Mengeksplore Sore di Pantai Pailus

0
547
Berburu senja di Pantai Pailus.

Hari-hari lenggang bersama tim KKN Desa Banjaran, Kabupaten Jepara, kami isi dengan kegiatan ‘survey potensi wisata desa’ alias ‘jalan-jalan’. Setelah bosan 3 kali mengunjungi Pantai Bondo,  kami memutuskan untuk mengeksplore destinasi yang lain.

Setelah memutuskan pantai mana yang akan kami kunjungi, kami menetapkan akan mengunjungi Pantai Pailus yang letaknya berada di daerah Kecamatan Mlonggo. Berdasarkan jarak, sebenarnya Pantai Bondo dan Pantai Pailus masih bersebelahan atau yah bisa dibilang tetanggaan. Sekitar 10 kilometer jika perjalanan dilakukan dari Desa yang kami tinggali, Desa Banjaran.

Dengan modal survey melalui gambar-gambar di Google, kami berharap Pantai Pailus seindah yang digambarkan, atau mungkin lebih indah dari gambar, atau setidaknya sama indahnya dengan Pantai Bondo. Bagi yang penasaran dengan cerita Pantai Bondo bisa membuka tulisan aku yang mereview Pantai Bondo. Sore itu, sekitar pukul 3 lebih kami bertujuh berangkat dari posko KKN menaiki sepeda (motor) menuju lokasi survei.

Pantai Pailus yang sayang sekali terdapat sampah-sampah plastik kecil yang terbawa ombak.

Kami tidak kesulitan dalam mencapai tujuan, tidak menggunakan bantuan Google Maps, hanya mengikuti petunjuk jalan yang tertera di sepanjang jalan. Melewati Jl. Raya Jepara-Pati kami menelusuri jalan dengan gembira dan harap-harap senang dapat segera menginjakkan kaki di atas lembutnya pasir pantai. Tidak seperti di beberapa kota yang tulisan-tulisan papan arah menuju sebuah lokasi wisata yang kadang menipu, petunjuk arah yang ada di Jepara sangat membantu memudahkan perjalanan dan tidak adanya jebakan-jebakan di baliknya.

Perjalanan menuju Pantai Pailus sedikit berbeda dengan Pantai Bondo, kali ini kami tidak perlu melewati jalanan yang sepi dan dipenuhi dengan hutan Jati. Untuk sampai di Pantai Pailus kami harus masuk melewati jalan desa yang kecil. Jalan tersebut hanya cukup untuk dilewati satu mobil (dua jika berpapasan) dengan rumah-rumah penduduk sederhana di kanan-kiri jalan, dan pohon-pohon khas desa yang menaungi kanan-kiri jalan, tentunya karena memasuki jalan yang berada di dalam desa, jalanan agak sedikit berkelok-kelok.

Seketika pada belokan terakhir kami langsung gembira saat melihat garis air yang cukup dekat dengan jalan. Awalnya kami langsung parkir begitu saja begitu sampai di Pantai Palilus, tapi kemudian kami pindah untuk parkir ke arah sebelah kanan dekat tulisan “Pantai Pailus”. Kami sangat bergembira akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki di pasir pantai yang putih.

Terdapat kedai yang menyajikan bangku dan tempat bersantai di pinggir pantai.

Hmm, yah, jika dibandingkan dengan Pantai Bondo, Pantai Pailus terlihat belum terkelola dengan manajemen yang lebih teratur dan baik. Spot-spot foto seperti ornamen ‘kekinian’ belum banyak terbangun di sepanjang pantai. Warung-warung yang ada juga masih sedikit. Sampah-sampah yang terbawa oleh ombak cukup mengotori pasir pantai.

Pantai Pailus tergolong sepi, entah karena kami mengunjungi pantai saat weekdays atau karena pantai ini memang masih sepi dan belum banyak terekspos. Waktu itu aku dan salah satu temanku cukup menyesal tidak membawa baju ganti untuk mandi di pantai, padahal air pantainya cukup tenang dan dangkal. Pada jarak 4-5 meter saja ketinggian muka air masih sepinggang orang dewasa. Ah air itu seolah terus-terusan memanggilku untuk menceburkan diri ke pantai secepatnya. Yang menarik dari Pantai Pailus, di sepanjang pantainya cukup rindang oleh pepohonan khas dataran rendah. Pohon-pohon yang tumbuh rindang dapat menjadi spot foto yang cukup indah.

Meski belum banyak ornamen-ornamen kekinian yang instagramable, tetapi di beberapa lokasi di Pantai Pailus juga sudah ada tempat-tempat nyaman dan indah untuk berfoto dan menghabiskan waktu. Seperti ayunan, bangku-bangku cantik, dan tulisan ‘Pantai Pailus’ yang dihias untuk memenuhi hasrat kebutuhan fotografi bagi para pemburu feeds.

Spot instagramable Pantai Pailus.

Sore itu kami menghabiskan waktu dengan membeli beberapa jajanan dan kopi, menunggu senja menyelesaikan urusannya. Sedangkan aku dan temanku sudah tidak bisa menahan untuk tidak bermain air hingga celana kami basah semua. Aku dan temanku berlarian ke arah lautan mendekat ke sebuah kapal nelayan yang menjadi tempat bermain para anak-anak kecil. Karena waktu itu aku tidak basah kuyup, jadi aku tidak sempat survei ke kamar mandi yang ada di sana. Namun, kalau tidak salah ada kok beberapa tempat yang menyediakan kamar mandi.

Untuk masuk ke Pantai Pailus tidak dipungut biaya. Tidak ada pungutan daerah atau pun pungutan saat akan masuk ke kawasan wisata. Tentunya hal ini sangat menggembirakan bagi penikmat wisata murah meriah. Bahkan karena kami parkir di sebelah warung tempat kami jajan, kami juga tidak membayar parkir saat pulang.

Ah sayangnya, bagi para penikmat sunset, Pantai Pailus tidak terlalu aku rekomendasikan. Matahari turun tepat ke daratan yang berada di sebelah barat Pantai Pailus. Sehingga kamu tidak akan menemukan matahari tenggelam yang seolah masuk ke dalam lautan.

Bagi siapapun yang akan berkunjung ke Pantai Pailus, jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan ya. Jangan membuang sampah sembarangan dan mengotori pemandangan pantai juga laut tempat berbagai macam biota laut tinggal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.