Mengejar Matahari Terbit di Gunung Ijen

0
2283
Pemandangan Gunung Ijen.

Pada tahun 2016 silam, tepatnya di bulan Desember, tidak disangka saya akan mendapatkan rezeki jalan-jalan gratis hingga Banyuwangi. Berawal dari ajakan seorang teman untuk ikut jalan-jalan yang kala itu sedang dikunjungi oleh keluarganya, akhirnya saya bisa merasakan pendakian gunung. Sebenarnya, saya dan keluarganya ini memang sudah cukup dekat. Sehingga saya mau menerima ajakan mereka. Sebelum ini, saya pun sudah sering jalan-jalan bersama mereka yang nanti akan saya ceritakan satu per satu di sini.

Kala itu, sebenarnya saya tidak tahu tujuan mereka akan ke mana. Sepanjang perjalanan dari Surabaya, saya memilih untuk bermain dengan keponakan teman yang ikut juga. Tiba-tiba mobil kami sudah berada di hotel kawasan Ijen. Dingin udara malam dan angin lembah saat itu benar-benar terasa. Selanjutnya kami memutuskan untuk beristirahat sebelum nantinya sekitar pukul 01:00, kami akan mulai mendaki. Pendakian perdana saya pun akhirnya dimulai.

Puncak Gunung Ijen.

Jujur saat itu, karena saya merasa kedinginan ketika di hotel, saya menganggap bahwa pendakian akan lebih dingin. Namun ketika dalam perjalanan mendaki, saya tidak merasa kedinginan sama sekali. Malah saya merasa berkeringat. Bisa jadi karena saya terus berjalan. Dalam perjalanan pendakian, beberapa kali saya menemani orang tua teman saya beristirahat. Memang agak berat untuk orang tua yang tidak terbiasa mendaki seperti ini. Saya pun yang baru pertama kali merasa berat dengan medannya. Terasa lama sekali ketika mendaki, medan yang agak berpasir juga membuat jalan terasa licin.

Ketika diperjalanan, kami beberapa kali ditawari oleh warga lokal untuk menggunakan troli dengan membayar sesuai harga yang telah ditentukan. Mereka akan mendorong kita untuk sampai ke puncak, tetapi kami menolak. Kami memutuskan untuk berusaha semampu kami. Terlihat jelas bahwa warga lokal tersebut sudah terbiasa naik-turun Gunung Ijen, sehingga langkah mereka juga tidak terlalu berat seperti kami. Bahkan mereka bilang hanya butuh waktu 2 jam untuk sampai puncak, sedangkan kami membutuhkan waktu lebih dari 4 jam untuk berada di puncak.

Pemandangan Puncak Gunung Ijen.

Sesampainya di puncak, langit tidak lagi gelap, dan bau belerang sudah mulai menusuk hidung bahkan masker yang kami gunakan sudah tidak mampu menghalau bau belerang yang menyengat. Selain itu, kami tidak dapat melihat sunrise saat itu karena langit yang mendung, tapi tidak apa. Pemandangan yang disuguhkan alam tidak pernah mengecewakan, kami masih menikmati hembusan angin pagi dari gunung, dan tidak lupa mengabadikan momen terlangka yang tidak pernah terduga ini.

Biaya masuk ke kawasan wisata ini bervariasi, untuk wisatawan lokal pada hari biasa (weekdays) sebesar Rp 5.000, sedangkan untuk akhir pekan (weekend) sebesar Rp 7.500. Sedangkan tiket masuk untuk wisatawan mancanegara sebesar Rp 100.000 pada hari biasa (weekdays) dan sebesar Rp 150.000 pada akhir pekan (weekend). Kemudian pengecekan tiket akan dilakukan di depan pintu gerbang pendakian. Jalur pendakian di Gunung Ijen berupa aspal, hal ini dilakukan supaya memudahkan para penambang mengangkut sulfur dari kawah Ijen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.