Mencecap Kesegaran Soto Bangkong Semarang di Pagi Hari

0
412
Hidangan soto bangkong lengkap dengan nasi dan lauk-pauk.

Soto Bangkong Semarang memang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. H. Soleh Soekarno dan istrinya merupakan orang yang berada di balik lahirnya soto legendaris ini. Keduanya sebenarnya bukan berasal dari Semarang, melainkan dari Solo. Mereka merantau ke Semarang pada tahun 1946, kemudian mendirikan soto legendaris ini di sana. Perlu diketahui bahwa mereka ke Semarang berjalan kaki lho dari Solo! Mereka berjalan selama kurang lebih tiga hari tiga malam. Luar biasa sekali ya?!

Awalnya, soto Bangkong ini tidak memiliki kedai tetap. Soto ini dijual sambil berkeliling oleh H. Soleh Soekarno dengan menggunakan pikulan yang berisi kuah dan isian soto ayam. Selama lima tahun, Pak Karno menjajakan sotonya hingga sekarang memiliki kedai dengan banyak cabang di Semarang. Hal itu merupakan buah kesuksesan dan kegigihan dari Pak Karno.

Untuk penamaan soto legendaris ini berasal dari pelanggannya. Ternyata, nama ini membawa keberkahan tersendiri bagi usaha soto yang dirintisnya. Awalnya hanya menggunakan nama Soto Pak Karno hingga pelanggan menyarankan untuk menggunakan nama Soto Bangkong. Padahal, kata Bangkong dalam bahasa Jawa memiliki arti yang kurang berkenan. Namun, jika kalian sedang makan soto ini, sebaiknya tidak mengingat arti namanya. Yah, Bangkong dalam Bahasa Jawa berarti kodok besar. Meskipun berarti kodok besar, soto ini tidak menggunakan daging kodok ya. Dagingnya tetap daging ayam. Penamaan ini karena dikaitkan dengan letak kedai soto Bangkong, yakni berada di perempatan Bangkong, Semarang.

Semangkok soto bangkong.

Mengapa pelanggan masih suka soto legendaris ini meskipun sudah berpuluh-puluh tahun berdiri? Yap, tentu rasanya yang masih bisa dipertahankan hingga sekarang. Hal yang membuatnya disukai adalah kecapnya yang khas karena dibuat sendiri sehingga tidak terlalu kental. Daging ayam kampung yang digunakan juga membuat rasa soto Bangkok semakin gurih dan khas. Sebelum dimasukkan ke dalam mangkok, daging ayamnya disuwir-suwir dalam ukuran kecil agar tidak alot.

Pada dasarnya, soto bangkong ini disajikan dalam mangkok berukuran kecil. Kuahnya berwarna bening, tetapi memiliki rasa yang khas. Saya cenderung menyukai jenis soto dengan kuah bening seperti ini karena tidak ada minyak kuning yang mengambang di permukaan kuah. Dalam satu porsi soto, isinya meliputi irisan tomat, tauge, bawang merah, bawang putih, irisan ayam, dan bihun. Sementara itu, untuk menu lainnya sengaja disajikan di atas meja agar bisa disantap langsung dengan soto segar ini. Lauknya ada sate telur puyuh, sate kerang, sate ampela, dan tempe.

Perkedel tempe.

Tempe disajikan dengan nama yang unik pula, yaitu perkedel tempe. Bentuk tempenya panjang, sekitar 10 cm dan gemuk-gemuk. Perkedel tempe ini bukan seperti kentang yang dibuat perkedel. Tempe ini hanya digoreng dengan balutan tepung sehingga terasa sangat krispi dan gurih. Kalian patut mencobanya meskipun harga sepotong tempenya mencapai Rp 5.000.

Jika kalian tidak menyukai menu soto Bangkong, kalian bisa memesan menu lainnya, seperti ayam semur, ayam goreng, dan garam asem ayam. Semuanya enak! Namun, jika kalian baru kali pertama ke kedai ini, wajib rasanya untuk memesan soto Bangkong lengkap dengan lauk-pauknya yang menggoda.

Untuk mendapatkan semangkok soto bangkong yang segar ini, kalian harus datang ke Jalan Brigjen Katamso No.1. Lebih tepatnya, kedai ini terletak di sebelah Kantor Pos Semarang di Perempatan Bangkong yang sudah berubah nama menjadi Brigjen Katamso. Semangkok soto ini harganya Rp 15.000 — Rp 25.000. Sangat terjangkau, bukan, untuk mencecap soto legendaris ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.