Mengenal Kearifan Lokal di Wisata Kampung Baduy, Banten

0
276
Tampak Perumahan Suku Baduy.

Bosan dengan suasana kota yang padat, aku ingin menyepi sejenak ke suatu tempat. Namun, kali ini aku tidak memiliki waktu berlibur yang panjang. Aku harus mencari tempat wisata yang tidak berada terlalu jauh dari kota Bogor. Untungnya aku memiliki teman bernama Ryan yang memang dalam darahnya sudah mengalir jiwa petualang. Kali ini dia mengajak aku menyepi menuju Kampung Suku Baduy yang berada di Banten. Lokasi tersebut masih bisa dijangkau menggunakan Commuter LineĀ (KRL)

Dalam perjalanan ini kami berjumlah 8 orang. Rumah kami terpisah di Jakarta, Bogor dan Depok maka di hari keberangkatan kami memutuskan untuk berkumpul di stasiun Transit Tanah Abang agar bisa langsung menyambung kereta menuju Rangkas Bitung. Kami janjian berkumpul pukul 08.00, maka pagi itu aku menaiki kereta pukul 06.05 dari Bogor yang menurut jadwal akan tiba pukul 07.25 di Tanah Abang. Sebagai pengguna KRL rutin, aku memiliki kartu Multitrip seberti E-Money untuk KRL agar aku tidak harus mengembalikan kartu di akhir perjalanan. Tarif KRL sendiri saat ini adalah Rp3.000 untuk 25 km pertama dan Rp1.000 untuk 10 km selanjutnya. Jadi untuk perjalanan PP aku melakukan pengisian sebesar Rp50.000.

Gapura penyambutan di Desa Ciboleger Baduy.

Kampung Wisata Suku Baduy terletak di Kanekes, Leuwidamar, Kabupaten Lebak , Banten. Lokasi tersebut berada sekitar 40 km dari Rangkas Bitung. Sesampainya di Stasiun Rangkasbitung banyak calo-calo angkot yang mengerubungi untuk menawarkan sewa mobil langsung ke Ciboleger. Namun, menurut Ryan si petualang, kita lebih baik menaiki elf yang memang diperuntukan menuju Ciboleger. Jadi kami hanya perlu menaiki angkot nomor 07 jurusan Terminal Aweh dengan ongkos sebesar Rp5000. Dari Terminal Aweh baru kita bisa menaiki mobil elf menuju Ciboleger dengan lama waktu perjalanan sekitar 1-2 jam dan ongkos yang perlu dikeluarkan adalah sebesar Rp25.000.

Sesampainya di Ciboleger kita harus menyusuri jalan setapak untuk sampai di pemukiman warga Suku Baduy Luar. Waktu yang ditempuh mencapai 1 jam dengan jalan mendaki dan menurun. Namun bagi wisatawan yang ingin mengunjungi wilayah Baduy Dalam bisa berjalan hingga 5 jam sebelum tiba di Kampung Cibeo, salah satu kampung dari 3 kampung Baduy Dalam.

Tampak Perumahan Suku Baduy.

Dengan total penduduk 5000-8000 orang, suku Baduy masih terisolasi dari dunia luar. Mereka masih memegang teguh adat istiadat dan aturan dari nenek moyang. Secara penampilan, suku Baduy dalam memakai baju dan ikat kepala serba putih. Sedangkan suku Baduy luar memakai pakaian hitam dan ikat kepala berwarna biru. Secara budaya, suku Baduy dalam lebih teguh memegang adat istiadat suku mereka, sedangkan suku Baduy luar sudah mulai terpengaruh dengan budaya dari luar. Persamaan dari keduanya, mereka pantang untuk menggunakan alas kaki, teknologi modern dan transportasi modern.

Dalam perjalanan menuju tempat kami menginap, kami disugguhkan dengan pemandangan rumah-rumah suku Baduy Luar, kemudian terdapat jalur yang sedikit berbatu dan naik turun. Kami juga melewati sungai dan lumbung padi milik suku Baduy. Rumah-rumah di perkampungan Baduy masih terbuat dari bambu dan ijuk serta semuanya menghadap ke arah yang sama. Suku Baduy memang terkenal sangat dekat dengan alam, mereka selalu menjaga alam yang mereka tempati. Tak heran kampung yang ada di sini masih terawat dan bersih.

Souvenir kain Baduy, Gantungan Kunci dan berbagai aksesoris yang bisa dibeli sebagai oleh-oleh.

Setelah puas melihat-lihat daerah perkampungan Suku Baduy, kami memutuskan untuk menginap di salah satu rumah warga Suku Baduy. Di sinilah saat yang biasanya paling ditunggu-tunggu. Tanpa listrik, tanpa gadget, dan tanpa kamar mandi tentunya menjadi tantangan seru bagi setiap wisatawan. Kita harus menuju ke sungai terlebih dahulu untuk mandi atau buang air. Di sini kita tidak diperkenankan untuk menggunakan teknologi modern juga tidak boleh menggunakan bahan-bahan kimia untuk membersihkan diri. Kita benar-benar hidup menyatu dengan alam.

Untuk makan malam sebenarnya kita bisa memasak di dapur tempat menginap. Tapi saranku pribadi lebih baik kita sudah menyiapkan nasi bungkus atau makanan yang sudah siap santap sebelum sampai di kampung Baduy agar lebih menghemat waktu. Kebetulan pada saat aku berkunjung, Kampung Suku Baduy sedang panen buah Durian. Diperjalanan pulang, warga Suku Baduy banyak berlalu-lalang memikul buah Durian untuk dijual keluar. Aku sempat mencicip dan rasanya nikmat! Wisata yang menarik untuk dikunjungi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.