Mencoba Wesel Alkmaar di Lawang Sewu, Semarang

0
135
Replika lokomotif yang terdapat di depan Lawang Sewu.

Traveling ke Semarang tidak lengkap rasanya jika melewatkan mampir di Lawang Sewu. Bangunan megah peninggalan bangsa Belanda ini berdiri menarik perhatian tepat di depan Tugu Muda Semarang. Siapa pun yang melintas di dekatnya pasti akan penasaran untuk berfoto di sini.

Hal umum yang dilakukan oleh pengunjung adalah berpose di lorong atau di depan pintu yang jumlahnya seperti tiada habisnya itu. Padahal di balik bangunan itu, pengunjung bisa memperoleh informasi sejarah masyarakat Semarang dan sekitarnya pada masa perjuangan. Salah satu sejarah yang berharga adalah masa keemasan perkeretaapian di Indonesia. Pada masa itu sebagian besar kereta api dan mesin pendukungnya merupakan buatan Jerman.

Untuk bisa menikmati sejarah ini secara utuh, sebaiknya pengunjung memanfaatkan jasa guide yang menemani berjalan-jalan. Banyak orang yang mengesampingkan peran seorang guide di dalam tempat wisata. Padahal dari merekalah kita bisa menggali informasi yang lebih detail, hal-hal yang terlewatkan dan tidak terekspos di media. Dengan tutur mereka yang pandai bercerita, tentu saja belajar sejarah akan lebih menarik daripada membaca buku. Bahkan kisah-kisah yang berbau mistis akan menambah daya imajinasi kita terhadap Lawang Sewu.

Museum Lokomotif Bagian Barat
Sebaiknya pengunjung memperhatikan petunjuk arah ini.

Pada bagian ini terdapat beberapa foto lawas hitam putih yang memotret kehidupan perkeretaapian pada saat itu. Seperti kondisi lokomotif uap, perbaikan rel menggunakan alat sederhana, suasana stasiun kereta api jaman dahulu, dan masih banyak lagi. Meskipun tanpa memiliki keterangan lengkap, aura yang disebarkan oleh foto-foto itu bisa tertangkap jelas. Sejalan dengan ungkapan biarlah gambar yang berbicara.

Di beberapa sudut terdapat semacam poster yang menjelaskan sejarah lokomotif uap dan penggunaannya. Misalkan dijelaskan bahwa pada masa itu, karena keterbatasan teknologi. Kereta masih melaju pada kecepatan di bawah 60 km/jam. Suatu kondisi yang menggelikan untuk ukuran saat ini.

Selain itu terdapat juga benda-benda memorabilia yang berhubungan dengan kereta api, misalkan pelubang tiket, topi masinis, alat hitung Friden, alat pencetak tanggal di tiket, stempel bagasi, serta telepon kayu yang berdesain klasik.

Juga terdapat banyak miniatur lokomotif dari masa ke masa. Bentuknya yang kecil dan detail sangat layak untuk dijadikan koleksi. Pada bagian ujung utara terdapat pula ruang audiovisual yang menyajikan sejarah lokomotif secara lengkap yang bisa dinikmati oleh pengunjung berbagai usia.

Jika kalian terus menuju ke arah utara, terdapat gedung perpustakaan yang menyimpan cetak biru bangunan Lawang Sewu. Dengan cetak biru ini maka generasi selanjutnya dapat merenovasi gedung dengan mudah berdasarkan dokumen yang berharga ini.

Museum Lokomotif Bagian Timur
Mesin pencetak tiket yang berusia hampir 200 tahun.

Pada ruang aula ini, kalian bisa menyaksikan tahapan pembangunan Lawang Sewu. Mulai dari perencanaan, persiapan bahan-bahan, proses dari nol sampai dengan renovasi bangunan lawas yang sudah membahayakan pengunjung.

Di sebelah timur, terdapat koleksi bahan utama pembuatan Lawang Sewu. Seperti batu bata dan beberapa jenisnya. Selain itu dipamerkan juga berbagai ramuan untuk membuat kayu tetap awet berpuluh-puluh tahun lamanya. Bangunan jaman dulu memang memiliki standar yang tinggi perihal kekuatan dan keawetannya.

Ruangan ini memiliki maskot yaitu Tuas Wesel Alkmaar. Yang berfungsi untuk menggerakkan wesel (rel bercabang) dan palang sinyal secara manual. Karena hanya menggunakan kawat dan rel, maka pengunjung bisa membayangkan betapa beratnya pekerjaan ini. Pengunjung diperbolehkan untuk mencobanya.

Selain itu juga terdapat mesin untuk mencetak tiket kereta api Edmonson yang sudah berusia lebih dari 150 tahun. Mesin ini menggantikan pembuatan tiket yang harus ditulis dengan tangan. Sehingga mempermudah pekerjaan petugas tiket pada masa itu.

Sebenarnya masih banyak sejarah yang bisa dijelahi di tempat ini. Namun membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Itulah yang bisa kalian dapatkan ketika mengunjungi Lawang Sewu selain foto yang biasa. Untuk memasuki Lawang Sewu pengunjung akan dikenakan tarif sebesar Rp 10.000 saja per orang. Tiket yang kalian dapatkan jangan sampai hilang sebelum memasuki pos pemeriksaan. Karena jika hilang, tentu saja petugas menganggap kalian belum membayar biaya masuk.

Sebelum memasuki bangunan utama, sebaiknya kalian mempelajari dulu peta yang terdapat di sebelah selatan penjualan tiket. Dengan demikian kalian bisa mendapatkan gambaran yang jelas tempat apa saja yang akan dilewati. Sehingga dapat menghemat tenaga dan waktu secara efektif untuk berjalan-jalan di lorongnya yang megah nan banyak cerita itu.

Oh ya, Kota Semarang memiliki suhu yang tinggi, jadi pastikan kalian membawa air minum yang cukup agar tidak dehidrasi. Selain itu, karena ruangan sebagian besar ada yang gelap, pastikan kalian membawa kamera yang bagus untuk kondisi low light.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.