Mendaki Hemat Tanpa Ribet ke Gunung Ungaran, Semarang

0
115
Hamparan Ilalang dan Gunung Merbabu.

Dalam mendaki gunung, sebagian orang menginginkan tantangan dalam perjalanan pendakiannya. Umumnya, gunung-gunung dengan ketinggian 3000 mdpl dikenal memiliki tantangan tersendiri untuk menaklukan medannya. Apalagi jika gunung tersebut merupakan gunung berapi dan memiliki trek berupa bongkahan-bongkahan batu besar. Pastinya, dibutuhkan usaha yang lebih untuk mencapai puncaknya. Bagi sobat travelers yang menyukai tantangan tersebut, kali ini saya akan membagikan pengalaman paket hemat mencicipi trek pendakian gunung ketinggian 2000 mdpl dengan rasa 3000 mdpl. Kok bisa? Penasaran paket hemat yang bisa kalian dapatkan? Jawabannya ada di Gunung Ungaran!

Gunung Ungaran yang dikenal sebagai atap Semarang ini merupakan sebuah gunung yang terletak di Ungaran, Kabupaten Semarang dan memiliki ketinggian 2050 mdpl. Di kaki Gunung Ungaran banyak ditemukan tempat wisata dan villa sehingga akses menuju gerbang pendakian dapat dilalui dengan mudah sehingga bisa dilalui kendaraan. Ada banyak jalur pendakian Gunung Ungaran, tapi pada artikel kali ini, saya akan menceritakan pengalaman mendaki Gunung Ungaran melalui Mawar Camp dan Promasan.

Dari Semarang, saya berangkat menggunakan motor sampai di Mawar Camp dengan perjalanan yang ditempuh selama 30 menit dari pukul 10.00 pagi. Untuk memasuki kawasan Mawar Camp, setiap orang dikenakan biaya retribusi sebesar Rp 10.000 dan biaya parkir motor sebesar Rp. 4.000.

Sembari menunggu Adzan Dzuhur dan waktu makan siang, saya beserta rekan sesama pendaki beristirahat di bangku yang disedikan. Setelah makan siang dan beribadah, kami segera membeli bekal berupa air mineral, roti, dan biskuit yang cukup untuk masuk ke dalam daypack 30 liter yang saya gunakan. Perbekalan yang saya bawa saat itu hanya terdiri dari baju ganti, jaket, jas hujan, senter, pisau, korek, makanan, serta air.

kebun teh promasan.

Setelah siap, kami memulai pendakian dari Mawar Camp. Dari Mawar Camp hingga pos pertama, jalan yang dilalui tidak terlalu terjal. Walau ada beberapa tanjakan, banyak ditemukan bonus berupa jalan yang landai.  Pemandangan beberapa puncakan dan lembah terlihat dengan jelas sepanjang jalur. Setelah berjalan sekitar satu jam, tibalah kami di pos kedua.

Pos kedua berupa air terjun kecil. Di sini para pendaki dapat mengisi perbekalan air minum sebelum melanjutkan perjalanan. Air dari air terjun ini sangat bersih dan sejuk, jadi saya sempatkan berlama-lama di sini untuk mecuci muka dan mengambil beberapa gambar. Setelah pos kedua, akan didapati sebuah tanjakan sebelum akhirnya jalur menjadi sangat landai dan tidak ditemui tanjakan hingga pos ketiga.

Pos ketiga ditandai dengan adanya shelter. Dari pos ketiga inilah terdapat percabangan jalur. Jika sobat travelers mengambil arah lurus, pendaki akan disambut jalan menanjak langsung menuju pos keempat. Sedangkan untuk percabangan ke arah kiri yaitu jalur menuju Promasan. Saya mengambil jalan ke arah kiri dan jalan yang dilalui masih tetap landai. Setelah berjalan cukup jauh dengan medan yang landai, tiba-tiba hujan turun. Beruntung saat itu kami melihat banyak bangunan di tengah hutan sehingga kami memutuskan untuk berteduh di sana hingga hujan reda.

Rupanya bangunan yang kami kira pemukiman warga merupakan Objek Wisata Sekendil yang dikelola oleh sebuah perusahaan yang menanam kopi di kawasan tersebut. Tempat tersebut cukup sepi. Akan tetapi, saat kami tiba di sana ada seorang penjaga dan pendaki yang melewati jalur tersebut dikenakan biaya Rp 5.000 per orang.

view dari puncak gunung ungaran.

Kami lalu melanjutkan perjalanan melewati kebun kopi yang luas. Medan di jalur inipun juga masih sangat landai. Tibalah kami di Kebun Teh Promasan. Kebun teh ini sangat luas dan terletak di tengah-tengah Gunung Ungaran. Kami menghabiskan banyak waktu saat melewati kebuh teh yang luas ini untuk mengambil foto. Setelah hari mulai gelap, kami turun menuju pemukiman yang berada di tengah-tengah Kebuh Teh Promasan.

Inilah alasan saya dan kawan saya tidak membawa perlengkapan camp seperti tenda, alat masak, dll. Di sini terdapat warung makan dan sering digunakan oleh para pendaki untuk menginap. Jadi, kami pun memutuskan bermalam di sini dan summit keesokan harinya. Setelah sampai, kami langsung memesan mie rebus dengan irisan cabai rawit, bakwan goreng, nasi, dan teh panas. Hidangan yang cocok untuk menemani kami beristirahat di tengah dinginnya Gunung Ungaran. Untuk harga total semua menu tersebut hanya Rp 12.000 saja lho!

Pagi sekitar pukul 04.00 kami mulai summit dari Promasan. Medan yang dilalui sangat berbanding terbalik dari sebelumnya. Jalur terdiri dari bongkahan batu-batu besar dan medan yang vertikal membuat saya harus menggunakan tangan agar bisa mendaki batu-batuan di sepanjang jalur. Jalur yang tidak kalah sulit dari Gunung Sindoro dengan ketinggian 3000 mdpl. Butuh waktu sekitar 2 1/2 jam untuk mencapai puncak.

Puncak Promasan.

Meskipun medan cukup melelahkan, pemandangan dari setiap puncak bayangan sungguh menawan. Terlihat beberapa puncak yang masih hijau lebat dan kebun teh yang sangat luas terbentang di bawahnya. Ada juga puncak berupa tebing-tebing batu yang menjulang. Padang ilalang dengan bunganya yang tinggi juga terhampar luas di sepanjang jalan menuju puncak.

Setelah puas menghabiskan waktu yang lama di puncak, kami turun menggunakan jalur menuju Mawar Camp. Tidak butuh waktu terlalu lama, kami menyusuri jalan turun dan kembali tiba di Mawar Camp. Sesampainya di sana, kami langsung menuju kolam terapi ikan yang tersedia di Mawar Camp sambil beristirahat sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.