Mengenal Daejeon, Sisi Lain Korea Selatan

0
405
Berada di kawasan Daecheong Dam.

“Bentangan metropolitan yang apik. Apik yang membangun keseimbangan. Keseimbangan antara manusia, teknologi dan alam. Alam perekat jiwa. Jiwa yang hidup. Hidup untuk maju. Maju untuk hidup”

(Sebuah Kenangan di Daejeon, Juni 2019)

Awal musim panas di bulan Juni menyambut kedatangan kami di negeri ginseng ini. Suhunya mencapai 34-35 derajat celcius, suhu yang sebenarnya masih dalam batas kompromi dengan suhu panas di Indonesia. Langit cerah Kota Seoul dan pemandangan modern turut memperkuat bahwa Korea adalah negara yang berkembang pesat.

Perjalanan kami dilanjutkan menuju Daejeon, tempat kami melaksanakan konferensi Asia Pasific Forum (APF) ke-18 di Universitas Woosong. Perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam dengan menggunakan kereta dari stasiun Seoul. Dengan fasilitas transportasi yang lengkap dan memadai perjalanan kami pun berasa nyaman.

Tibalah kami di stasiun Daejeon. Perjalanan kami dilanjutkan dengan menggunakan taksi menuju penginapan yang sudah kamipesan  sebelumnya.Taksi pun begitu mudah didapat. Tampak antrian panjang calon penumpang taksi tanpa ada saling berebut atau saling mendahului. Mereka tertib menunggu giliran taksi berikutnya di area yang sudah disediakan. Antri pun kami temukan tak hanya saat menunggu taksi, namun di beberapa tempat umum seperti saat memasuki toilet, ATM, pusat perbelanjaan dan tempat lainnya. Ya, semuanya sangat tertib. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kedisiplinan masyarakat Korea sangat tinggi.

Daejeon, a city of science, culture and ecology

Jika Seoul dan Busan telah menjadi Kota populer di Korea Selatan, maka Daejeon adalah kota lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Daejeon memiliki atmosfer metropolitan yang tertata apik dengan sentuhan teknologi nan modern. Hal ini dapat dilihat dari bentuk bangunan modern dan beberapa fasilitas publik lainnya.

Daejeon merupakan Kota kelima terbesar di Korea Selatan dengan fokus pengembangannya pada bidang sains dan teknologi. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,5 juta dengan luas wilayah sekitar 539, 84 km². Daejeon juga memiliki catatan sejarah penting karena tempat ini pernah menjadi penyelenggara Piala Dunia FIFA pada bulan Mei-Juni 2002.

Secara administratif, Daejeon dibagi menjadi lima distrik (Gu) yakni Deadeok-gu, Dong-gu, Jung-gu, Seo-gu dan Yuseng-gu. Daejeon dengan jargon a city of science, culture and ecology, menawarkan ragam daya tarik wisata yang dikemas dengan sentuhan teknologi dengan tetap mengusung nilai budaya lokal dan lingkungan. Dan betul saja, kunjungan kami ke beberapa tempat dalam program Daejeon City Tourtelah memberikan informasi nyata bahwa konsep pengembangan kota ini tak hanya memikirkan kemajuan teknologi semata, namun juga sangat memperhatikan aspek lingkungan.

Pintu masuk Natural Heritage Center.

Sebagai contoh, kunjungan kami ke Natural Heritage Center yang berada di Yudeung-ro, Seo-gu adalah sebuah museum yang dilengkapi dengan nilai sejarah, edukasi lingkungan dan teknologi. Bagaimana pohon tua bernama Jondori ini hidup dan bermanfaat bagi masyarakat Korea dan bagaimana para leluhur mereka dapat memelihari secara turun temurun serta nilai-nilai warisan alam dipamerkan di museum ini secara detil.

Daya tarik wisata yang memperkuat pariwisata di Daejeon juga tersebar di beberapa tempat. Tempat yang tak kalah menarik adalah Daejeon Museum of Art, Daechung Lake, Daecheongho Ecology Hall Area Park. Salah satu taman sains buatan yang berada di kawasan perkotaan bernama Hanbat Arboretum menjadi salah satu yang wajib dikunjungi. Tempat ini merupakan ruang hijau yang indah sekaligus sebagai pusat pembelajaran lingkungan. Nama Hanbat sendiri berasal dari nama lama Daejeon, yang berarti “kumpulan besar ladang”. Kawasan ini terbagi menjadi dua bagian yakni taman timur dan barat yang dilengkapi dengan Expo Citizen’s Plaza. Jumlah pengunjung setiap tahunnya terus bertambah dan diperkirakan ada sekitar 900.000 pengunjung pada tiap tahunnya. Tentu karena area ini adalah ruang hijau, walaupun kami datang di musim panas, kami tetap bisa merasakan suasana sejuk.

Pengetahuan lain kami dapatkan pula saat berkunjung Daecheong Dam, pusat pengembangan dan pengolahan sumber daya air. Sumber daya air dikelola melalui berbagai alat yang dipamerkan kepada setiap pengunjung. Tak hanya demo bagaimana pegelolaan sumber daya air, terdapat beberapa fasilitas lain mengenai informasi siklus air sehingga membangun kesadaran akan pentingnya air bagi kehidupan.

Bersama tim berada di Natural Heritage Center, Daejeon Korea Selatan.

Perjalanan tur ke Daejeon bersama rombongan orang Korea, membuat kami banyak belajar mengenai budaya lokal mereka. Kami berdecak kagum dengan kekuatan fisik masyarakat Korea, di saat usianya yang tak lagi muda, mereka begitu semangat melakukan tur yang sebagian besar aktifitas dengan berjalan kaki. Kebiasaan mereka yang banyak beraktifitas dengan berjalan kaki sejak usia muda dan membiasakan diri meminum ginseng saat jelang sarapan, membuat mereka mampu menjaga stamina hingga usia senja.

Kami pun dengan senang berinteraksi dengan mereka walaupun harus kami akui ada  kesulitan dalam berbahasa Korea. Namun dengan aplikasi terjemahan yang ada di telepon genggam, kesulitan itu tak lagi menjadi penghalang untuk membangun komunikasi. Berfoto bersama, mencicipi makanan lokal mereka, dan berjalan bersama menelusuri keindahan senja sungai Daecheong, seolah merekatkan kebersamaan yang sebenarnya baru dimulai sejak pagi.

Di sinilah, di Daejeon, alam, budaya, dan teknologi saling menyatu, merekat dalam balutan keramahan masyarakat Korea. Tentu tak akan cukup menelusuri Daejeon dalam satu hari, karena banyak hal menarik lainnya yang terdapat di tempat yang berbeda. Namun sayang, esok harinya kami harus kembali ke Seoul dengan tugas yang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.