Mendalami Sejarah Peradaban Malang di Museum Mpu Purwa

0
233
Bagian depan museum Mpu Purwa.

Jejak sejarah wilayah Malang sudah ada sejak dahulu kala. Tepatnya saat Kerajaan Kanjuruhan mulai berdiri, Malang Raya telah menjadi sebuah entitas masyarakat yang hingga kini masih menyimpan berbagai jejak  sejarah yang patutu dipelajari. Salah satu tempat yang cukup representatif digunakan sebagai tempat belajar adalah Museum Mpu Purwa.

Museum ini sebenarnya museum yang baru diresmikan beberapa tahun yang lalu. Letaknya berada di kawasan Griya Shanta yang masih bagian dari Jalan Soekarno Hatta, tak jauh dari beberapa kampus seperti Poltek Malang dan Universitas Brawijaya Malang. Musem ini juga menjadi salah satu destinasi yang sangat sayang untuk tidak dikunjungi saat berwisata ke Malang.

Saya beberapa kali mengunjungi museum ini. Selain kunjungan yang bersifat pribadi, beberapa kali pula ada event kebudayaan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Malang yang saya hadiri di sini. Tak perlu membayar tiket masuk untuk menikmati koleksi di Museum Mpu Purwa. Pengunjung hanya perlu mengisi buku tamu dan mematuhi aturan di dalam museum seperti tidak memegang benda bersejarah yang ada di sana.

Diorama Mpu Purwa bersabda kepada penduduk desa.

Museum ini menyimpan beberapa koleksi yang menggambarkan peradaban Malang di masa lampau. Koleksi utama yang ada di museum ini adalah Prasasti Dinoyo, Prasasti Muncang, dan Prasasti Kanuruhan. Prasasti-prasasti yang menggambarkan kehidupan masa Kerajaan Kanjuruhan tersebut disimpan rapi di lantai satu.

Dari prasasti itu, diketahui bahwa dulu di wilayah Malang sudah ada peradaban yang diperintah oleh Raja Gajayana. Meski prasasti tersebut belum menggambarkan secara jelas mengenai berbagai sendi kehidupan Malang Raya masa pertengahan, tapi di dalam museum ini ada berbagai diorama yang cukup apik. Diorama ini berada di lantai dua museum.

Diorama tersebut memudahkan para pengunjung untuk memahami sejarah Malang masa lampau dengan lebih detail. Dimulai dari jejak kehidupan pertama di Malang. Lalu berlanjut dengan adanya Kerajaan Kanjuruhan dan munculnya tokoh bernama Mpu Purwa. Inilah tokoh yang dijadikan nama museum ini.

Salah satu Arca Ganesha yang telah terpotong kepalanya.

Tokoh ini merupakan ayah dari Ken Dedes yang kelak akan menjadi ratu di Kerajaan Singosari. Di dalam salah satu diorama, digambarkan Mpu Purwa sangat marah kepada penduduk di sekitarnya. Pasalnya, mereka turut membantu Tunggul Ametung yang merupakan akuwu dari Tumapel yang melarikan putrinya Ken Dedes. Akibatnya, sang empu bersabda bahwa tidak akan ada lagi sumber air yang mengalir di desa tersebut.

Selain cerita ini, ada juga cerita mengenai penusukan Mpu Gandring oleh Ken Arok yang sering diceritakan di buku pelajaran. Beberapa cerita sejarah Kerajaan Singasari dan pendirian Kerajaan Majapahit juga tergambar dalam beberapa diorama yang dirangkai secara urut. Bagi pengunjung yang awam seperti saya, melihat dan memaknai diorama yang ada di sini cukup mudah dipahami.

Selain prasasti dan diorama, Museum Mpu Purwa juga menyimpan berbagai koleksi arca. Ada sekitar 136 arca yang terdapat di museum ini. Sayangnya, beberapa arca tersebut sudah tidak lagi utuh. Beberapa diantaranya bahkan hanya tersisa bagian kecilnya saja.

Bagian depan museum Mpu Purwa.

Salah satu arca yang cukup menarik perhatian saya adalah Arca Ganesha Tikus. Arca ini merupakan salah satu arca unik karena merupakan satu-satunya arca ganesha dengan bentuk yang khas. Sang Ganesha mengendarai seeokor tikus dengan bentuk yang tak terlalu besar. Ada pula Arca Resi Guru dan Arca Dewa Siwa.

Namun, salah satu koleksi yang membuat mata saya terbelalak adalah sosok dua patung yang berada di lantai dua. Sesosok patung resi dengan tiga sosok lain yang mengelilinginya. Resi tersebut tampak memberikan mantra dan doa kepada salah satu diantara sosok di dalam diorama itu. Resi tersebut tak lain adalah Mpu Purwa. Sayangnya, tidak ada keterangan jelas pada diorama ini seperti pada diorama yang lain.

Mengingat banyaknya koleksi penting di museum ini, sudah sepantasnya kita jaga bersama agar tetap lestari. Dan yang paling penting, jika berkunjung ke Kota Malang jangan lupa untuk datang ke sini belajar memahami sejarah peradaban Malang yang sangat tinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.