Mengelilingi Relief Fabel di Kaki Candi Sojiwan

0
201
Candi Sojiwan dilihat dari pintu masuk.

Candi Sojiwan mungkin belum populer seperti tetangganya, Candi Plaosan. Padahal baik Candi Sojiwan maupun Plaosan, berada tak jauh dari Candi Prambanan yang sudah tersohor. Uniknya, Candi Sojiwan merupakan bangunan yang dipersembahkan oleh cucu kepada neneknya meskipun berbeda agama. Raja Balitung memeluk Hindhu Siwa sedangkan neneknya Nini Haji Rakryan Sanjiwana beragama Buddha.

Rasa penasaran tersebut akhirnya menjadi bagian rencana perjalanan atau itinerary terbaru saya saat pulang kampung. Candi yang namanya diambil dari nama nenek Raja Balitung ini terletak di Desa Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten Jawa Tengah. Meski harus masuk ke perkampungan, tidak susah untuk menemukan candi ini, karena sudah terdapat plang penunjuk arah. Lokasinya sekitar dua kilometer dari Jalan Raya Jogja-Solo.

Kompleks Candi Sojiwan tidak terlalu luas. Hanya terdapat satu candi utama dengan tinggi 27 meter. Di bagian atap candi terdapat stupa yang merupakan ciri khas candi bercorak Buddha seperti yang bisa kita jumpai di Candi Borobudur. Sementara tubuh candi yang ramping merupakan ciri candi peninggalan Hindu seperti Candi Prambanan. Di sisi utara terdapat stupa yang menjadi candi perwara. Di sebelah selatan candi utama terdapat reruntuhan candi yang belum rampung direkonstruksi ulang.

Relief di sepanjang kaki Candi Sojiwan.

Sebelum menaiki tangga menuju bangunan utama candi, saya mengelilingi dinding kaki candi yang berhiaskan relief. Uniknya relief di candi ini bertema mengenai fabel atau cerita tentang dunia binatang. Saya berjalan searah arah jarum jam. Ada beberapa penggambaran binatang yang bisa saya tangkap. Di antaranya terdapat batu yang menggambarkan seekor kera tengah menunggang di punggung buaya untuk bisa menyeberangi sungai tanpa menjadi mangsa buaya. Ada relief yang melukiskan pertempuran singa dan banteng. Persahabatan antara kura-kura dan burung. Terus berjalan terdapat relief gajah yang sangat gampang dikenali karena bentuk fisik binatang ini yang berbadan besar, bertelinga lebar, dan berbelalai.

Relief yang saya jumpai tidak hanya hubungan antar sesama binatang tapi juga dengan manusia di antaranya penggambaran serigala dan wanita dan seorang lelaki bersama anjing. Kemudian ada relief makhluk surgawi yang bernama Kinnara. Selain itu, terdapat relief pria yang sedang berkelahi dan seorang laki-laki yang membaringkan kepalanya kepada perempuan bersila.

Itu tadi beberapa relief yang berhasil saya temukan. Sayangnya beberapa batu relief telah rusak bahkan hilang. Ada juga yang sudah tidak jelas sehingga saya kesulitan menebak gambarnya.

Candi Sojiwan.

Setelah puas mengelilingi relief candi, saya mencoba masuk ke candi utama yang menghadap ke arah matahari terbenam ini. Untuk sampai ke ruang utama harus menaiki 12 anak tangga. Antara kaki candi dengan tubuh candi terdapat semacam gang yang bisa digunakan untuk mengelilingi candi. Masuk ke bilik utama terdapat ruangan yang cukup luas dan ada semacam singgasana.

Di dalam kompleks Candi Sojiwan juga terdapat Museum Arsitektur Candi. Di sini kita bisa mengenal Candi Sojiwan lebih dalam misalnya dengan melihat dokumentasi dan batu relief. Di sampingnya terdapat taman asri yang cukup luas sehingga bisa digunakan untuk bersantai.

Sayang, saya datang selepas asar sehingga tidak bisa berlama-lama. Meski hanya sekitar satu jam, saya sudah bisa mengeksplorasi kawasan ini karena memang tidak seluas kompleks Candi Prambanan. Saya pun banyak mendapat pesan moral dari penggambaran melalui relief seperti seorang cucu yang didongengkan oleh neneknya. Oh ya, sebelum pulang, saya sejenak menikmati senja di candi yang menghadap ke arah matahari terbenam ini.

Candi perwara berupa stupa.

Bertandang ke Candi Sojiwan cocok untuk yang ingin rekreasi dengan low budget travelling. Ketika saya masuk, petugas tidak menarik karcis hanya menyuruh untuk mengisi buku tamu. Areal parkir berada di halaman dan dikelola warga dengan tarif standar. Mengingat letak candi yang tidak jauh dari kawasan wisata Candi Prambanan sudah banyak penginapan murah di sekitar area ini, begitu juga dengan tempat makan yang sesuai kantong cekak.

Sembari meninggalkan kawasan candi yang hijau dan bersih, saya menyelami area perkampungan dengan keramahan warga dan persawahan sembari menghirup udara pedesaan yang masih murni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.