Mendalami Sejarah Keris di Museum Keris Nusantara Solo

0
678
Museum Keris Nusantara.

Saat berjalan-jalan ke Kota Solo, pasti dengan semangat 45 saya akan menuju tempat bersejarah. Kota Solo yang memang bersejarah memiliki berbagai cerita masa lalu yang harus dinapaktilasi. Saat berjalan dari Stadion Sriwedari, tiba-tiba saya menemukan sebuah museum dengan gaya bangunan unik serupa bangsal dengan aneka ukiran khas batik Solo. Bangunan museum tersebut adalah museum keris yang berada tepat di Jl. Bhayangkara, Laweyan, Kota Surakarta.

Memasuki lantai pertama, saya diharuskan membayar tiket seharga Rp 7.500 dan menitipkan tas yang saya bawa ke dalam sebuah loker. Saya sangat senang dengan petugas tiket dan loker yang sangat ramah dan menjelaskan mengenai museum yang baru diresmikan tahun 2017 lalu oleh Presiden Jokowi. Ternyata, ada 4 lantai di dalam museum ini. Wah, ini pengalaman pertama saya mengunjungi museum yang memiliki banyak lantai.

Ruang Bermain Anak yang Menampilkan Game Pertarungan Keris.

Lantai pertama yang merupakan lantai dasar disebut dengan Wedharing Wacana. Selain terdapat loket tiket dan loker, di lantai pertama ini ada informasi mengenai pelopor ilmu studi keris modern. Jadi, sejak era kolonial Belanda, ilmu mengenai keris tidak hanya dipelajari secara tradisional yang biasanya berdasar spiritual atau mistik. Namun juga mulai dikaji dari aspek sains dan sosial budaya sehingga menambah khazanah budaya bangsa. Salah satu tokoh yang berinisatif melakukan kajian ini adalah KGPH Hadiwijoyo, putra dari Raja Solo, Pakubuwana X.

Pada lantai 1 juga dipaparkan mengenai pola pamor keris atau pola guratan pada keris akibat adanya logam pengotor di dalam sebuah keris. Jadi, saat pembuatannya, meskipun berbahan dasar besi atau baja, namun keris juga bisa terkontaminasi dengan logam lain. Dalam ilmu kimia, kejadian ini disebut dengan cacat kristal. Walau demikian, dengan adanya cacat kristal di dalam keris ini, membuat keris yang dibuat akan berpendar warna sesuai dengan logam pengotornya. Jadi, ia akan terlihat seperti menyala dengan warna khas tertentu.

Beberapa Keris yang Dipajang.

Puas melihat koleksi di lantai 1, saya naik ke lantai 2 yang disebut dengan Purwaning Caraka. Pada lantai ini, sesuai namanya, aneka keris pun dipajang. Beberapa dhapur dasar (bentuk dasar) keris pun ditampilkan, seperti tilam putih, spanner, dan suropati. Di bagian ini, saya juga mendapat informasi bagaimana suatu keris diturunkan dari ayah ke anak dan ke generasi berikutnya.

Ternyata, seorang anak baru bisa mewarisi keris kalau dia sudah memiliki ilmunya dan berada pada masa akhil balig (menginjak remaja/dewasa). Jadi, untuk memiliki keris, sesorang tidak begitu saja mendapatkannya. Pada lantai 2 ini juga terdapat sebuah perpustakaan mini yang menyimpan koleksi buku pengetahuan mengenai sejarah perkembangan keris. Sayangnya, perpusatakaan ini sangat sepi.

Diorama yang Menggambarkan Pembuatan Keris.

Beranjak ke lantai 3 yang merupakan ruangan Cipta Adiluhung memuat banyak diorama pembuatan keris. Di sini, aneka diorama yang menggambarkan bagaimana suatu keris diolah ditampilkan. Mulai pemanasan bilah besi, penempaan bilah besi, pembentukan keris, pemberian ornamen, dan terakhir penyepuhan. Diorama ini begitu nyata dan disertai alunan langgam jawa yang kental serta bau kemenyan yang menyengat. Meski sempat merinding, namun tahapan panjang itu benar-benar bisa masuk ke dalam pemikiran saya dan pastinya memberi pelajaran berharga. Untuk membuat sebuah keris, prosesnya tidaklah mudah.

Pada lantai 3 ini juga dipaparkan berbagai macam pola keris nusantara, mulai di Pulau Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan, dan lainnya. Khusus di Pulau Jawa, saya baru tahu jika penemuan kebudayaan keris seringkali berdekatan dengan gunung berapi. Hal ini tentu tidak mengherankan karena di sekitar gunung berapi banyak memuat aneka mineral logam terutama besi sebagai bahan dasar keris.

Museum Keris Nusantara.

Dari lantai 3 saya beranjak ke lantai 4 tempat ditampilkannya beberapa keris berbagai motif. Sayangnya, karena tak ada yang memandu, saya masih bingung dengan beberapa  macam keris yang memiliki beberapa perbedaan khusus. Namun itu tak masalah, di lantai terakhir ini saya cukup puas lantaran informasi yang saya dapat sudah saya pahami di lantai berikutnya.

Asyiknya mengunjungi Museum Keris Nusantara ini adalah adanya lift yang dapat digunakan pengunjung untuk menjejaki lantai demi lantai. Jadi, saya tak perlu risau akan kecapekan selepas naik dari lantai 1 hingga ke lantai 4. Perjalanan ke Museum Keris pun menjadi perjalanan yang istimewa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.