Menelisik Kehidupan Suku Sasak Lombok di Desa Sade dan Desa Ende

0
964
Tari Paresean di Desa Ende.

Pulau Lombok sendiri yang biasa disebut dengan Negeri Seribu Masjid ini memang sudah ada di puncak popularitas wisatawan lokal maupun internasional. Bagaimana tidak? Pantai-pantai bersih dengan warna laut yang biru ditambah gugusan bukit dan pulau disekitarnya menambah keeksotisan lanskapnya.

Ada beberapa daerah wisata di Pulau Lombok, salah satunya yang memiliki destinasi paling familiar seperti Bukit Meresse / Bukit Merisik dan Pantai Kuta, yaitu bagian Lombok Tengah. Ada banyak pantai eksotis di Lombok Tengah, diantaranya Pantai Tanjung Aan, Selong Beranak, Pantai Seger, Pantai Mawun, dan Kuta Mandalika. Nah, kali ini saya akan mengajak travelovers untuk menelisik wisata lain di Lombok, bukan melulu pantai saja.

Apabila travelovers hendak ke arah Pantai Kuta Mandalika pasti melewati dua desa tempat tinggal Suku Sasak, yaitu Desa Ende dan Desa Sade. Kedua desa ini memang sudah diolah oleh Dinas Pariwisata setempat sehingga menjadi area desa wisata.

Ada apa aja, di dua desa wisata tersebut? Yuk, simak ceritanya ya.

Desa Ende.
Pengiring Musik Saat Tari Paresean.

Memasuki area parkir Desa Ende saya sudah disambut beberapa warga dengan pakaian khas Suku Sasak, yaitu hitam-hitam. Mereka menawarkan jasa guide, namun pada waktu itu hujan deras, sehingga saya berlari mencari tempat teduh tanpa mengiyakan tawaran tersebut. Memasuki area dalam desa, terdengar suara kendang dan seperti suara terompet yang lumayan lantang, ditambah suara tepukan tangan yang berirama. Oh, ternyata sedang ada pertunjukan Tari Peresean.

Tari Peresean merupakan aksi antar dua laki-laki yang saling bertaruh dengan menggunakan ende atau perisai dari kulit kerbau dan tongkat yang terbuat dari rotan. Dua petarung tersebut ditengahi oleh seorang wasit. Tariannya merupakan tarung sungguhan dan diiringi musik lokal Suku Sasa. Lalu apabila sudah terlihat siapa pemenangnya wasit akan menyudahi tarian ini dan menggandeng kedua petarung tersebut sambil membungkuk dan berpamit. Saat itu terdapat beberapa sesi pertunjukan, uniknya bukan hanya orang dewasa yang melakukan tari, namun juga terdapat anak-anak. Dulu, selain sebagai unjuk kejantanan lelaki Sasak, tari peresehan juga sebagai ritual untuk meminta hujan.

Setelah melihat pertunjukan saya berkeliling area desa dan bercengkrama dengan anak-anak Desa Ende. Berjejeran rumah-rumah khas Suku Sasak dan juga terdapat aktivitas perempuan yang sedang menenun.

Desa Sade.
Pohon Cinta.

Tidak terlalu jauh dari kawasan Desa Ende, saya berpindah ke Desa Sade. Wah, ternyata di sini cukup ramai dan hujan sudah mulai reda. Berjajaran mobil-mobil maupun kendaraan wisatawan lainnya, rupanya desa ini ramai peminatnya.

Saya disambut oleh Bapak Yakup sebagai salah satu guide hari itu, dia berkata bahwa akan menjelaskan cerita tentang desa ini dan Suku Sasak dan meminta fee seikhlasnya. Saya iyakan saja, sudah jauh-jauh ke Lombok sangat disayangkan jika tidak mengerti tentang kehidupan Suku Sasak?

Beliau mengajak berkeliling area desa yang bentuknya seperti tangga sembari menjelaskan setiap sudutnya. Lalu beliau menuturkan bahwa dulunya cara Suku Sasak dalam memacari atau meminang adalah dengan cara diculik, tempat bertemu dua sejoli adalah di salah satu pohon yang akhirnya disebut dengan pohon cinta. Pohonnya sudah kering, tapi ternyata menjadi saksi berbagai pasangan Suku Sasak sejak dahulu. Lalu saya dibawa ke area sedikit atas dan ada satu bangunan rumah yang masih sangat original, saya diajak masuk sembari melihat interior bagian dalamnya.

Kegiatan Menguntal Kapas Menjadi Benang.

“Tradisi yang sampai saat ini kami lakukan adalah mengepel lantai dengan menggunakan kotoran kerbau”, kata Bapak Yakup. Saya langsung menunduk melihat lantainya yang terdapat serbuk seperti lumpur yang kering, ternyata itulah kotoran kerbaunya.

Setelah itu, saya berkeliling secara mandiri dan berpisah dengan Bapak Yakup dan masuk ke area serba tenun, yaitu jajaran rumah-rumah Suku Sasak yang berubah menjadi kios-kios tenun lombok. Bahkan saat itu saya melihat sendiri tata cara penguntalan benang hingga proses menenunya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.