Mencicipi Mie Ongklok Khas Wonosobo

0
273
Sajian satu porsi lengkap Mie Ongklok.

Apa yang kalian lakukan jika hujan sedang turun? Di antara kalian pasti ada yang menjawab memakan makanan yang hangat seperti mie misalnya. Makan mie di tengah cuaca dingin dengan suasana hujan di luar memang sangat cocok dan patut dicoba. Kuah rebusan mie yang hangat menjadi alasan utama mie menjadi makanan favorit di saat cuaca kurang bersahabat. Apalagi mie merupakan makanan lumrah di Asia terutama Indonesia jadi mudah ditemukan di mana-mana.

Nah, kalau sedang di Wonosobo, hidangan mie perlu masuk dalam list makanan yang patut dicoba di kala hujan atau ketika cuaca dingin sedang melanda. Wonosobo merupakan kabupaten yang memiliki cuaca dingin karena wilayahnya yang diapit oleh dua gunung besar, yakni Sindoro dan Sumbing. Tidak aneh bila mie menjadi salah satu makanan andalannya. Salah satu mie legenda dan tradisional khas Wonosobo adalah mie ongklok. Mie ini sangat direkomendasikan ketika berkunjung ke Wonosobo dengan Dieng sebagai wisata andalannya.

Mie ongklok sekilas terlihat mirip dengan mie ayam yang biasa dijajakan pedagang gerobak di pinggir jalan. Namun jangan salah, mie ayam dan mie ongklok sangat berbeda, terutama di bumbunya.

Warung pinggir jalan juga tak kalah dengan restoran.

Mie ongklok memiliki bumbu khasnya. Bumbunya terdiri dari daun kucai, tepung kanji, potongan kol dan bumbu-bumbu dapur lainnya. Yang menjadi ciri khas dari mie ongklok selain dari bumbunya adalah cara penyajiannya. Sebelum dihidangkan di atas semangkuk mie, ongklok dijadikan sebagai tempat merebus mie. Ongklok adalah sejenis anyaman bambu berbentuk seperti sendok besar. Jadi tak heran jika mie ini dinamakan mie ongklok.

Setelah dihidangkan di meja, pelengkap hidangan disajikan seperti tempe kemul khas Wonosobo, sate sapi dan cireng (cireng khas Wonosobo lebih besar dari cireng biasanya). Inilah yang membedakan mie ongklok dengan mie ayam pada umumnya. Jika mie ayam menggunakan potongan ayam kecil-kecil, mie ongklok menggunakan sate yang baru saja dibakar oleh pedagangnya. Sebenarnya sate ini bisa ditambahkan sesuai selera. Sebelum memasak mie ongklok, si pedagang biasanya akan menanyakan ke pembeli apakah mau menambahkan sate atau tidak.

Harga satu porsi mie ongklok tidak jauh berbeda dengan mie ayam yang biasa kita beli, kurang lebih 10 ribu rupiah saja untuk satu porsi tanpa sate dan tempe kemul atau cireng. Sementara harga masing-masing tempe kemul dan cireng hanya 500 rupiah saja.

Edisi pelengkap rasa, tempe kemul dan cireng jumbo.

Hambar rasanya jika jalan-jalan ke Wonosobo tidak mencicipi mie ongklok karena mie yang satu ini jarang dijumpai di daerah selain di Wonosobo. Hal ini berbeda dengan bakso Malang, bakso Solo atau mie ayam. Padahal rasanya juga tak kalah lezat. Beberapa orang sampai ketagihan mencicipi mie ongklok seperti saya.

Mie ongklok mudah dijumpai jika kita berkunjung ke Wonosobo, mau warung pinggir jalan dengan gerobaknya atau restoran rumahan. Tinggal menyesuaikan budget saja. Jika ingin murah, tentu saja warung pinggir jalan menjadi pilihan yang tepat. Tapi, jika ingin yang lebih berkelas, tentu saja restoran menjadi pilihannya. Sementara untuk rasanya, saya kira tidak jauh berbeda karena bumbu yang digunakan pun sama.

Sayang sekali, mie ongklok tidak seterkenal bakso Malang atau masakan Padang di mana mudah dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Padahal mie ongklok juga tak kalah istimewa dengan masakan-masakan Indonesia lainnya. Inilah tugas Pemerintah Indonesia dengan pemerintahan barunya yang perlu untuk menjaga, melestarikan dan mengenalkan makanan tradisional khas Wonosobo yang jarang diketahui masyarakat luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.