Menelusuri Sejarah Islam di Pontianak Melalui Keraton Kadariah

0
56
Singasana Sultan dan Ratu Keraton Kadariah Pontianak..

Ketika tiba di Pontianak, seorang teman lama berencana akan menjadi tour guide saya selama satu malam saya transit di Kota Lidah Buaya, sebelum esok hari kembali melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Ketapang. Hal pertama yang saya ketahui tentang Pontianak untuk destinasi pariwisatanya adalah Tugu Pontianak. Namun, beberapa tahun lalu saya pernah mengunjunginya usai melakukan penelitian di Kabupaten Sanggau. Akhirnya, teman menawarkan untuk pergi ke Keraton Kadariah dan ke Waterfront yang tak jauh dari lokasi keraton.

Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 30 menit dari pusat kota Pontianak, tibalah kami di sebuah lokasi pinggir Sungai Kapuas. Pertama masuk area keraton, teman saya mengajak untuk menyusuri pinggir Sungai Kapuas tepatnya di Waterfront Keraton. Menuju Waterfront, kami melewati sebuah masjid tua yang saat itu sedang di renovasi. Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman Pontianak yang tertulis dengan huruf Arab gundul. Menurut pekerja yang kami temui, renovasi dilakukan karena sudah ada bagian yang sudah lapuk dan akan menambahkan beberapa tiang pada bagian bangunan tersebut. Oleh karena itu, kegiatan shalat yang dilakukan di masjid ini pun perlu dibatasi dan pengunjung lainnya belum diperbolehkan masuk ke masjid.

Anak-anak sedang bersiap untuk terjun bebas diatas meriam bambu yang tidak dipakai.
Waterfront City Pontianak

Waterfront City Pontianak mengapit hilir Sungai Kapuas, satu area berada di Pelabuhan Senghie Pontianak, dan satu area berada di dekat Keraton Kadariah. Waterfront yang juga merupakan pedestarian area menjadi jalur alternatif bagi warga yang tinggal di dekat area keraton, meski sebenarnya tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor di area Waterfront tersebut.

Pada saat kami ke sana, saat itu menjelang Idul Fitri 1440H tahun 2019. Maka, kami pun disuguhi pemandangan sepanjang Waterfront dengan banyak meriam karbit dengan jumlah yang bervariasi serta berwarna-warni. Teman saya menjelaskan bahwa meriam ini akan dinyalakan pada saat menjelang Idul Fitri. Sehingga sering ada festival Meriam Karbit setahun sekali. Meriam yang dipasang, satu bagian berada di depat Waterfront, dengan moncong mengarah ke Sungai Kapuas. Tapi tenang saja, meski ini meriam, dia tidak akan melontarkan peluru meriam seperti perang. Namun, isi meriam yang ditembakkan terbuat dari karbit yang akan mengeluarkan yang sangat keras layaknya sebuah bom.

Sejarah mengapa ada meriam karbit ini sudah banyak diunggah di internet, bahwa pada saat Sultan Abdurrahman ingin membuka lahan, dia banyak diganggu oleh hantu-hantu seperti kuntilanak. Untuk mengusirnya, dia memerintahkan pasukannya untuk membuat suara dentuman keras dengan meriam. Begitu juga masyarakat melakukan hal serupa ketika akan membuka lahan, hingga akhirnya mereka berpikir ini sangat menarik sekali, dan selanjutnya seperti yang kita saksikan, meriam karbit menjadi sebuah tradisi unik di Pontianak saat bulan puasa.

Jika tidak sedang digunakan untuk festival, biasanya pipa meriam ini dijadikan arena terjun bebas oleh anak-anak yang tinggal di sekitar sungai Kapuas.

Tampak Keraton Kadariah Pontianak dari depan.

Pesona Keraton Melayu Kadariah Pontianak

Sepanjang saya mengunjungi keraton—Keraton Melayu, khususnya—warna kuning dan emas menjadi simbol khas. Warna ini pertanda kebesaran, otoritas dan kemegahan, dan hanya raja dan keluarga raja (pada saat tertentu) yang boleh menggunakan pakaian berwarna kuning dan keemasan. Warna kuning keemasan juga menghiasi hampir seluruh warna di keraton, mulai dari area depan keraton, masjid, dinding dalam pada seluruh ruangan, dan singasana raja dan ratu.

Pada saat akan memasuki keraton, kami melepas alas kaki tepat di bawah anak tangga terakhir. Pemandangan dari luar sudah terlihat singasana megah khas Melayu dengan aksen warna khasnya. Selain itu, yang sungguh menarik perhatian adalah motif aklirik pada bagian pintu dan jendela keraton. Warna kaca pada jendela dan pintu justru berwarna merah dan biru, kemudian ditutup dengan tirai berwarna kuning. Pada bagian kayunya terdapat simbol bulan dan bintang yang menandakan bahwa sultan dan keluarga keraton merupakan salah satu keturunan dari Nabi Muhammad SAW. dan menganut agama Islam.

Di depan pintu masuk, para tour guide keraton duduk dengan santai dan menghampiri para pengunjung yang akan masuk ke keraton. Selama berada dalam keraton, tour guide akan menjelaskan secara rinci seluk-beluk keluarga sultan beserta keturunannya dan benda-benda yang ada dalam keraton tersebut.

Begitu memasuki pintu depan, langsung berada di ruang depan sebelum masuk pada ruang utama. Pada ruang depan berisi koleksi keraton, baik yang merupakan milik keraton ataupun hadiah dari pihak lain. Salah satu contohnya ada sebuah jam besar yang merupakan hadiah dari Bank Indonesia. Selain itu, juga terdapat beberapa guci besar hingga kecil yang menurut tour guide merupakan hadiah dari saudagar kaya dari Tinghoa yang dihadiahkan kepada sultan. Selanjutnya, pada dinding terpajang foto-foto para sultan dan keluarganya.

Ruang seni yang terdapat berbagai macam alat musik gamelan dan pakaian-pakaian kegiatan Keraton.

Masuk ke ruang utama, kita disuguhi oleh sebuah panggung dengan tenda berwarna kuning. Nampak di atas panggung tersebut terdapat dua kursi yang merupkan singasana dari sultan dan ratu Keraton selama memerintah di sana. Saat ini, menurut tour guide, sultan tidak lagi tinggal di keraton ini, sehingga keraton dijadikan tempat wisata sejarah di Kota Pontianak.

Tepat di depan Singasana pun ada dua buah cermin besar yang saling berhadapan, dan cermin ini disebut sebagai cermin seribu, karena dapat memantulkan objek banyak sekali seperti ada seribu buah objek yang sama di dalamnya.

Di samping singasana tersebut terdapat 3 pintu utama. Pada pintu sebelah kiri singasana, kita akan masuk ke dalan ruangan yang berisi alat musik seperti satu set gamelan serta beberapa lemarin kaca berisi pakaian-pakaian yang biasa digunakan oleh sultan dan keluarganya. Pada dinding-dindingnya juga terdapat beberapa figura kaca berisikan titah-titah Sultan, Sumpah Sultan, dan Pangeran Keraton. Tidak hanya itu, terdapat juga beberapa foto kegiatan Sultan sebelumnya. Selanjutnya, dua pintu yang berada di samping kanan singasana adalah ruang tidur yang terdapat tempat tidur bagi sultan dan ratu, serta ruang tidur untuk anak-anak mereka (pangeran dan putri).

Sertifikat dari Kemendibud RI untuk gambar rancangan asli lambang negara Indonesia.
Sultan Hamid II dan Lambang Negara Indonesia

Sultan Hamid II tidaklah terdengar asing bagi yang mengetahui sejarah kemerdekaan Indonesia. Ya, Sultan Hamid II atau Sultan Syarief Hamid II Alkadrie juga merupakan sultan yang menjabat di Keraton Kadariah pada tahun 1945 hingga 1950. Sultan Hamid II beristrikan perempuan Belanda, namun sayangnya tidak memiliki keturunan, sehingga pada periode setelah Sultan Hamid II selesai, digantikan oleh saudaranya, yaitu Sultan Syarief Abubakar Alkadrie. Sultan Hamid II yang saat itu juga menjabat sebagai Kepala Daerah Istimewa Kalimantan Barat pada tahun 1947 hingga 1950 menjadi tokoh penting yang membantu dalam perancangan Kemerdekaan Indonesia, salah satunya adalah dia membuat desain lambang negara Indonesia yang saat ini kita kenal, yakni Garuda Pancasila.

Dalam figura kaca yang terdapat di dinding keraton kita bisa melihat ada banyak desain dan perubahannya hingga menjadi Garuda Pancasila yang kita kenal saat ini. Namun, pada sebuah artikel yang juga terpajang di sebelahnya, terdapat sebuah potongan koran yang berisikan pesan dari Sultan Hamid II. Isi pesannya, “Jangan pernah pasang Garuda di rumah kita sebelum perancangnya diakui”. Hal ini dikarenakan sejak Garuda Pancasila telah resmi menjadi lambang negara Indonesia, Sultan Hamid II tidak dianggap sebagai perancangnya, serta bukan juga merupakan tokoh pahlawan kemerdekaan Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan saat ini? Apakah sekarang di Keraton Kadariah sudah memajang Garuda Pancasila?

Untuk mengetahuinya, yuk mampir ke Keraton Kadariah Pontianak untuk lebih tahu lagi sejarahnya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.