Mengenal dan Belajar Sejarah di Hari Minggu Melalui Drama Teatrikal

2
111
Adegan pelatihan tentara PETA.

Hari Minggu pagi belum ada rencana? Buat warga Surabaya jangan bingung! Segera beranjak dari ranjang dan berangkat menuju Tugu Pahlawan. Selain bisa jalan sehat bersama keluarga, di sini kalian bisa menikmati sajian drama teatrikal yang rutin diadakan oleh komunitas pecinta sejarah Surabaya yang bernama Roodebrug Soerabaia yang bekerjasama dengan pemerintah kota.

Drama teatrikal yang aku saksikan mengangkat tema pemberontakan tentara PETA (Tentara Sukarela Pembela Tanah Air). Acara dijadwalkan dari jam 8-9 pagi di lapangan rumput Tugu Pahlawan. Sayangnya, acara berjalan mundur dari jadwal. Jadi, harus rela menunggu bersama dengan warga Surabaya lainnya sambil terkena terik matahari pagi.

Setelah para pemain drama datang dan siap, mereka berbaris di sisi kiri dan kanan lapangan rumput. Mereka terbagi menjadi dua barisan. Sebelah kiri adalah barisan tentara Jepang, sedangkan sebelah kanan adalah barisan tentara PETA dan warga sipil. Acara dibuka dengan pembacaan naskah penghormatan kepada para pahlawan yang telah gugur mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan Indonesia. Setelah itu, barisan pemain mulai berjalan ke tengah lapangan. Barisan kiri dan kanan berjalan berpapasan di tengah sambil memberikan salam kepada penonton yang sudah rela datang berpanas-panasan dan bersedia menyaksikan kembali sejarah. Akhirnya pementasan pun dimulai. Properti pentas seperti jeruji besi, karung goni, dan tumpukan palet, sudah siap di tengah lapangan.

Adegan penghormatan para pejuang.

Alur awal menceritakan mengenai sejarah pembentukan tentara PETA. Tentara PETA pada awalnya dibentuk dengan tujuan membantu pemerintah Jepang dalam medan tempur. Tentara PETA berisikan anak bangsa Indonesia yang langsung mendapatkan pelatihan dari tentara Jepang. Bisa disaksikan di lapangan, para pemain memperagakan proses pelatihan mengontrol senjata.

Alur kedua menceritakan mengenai kekejaman tentara Jepang terhadap warga sipil. Kalian pasti mengenal istilah romusha. Suasana itulah yang digambarkan dalam alur ini. Para petani dipaksa membawa karung-karung besar sambil mendapatkan perlakuan kasar dari tentara Jepang. Hal inilah yang menyulut kemarahan dan semangat tentara PETA untuk melakukan pemberontakan kepada tentara Jepang.

Alur ketiga berisikan adegan perang pemberontakan tentara PETA melawan tentara Jepang di Blitar. Properti petasan dipakai untuk menimbulkan efek letupan pistol. Tidak hanya satu petasan, melainkan beberapa petasan dipakai. Suasana drama kala itu sukses memberi gambaran kepada penonton bagaimana sebenarnya suasana ketika perang. Di sini pasukan PETA dibawah pimpinan Supriyadi berhasil mendorong mundur tentara Jepang.

Adegan romusha.

Alur keempat berisikan adegan dimana tentara Jepang memutar otak untuk menang melawan tentara PETA. Tidak bisa menang secara frontal, tentara Jepang akhirnya membuat suatu taktik. Taktik tersebut berupa membuat pengumuman yang isinya di mana mengajak tentara PETA menyerah dengan jaminan akan diberikan keselamatan. Nampak dari drama di lapangan, para tentara PETA sendiri kebingungan. Dalam tubuh PETA terdapat perpecahan, ada yang percaya dengan Jepang dan ingin menyerah serta ada juga yang tidak percaya dan berusaha menyadarkan temannya sesama tentara bahwa pengumuman itu hanya tipuan tentara Jepang. Pada akhirnya tentara PETA tetap menyerah kepada Jepang.

Alur kelima berisikan adegan pembunuhan tentara PETA. Ternyata pengumuman itu benar hanya tipuan. Semua tentara PETA yang menyerah segera ditangkap dan dibunuh. Terbunuh karena disiksa, ditembak, dan ditusuk pedang samurai. Adegan menggambarkan bagaimana kejamnya tentara Jepang menyiksa tentara PETA sambil mengucapkan kata-kata bakero (umpatan dalam bahasa Jepang). Supriyadi dipercaya ikut tertangkap dan terbunuh dalam peristiwa ini meskipun sampai hari ini misteri kematiannya belum ada kejelasannya.

Penutupan acara.

Alur terakhir berisikan adegan penghargaan kepada para pahlawan yang telah meninggal. Dua orang wanita berjalan dari arah kiri dan kanan lapangan sambil membawa Bendera Merah Putih. Mereka mendekati mayat tentara PETA lalu memberikan penghormatan terakhir. Tangan tentara yang meninggal dikatupkan dan wajah mereka ditutup dengan topi.

Acara ditutup dengan semua pemain berkumpul di tengah kembali lalu memberikan ucapan terima kasih kepada penonton. Penonton kemudian maju ke lapangan untuk berfoto bersama para pemain.

Daripada hari minggumu habis di ranjang, lebih baik habiskan waktumu dengan mengenal sejarah. Ingatlah bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Yuk kenali sejarah Indonesia kembali!

Salam Jasmerah!

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.