Menegok Makam Max Salhuteru di Rancabali, Ciwidey

0
383
Patung dada Max dan makamnya.

Ada sebuah makam yang terletak di pinggir Jl. Situ Patenggang, tepatnya tak jauh dari Glamping Lakeside Rancabali. Makam itu dipagari oleh pagar besi tajam mungkin agar tidak ada yang masuk dan merusak makam. Pintu masuknya selalu dikunci. Entah siapa pemegang kunci itu, mungkin keluarga atau kerabatnya.

Tiga kali berkesempatan mampir ke makamnya saya belum pernah masuk lebih dekat ke nisannya. Saya hanya bisa berdiri di luar pagarnya. Di sekitar makam itu terdapat sebuah pohoh besar dan tinggi. Daun-daunnya membuat teduh area di sekitarnya sekaligus membuat sedikit seram karena pohon-pohon besar biasanya diasumsikan sebagai tempat tinggal makhluk halus. Itu mitos yang beredar di daerah tempat saya tinggal.

Makam itu bernisan batu marmer berwarna putih yang meskipun warnanya sudah kusam tapi kondisi makamnya bersih dan tertata. Batu-batuan disusun serapih mungkin agar tanah di sekitar makam tidak mengotorinya ketika hujan tiba. Tidak nampak ada rumput atau ilalang tumbuh subur di situ. Hanya ada beberapa ranting yang patah dan terjatuh masuk ke area dalam makam. Kontras dengan area di luar makam yang banyak terdapat tetumbuhan yang tumbuh silang menyilang dengan rumput-rumput liar.

Makam dan pohon besar yang menjadi penanda lokasi keberadaan makam.

Di atas nisannya terukir sebuah nama Maximilian Izaak Salhuteru. itulah nama si pemilik makam di pinggir jalan Situ Patenggang yang di dekatnya tumbuh pohon besar. Saya menjadikan pohon besar itu sebagai patokan lokasi makam.

Itu adalah kunjungan ketiga saya ke makam ini. Ada yang berbeda dari makam ini yaitu keberadaan patung yang masih terbalut plastik. Patung itu ditempatkan di atas nisan Max. Saya ingat pernah melihat patung dada serupa di sebuah rumah yang dulu digunakan sebagai Rumah Sakit Perkapen dan sekarang digunakan oleh SMP Perkapen di Sinumbra sana. Waktu itu sedang momotoran sama Komunitas Aleut.

Di perjalanan, kami mampir ke Sinumbra dan Pabrik Teh Sperata mengunjungi patung dada di dekat RS Perkapen. Keadaannnya memprihatinkan. Berada di sudut bangunan serta tertimpa pagar yang hampir roboh. Dikunjungan berikutnya, saya lihat patung itu berwarna hitam polos. Pernah juga patung dada itu ketumpahan cat dan tidak dibersihkan lagi. Menyedihkan! Melihat itu teman-teman Aleut menulis sebuah catatan mengenai siapa sebenarnya pria bernama Max Izaak Salhuteru yang patung dadanya dibiarkan terbengkalai begitu saja. Tulisan-tulisan itu dimuat di web Komunitas Aleut.

Unggahan Komunitas Aleut mengenai patung dan sosok Max sampai juga di telinga keluarga dan keturunan lainnya dari Max Salhuteru. Ibu Camelia Salhuteru, anak pangais bungsu (anak kedua dari terakhir) dari Max, menghubungi kami untuk bertemu. Di dalam pertemuan itu, Bu Lia, sapaan Ibu Camelia, menceritakan bagaimana sosok papi (sebutan untuk ayah) semasa hidup. Terlebih Bu Lia adalah seseorang dengan perangai yang menyenangkan.

Plakat baru yang ditempel di depan pintu masuk makam. Dulu plakat ini tidak ada.

Bu Lia dengan antusias menceritakan masa kecilnya bersama sang papi. Cerita dari beliau melengkapi pengetahuan saya tentang sosok Max. Dari buku-buku sejarah, saya hanya tahu bahwa nama Max I Salhuteru selalu dikaitkan dengan perkebunan di Tanah Priangan. Ia adalah satu dari para  Preanger Planters dari Indonesia.

Meskipun mungkin tidak seterkenal para Preanger Planter Belanda seperti seperti Bosscha, Holle, Kerkhoven, van Motman, van der Hutch, dll, tapi pria dari klan Ambon itu adalah sosok penting dalam sejarah perkebunan teh nusantara. Dia dan teman-teman pegawai perusahaan perkebunan lainnya berhasil mengambil alih aset-aset perkebunan Belanda agar menjadi milik Indonesia. Karenanya lah perkebunan teh Rancabali bisa terdengar gaungnya di dunia teh nusantara sampai ke luar negeri.

Patung dada Max dan makamnya.

Selang beberapa waktu tidak mendengar kabar mengenai Bu Lia dan keluarga, tiba-tiba dari unggahan di Instagramnya saya melihat bahwa patung dada Max Salhuteru di Sinumbra akan dibuat ulang oleh seniman I Nyoman Nuarta. Ini menjadi kabar baik! Patung dada terbengkalai itu akan diperbaiki dan diberi bentuk yang jauh lebih baik.

Tentu saja ini membuat keluarga Salhuteru bahagia, terutama Bu Lia. Itu terlihat dari foto-foto yang diunggahnya. Di foto lainnya nampak Bu Lia sedang menziarahi makam papinya. Saya ingat beliau pernah berkata tidak mau menginjakan kakinya di Rancabali karena selalu terkenang sosok sang papi. Senang bisa melihat ia memberanikan diri mengatasi ketakutannya sendiri. Dan saya lebih senang lagi karena patung itu kini telah berada di tempat yang jauh lebih baik agar kami bisa lebih mengenal seperti apa rupa sang juragan teh dari Rancabali yang mendedikasikan hidupnya untuk industri teh nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.