Mencoba Kue Kesukaan Soekarno di Kota Seribu Kue

0
297
Kue Pelite.

Muntok? Pasti sangat asing terdengar di telinga travelovers! Saya pun begitu ketika tahu bahwa Muntok menjadi salah satu jalur yang saya singgahi ketika perjalanan dari Palembang menuju Bangka. Namanya sendiri saya baru dengar pertama kali tanpa pernah tahu sebelumnya . Ternyata, kota ini menyimpan banyak sejarah, loh!

Setelah menaiki kapal dari Tanjung Api-Api, Palembang sekitar 4 jam, kemudian saya sampai di Pelabuhan Tanjung Kalian, Kota Muntok, dan saat itu keadaan sudah gelap. Muntok sendiri merupakan kota yang letaknya paling barat di Bangka. Nah, keesokan paginya saya mulai mencari tahu ada apa aja di kota kecil ini?

Setelah mengobrol dengan pemilik homestay, saya diberi tahu bahwa di Muntok ini merupakan tempat pengasingan Presiden Soekarno pada tahun 1948/1949, Soekarno diasingkan bersama Bung Hatta, Mr. Assat, Komodor Suryadarma, Mr.A.G Pringgodiggo, Sutan Syahrir, Haji Agus Salim, dan Com. Suryadarma. Nah, masa pengasingannya sendiri selama kurang lebih 2 tahun, dan awalnya Soekarno diasingkan di area dataran tinggi Menumbing, lalu karena ia suka bermasyarakat, maka dipindahkan ke area kota yang dekat dengan masyarakat.

Namun, beberapa pejuang proklamasi tetap di Menumbing termasuk Wakil Presiden Muhammad Hatta, jadi bagi dua kelompok begitu ada yang di Menumbing, ada juga yang di kota. Karena berada diperkotaan dan sering berinteraksi dengan masyarakat, Soekarno banyak mencoba makanan lokal Muntok dan beliau sangat suka dengan satu kue bernama Kue Pelite.

Pilihan Berbaga Jajanan Kue.
Apa sih kue pelite itu?

Saya langsung bertanya pada petugas homestay saat itu, Mas Konrianto, di mana tempat berjualan kue kesukaan Soekarno tersebut dan ia menjawab tepat di depan Masjid Jami’ Muntok dan Klenteng Kong Fuk Miau, yang ternyata hanya ada ketika pagi saja. Saat itu masih pukul 06:00, dan saya langsung bersiap untuk mencari kue pelite itu.

Sampai di lokasi ternyata sudah ramai dan saya berdesakan dengan ibu-ibu lainnya. Kedai kue tersebut juga menyajikan banyak sekali jajanan pasar dan kue-kue tradisional. Di antara banyaknya kue-kue, akhirnya saya menemukan kue pelite! Tak lupa saya membeli beberapa jajanan lain yang tidak ada di Jawa, seperti kue rangai kelapa dan makanan lakso. Kue dan makanan di sini bermacam-macam dengan harga rata-rata Rp. 1.000 saja!

Jajanan Khas Muntok.

Saya melipir mencari warung kopi yang buka di pagi hari ternyata tak jauh dari area kedai kue tradisional tersebut ada! Wah… sarapan kue dan kopi adalah ide yang bagus untuk memulai hari di Kota Muntok ini. Saya mulai mencoba kue berbungkuskan daun pandan yang dibentuk kotak dan berisi kue kenyal bertekstur basah bewarna putih ini. Yum! Sangat legit. Teksturnya memang kue basah, tapi ketika sudah sampai di mulut, terasa sangat lembut dan manis.

Kue pelite sendiri merupakan olahan tepung beras, santan, serta gula putih. Rasa yang paling dominan adalah aroma dari daun pandannya yang berperan sebagai pembungkusnya. Saya menyesal sih cuma beli satu, seandainya bisa tahan berhari-hari, pasti akan saya bawa pulang sebagai oleh-oleh!

Nah travelovers, pantas saja Kota Muntok ini dijuluki sebagai kota seribu kue, karena memiliki banyak macam kue tradisional dan jenisnya yang mencapai 217 macam. Julukan ini disematkan ketika diadakannya Festival 1000 Kue Muntok pada tahun 2010 silam. Selain banyak macamnya juga memiliki cita rasa yang luar biasa. Kalau berkunjung ke Muntok jangan lupa coba kue kesukaan Soekarno dan berbagai macam kue khas Muntok lainnya ya travelovers!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.