Mendalami Jejak Pemukiman Kuno di Candi Badut Malang

0
418
Candi Badut dengan latar Gunung Kawi.

Saya baru saja tahu bahwa pemukiman yang saya tinggali berdekatan dengan pemukiman kuno yang ada di Jawa Timur. Dari beberapa literatur yang saya baca, justru sejarah peradaban Hindu-Buddha yang pertama kali tumbuh di wilayah ini berada di sekitar Kota Malang. Ada sebuah peninggalan besar yang menjadi saksi dari sejarah penting tersebut.

Peninggalan ini adalah Candi Badut. Sebuah candi bercorak Hindu yang terletak hanya sekitar 1,5 kilometer dari rumah saya. Tepatnya, berada di Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Meski dekat dengan rumah, tetapi candi ini justru berada di perbatasan antara Kota dan Kabupaten Malang. Candi Badut juga terletak tak jauh dari beberapa kampus ternama di Kota Malang, seperti Universitas Brawijaya, ITN, UM, Ma Chung, dan UIN Malik Ibrahim.

Untuk menjawab penasaran akan cerita candi ini, saya rela bersepeda alias gowes dari rumah ke candi ini di suatu Minggu pagi. Selepas sampai di wilayah Tidar yang terkenal akan perumahan elitnya, saya pun sampai di sebuah gang menuju halaman candi. Sedikit sulit untuk menemukan candi ini karena ia terhimpit dengan kos-kosan, tempat fotokopian, dan segala denyut kehidupan kota lainnya.

Taman dan POndasi Candi yang Belum Dipugar.

Saya hanya perlu memarkirkan sepeda saya dan meminta izin kepada petugas jaga dan tentunya mengisi buku tamu. Mula-mula, saya membaca terlebih dahulu mengenai papan petunjuk informasi mengenai sejarah candi ini. Ternyata memang benar. Pembangunan candi ini diduga dilakukan oleh Raja Gajayana, seorang raja Kerajaan Kanjuruhan yang memerintah pada sekitar tahun 760 Masehi.

Kerajaan Kanjuruhan sendiri merupakan kerajaan tertua di Jawa Timur. Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa pusat kerajaan ini berada di sisi barat Kota Malang. Gajayana sendiri menjadi salah satu tokoh yang cukup dihormati oleh masyarakat Malang. Ada anggapan yang mengatakan bahwa sang raja suka melucu sehingga ia dikenal mbadhut (seperti badut) yang menjadi asal muasal nama candi ini.

Selesai membaca informasi, saya beranjak menuju bagian depan candi. Sebelumnya, ceceran arca yang tertata rapi mengelilingi pekarangan candi. Sayang, banyak bagian arca tersebut yang sudah tak utuh lagi. Saya pun bergegas menuju selasar candi yang memiliki keunikan ini.

Bagian Samping Candi Badut.

Keunikan yang dimiliki Candi Badut adalah bentuk candi yang tambun alias chubby seperti candi gaya Jawa Tengah. Padahal, Candi Badut terletak di Jawa Timur yang kebanyakan berbentuk ramping dan tinggi menjulang. Anomali bentuk candi ini bisa jadi karena Candi Badut dibangun sebelum kebudayaan Hindu-Buddha pertengahan berkembang di Jawa Timur. Maka, candi ini lebih mengadopsi gaya Jawa Tengah seperti pada candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Beberapa ahli juga mengatakan bahwa bentuk Candi Badut seperti Kompleks Candi Dieng.

Saya lantas masuk ke tubuh candi yang terbuat dari batu andesit ini. Sama halnya dengan candi yang bercorak agama Hindu lainnya, di bagian dalam ini terdapat lingga yoni yang masih cukup utuh. Lingga yoni ini tepat berada di bagian tengah ruangan dalam candi dan dikelilingi oleh relung-relung kosong. Diduga, adanya relung tersebut adalah bekas dari arca. Saat saya melihat lebih seksama, ukuran relung tersebut memang cukup pas untuk ukuran sebuah arca.

Candi Badut dengan latar Gunung Kawi.

Karena ruangan dalam yang cukup gelap, saya tak berani berlama-lama. Saya pun menuju bagian samping candi dan ternyata ada pemandangan elok yang bisa saya saksikan. Rangkaian pegunungan Kawi-Butak yang memagari Kota Malang di sisi barat terlihat cukup jelas. Bentang alam tersebut memang menjadi magnet saat berkunjung ke Kota Malang. Adanya pegunungan Kawi-Butak  juga menjadi peneguh bahwa pemukiman kuno tersebut berkembang di lereng gunung karena tanahnya yang subur.

Saya lantas turun dan menikmati taman yang mengelilingi Candi Badut ini. Taman yang juga tak kalah cantik dan menungkinkan saya memotret candi dengan latar pegunungan indah tadi. Di bagian barat taman ini, saya melihat seonggok pondasi candi yang kemungkinan akan mulai dipugar. Entah kapan pemugaran itu akan dilakukan, yang jelas mendalami makna keberadaan Candi Badut dan menyaksikan keindahan bentang alam yang mengelilinginya adalah sebuah kenikmatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.