan museum, ada ruangan yang menampilkan beberapa rempah-rempah yang menjadi komoditi penting pada zaman Belanda dulu, seperti pala, lada, kayu manis, cengkeh, dan kopi.

Ada juga sejarah tentang minuman yang terbuat dari daun kopi. Nama minuman ini dinamakan kopi daun. Kenapa disebut minuman kopi daun? Ya, karena minuman ini hanya terbuat dari daun yang diambil dari pohon kopi, tidak ada biji kopi yang ditumbuk.

Pada masa tanam paska dulu, biji kopi harus diserahkan kepada pihak Belanda, banyak rakyat yang tidak bisa menikmati minuman kopi yang ditumbuk dari bijinya. Akhirnya, mereka membuat seduhan pengganti biji kopi tersebut dari daunnya.

Karya-karya Multatuli
Karya-karya Multatuli

Masuk ke ruangan kedua, saya melihat banyak tokoh-tokoh penting dengan kalimat bijaknya masing-masing, seperti Presiden Pertama RI Ir. Soekarno, Ibu Kartini, Pramoedya Ananta Toer, dan yang lainnya. Sebenarnya di awal masuk juga saya sduah membaca beberapa kalimat bijak yang dibuat oleh Multatuli itu sendiri, seperti ‘Tugas Manusia Adalah Menjadi Manusia.

Di ruangan lain, saya melihat foto-foto lawas dan tulisan-tulisan yang menggambarkan tentang sejarah masuknya kolonialisme di Indonesia terutama di Lebak, sejarah tentang berdirinya Kabupaten Lebak, dan karya-karya yang dibuat oleh Multatuli.

Wall of fame dan Ruang Baca
Wall of fame dan Ruang Baca

Sebelum keluar dari museum, di ruangan terakhir tersusun rapi koleksi buku-buku tentang Multatuli. Di ruangan yang bisa disebut ruang baca ini, saya duduk-duduk sambil membaca sekilas beberapa buku. Tidak lupa saya menulis judul dan pengarangnya agar bisa meminjamnya di perpustakaan. Jadi, saya bisa membaca bukunya lebih lengkap untuk dapat mengenal lebih jauh tentang Multatuli dan sejarah di Kabupaten Lebak. 

Lokasi Museum Multatuli berada di sekitar Alun-alun Kota Rangkasbitung, tepatnya berada di Jl. Alun-Alun Timur No.8, Rangkasbitung Barat, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Bagi kamu yang ingin mengunjungi museum ini dan berada di luar Banten, bisa menggunakan Kereta api atau (Kereta Api Listrik) KRL menuju Stasiun Rangkasbitung. Hanya berjarak sekitar 1,5 km dari stasiun, kamu bisa menuju museum dengan menggunakan ojek agar lebih mudah dan cepat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.