Mengenal Permainan Thikpil, Permainan Rakyat Bantul

0
451
Permainan tradisional rakyat Bantul.

Memasuki bulan Agustus, bulan Kemerdekaan rakyat Indonesia. Kemeriahan mulai terlihat di berbagai penjuru kota dan desa. Semarak menyambut hari kemerdekaan begitu tercermin dari bendera-bendera yang terpasang hampir di setiap rumah. Jika berbicara mengenai bulan Agustus, pasti akan terbesit satu kegiatan yang tidak boleh dilewatkan oleh seluruh rakyat, yaitu Lomba Agustusan. Lomba Agustusan biasanya diisi oleh permainan-permainan rakyat yang seru, seperti lomba makan kerupuk, lomba tarik tambang, dan banyak lagi. Tak kalah seru dengan permainan agustusan, permainan tradisional satu ini juga wajib dilombakan pada acara HUT RI ke-74. Permainan Thikpil namanya. Permainan ini berasal dari Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kata Thikpil merupakan singkatan dari Cuthik Capil, atau ambil capil. Permainan rakyat ini dahulu sering dimainkan oleh anak para petani yang sedang membajak sawah. Mereka melakukan permainan ini di tengah-tengah istirahat bercocok tanam untuk menghibur dan menghilangkan rasa penat. Permainan ini dilakukan oleh 2 orang anak laki-laki yang naik ke atas kerbau masing-masing. Mereka akan menggunakan capil dan tongkat sebagai senjata.

Permainan Thikpil akan dimulai.

Aturannya yaitu mereka harus menggunakan tongkat untuk menjatuhkan capil lawan yang sedang digunakan. Anak yang berhasil menjatuhkan capil lawan, maka dialah yang menang. Sebelum memulai permainan, maka anak-anak perempuan akan bernyanyi suatu tembang. Kurang lebih begini bunyinya, “hei, thikpil yok. Seng menang ojo uwuk, seng kalah ojo ngamuk”, setelah itu permainan dimulai dan kedua anak harus saling beradu mengambil capil yang dikenakan lawan.

Tembang yang dinyanyikan oleh anak-anak perempuan memiliki makna yaitu mengajak bermain thikpil dengan syarat yang menang tidak boleh sombong dan angkuh dan yang kalah tidak boleh mengamuk atau marah. Para anak perempuan akan bersorak-sorak mendukung jagoannya agar tidak kalah.

Saat ini permainan ini hanya dimainkan di saat-saat tertentu saja, seperti saat ada gebyar kebudayaan atau hari-hari besar. Cara bermainnya pun dibuat bervariasi agar menarik minat masyarakat. Permainan Thikpil saat ini tidak hanya dilakukan oleh anak laki-laki saja, anak perempuan juga dapat melakukan permainan ini. Berbeda dengan zaman dahulu, sekarang permainan thikpil tidak menggunakan kerbau, namun tongkat dan capil tetap digunakan.

Mengenal permainan thikpil.

Untuk para anak laki-laki, mereka akan membentuk kelompok beranggotakan 4 orang, 3 orang akan menggendong salah satu anak, seakan-akan dia sedang menunggangi kerbau. Kedua kelompok akan masuk ke arena permainan dan akan diadu mana yang lebih kuat dan cepat untuk menjatuhkan capil lawan. Lewat permainan thikpil, kita dapat belajar banyak mengenai kebudayaan. Mungkin sering kali kita menganggap budaya hanya sebatas tarian atau tembang saja, namun permainan juga merupakan bentuk dari kebudayaan yang wajib kita lestarikan. Banyak nilai-nilai yang dapat kita ambil dari permainan thikpil ini.

Semangat gotong royong dan saling menolong dapat kita lihat selama permainan ini berlangsung. Tembang yang dinyanyikan oleh para anak perempuan pun juga sarat akan makna. Dari tembang thikpil kita diingatkan bahwa seorang pemenang tidak boleh menjadi sombong bila sudah menang dan yang kalah tidak boleh ‘ngamuk’ karena kekalahannya. Kekalahan bukanlah akhir dari segalanya dan kemenangan bukanlah hal yang harus dibanggakan selamanya. Permainan tradisional harus kita lestarikan bersama agar anak-cucu kelak dapat memainkannya dan mengerti esensi dari suatu permainan. Permainan tradisional juga mengasah motorik anak supaya menjadi anak yang aktif dan ceria.

Yuk, kita lestarikan permainan tradisional yang ada di daerah kita supaya generasi bangsa selanjutnya bisa merasakan keseruannya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.