Mencari Kerbau Bule di Pasar Bolu, Toraja

0
1295
Kerbau Bule di Pasar Bolu.

Berkat informasi dari seorang pria yang mendekati saya di Terminal Kedatangan Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, saya bersyukur bahwa saya datang di hari yang tepat ke Tana Toraja. Dia berpesan agar saya ke Pasar Bolu di Rantepao untuk melihat pasar hewan. Itu khas Toraja yang cuma ada pada hari Selasa dan Sabtu.

Oke, ini informasi baru yang sangat berguna. Saya langsung terbayang kerbau bule yang diceritakan banyak artikel tentang pasar hewan di Toraja ini. Jarang-jarang bisa melihat kerbau berkulit albino kalau bukan di pasar hewan. Tak sabar rasanya menanti pengalaman baru yang bakal saya jumpai dalam solo traveling perdana ke Tator, sebutan lain Tana Toraja.

Begitu tiba di Tator pagi-pagi, saya lansung mencari tempat penyewaan motor. Sekali lagi saya pastikan tentang hari pasar ini kepada kakak pemilik rental motor. Dia mengiyakan, bahkan menyarankan untuk ke Pasar Bolu dulu pagi itu, sebelum ke tempat-tempat lain yang ingin saya lihat di Toraja. Saya setuju, karena sekalian pingin cari sarapan.

Segera saya melajukan motor ke arah Pasar Bolu. Jalanan terkesan ramai, entah memang sudah biasa, atau karena hari pasar. Setelah memarkirkan motor, saya masuk ke area pasar yang jalanannya aspal. Tampak para pedagang sayur, buah, bumbu dapur, dan peralatan rumah tangga, di bagian luar pasar.

Kemudian saya melihat warung nasi, dan mampir. Sambil menikmati sarapan nasi putih dan ikan bakar, saya bertanya di mana pasar hewan. Ah, ternyata sudah dekat.

Kerbau di Pasar Bolu.

Setelah makan, saya segera menuju jalan yang mengarah ke pasar kerbau. Tinggal lurus saja dari tempat saya makan.

Setelah beberapa meter berjalan kaki, sudah terlihat beberapa kerbau dalam lahan berpagar kayu jarang-jarang. Makin dekat, makin banyak kerbaunya. Semua seolah sedang berbaris rapi. Seketika saya melihat seekor kerbau yang warnanya beda sendiri. Kalau yang lain cenderung hitam atau cokelat, yang satu ini persis seperti orang barat berambut pirang. “Itu kerbau bule!“, seru saya dalam hati. Langsung saya keluarkan kamera.

Di hari biasa, pasar ini layaknya pasar tradisional yang menjual kebutuhan dapur. Tapi khusus Selasa dan Sabtu, ada tambahan aktivitas di kawasan yang juga merupakan terminal bus ini. Di bagian belakangnya ada areal cukup luas yang dipenuhi ratusan ekor kerbau.

Pasar hewan ini juga dikenal sebagai pasar kerbau, lantaran didominasi oleh kerbau yang berasal dari Toraja dan berbagai daerah di sekitarnya. Baru kali itu saya melihat begitu banyak kerbau dalam satu tempat. Dari yang berbeda ukuran, sampai yang berbeda warna kulit, semua jadi satu.

Tentunya kerbau-kerbau itu tidak dibiarkan sendiri. Ada pemiliknya yang ikut menemani meskipun kerbaunya dalam keadaan terikat.

Kerbau Bule di Pasar Bolu.

Harganya beragam. Angka Rp. 45.000.000 terucap dari salah seorang yang saya tanyai tentang harga seekor kerbau hitam yang bobotnya sangat besar di mata saya. Sampai segan mendekat saking besarnya. Harga ini sama seperti kerbau bule yang saya lihat tadi, dengan ukuran sedikit lebih kecil. Entah seperti apa transaksinya, konon kerbau bule dengan corak tertentu bisa dibandrol hingga ratusan juta oleh pemiliknya.

Saya sengaja berkeliling dulu, sebelum melihat kerbau bule itu dari dekat. Di sisi lain, berjejer kerbau berukuran biasa dengan warna gelap. Semuanya dalam keadaan berdiri dan terikat. Sebagian ada juga yang ditaruh di semacam kandang sambil diberi makan. Ada beberapa kerbau bule lagi yang saya lihat, tapi belang, tidak di seluruh tubuh seperti yang pertama tadi.

Siapa saja bisa mendatangi pasar ini. Pengunjung dipersilahkan berkeliling mencari yang disuka, atau sekadar lihat-lihat seperti saya dan beberapa turis asing yang saya jumpai pagi itu. Saya percaya kami sama-sama asyik mengelilingi pasar sambil memperhatikan langkah, jangan sampai menginjak kotoran kerbau yang bertebaran bak ranjau.

Inilah salah satu pesona budaya Tana Toraja. Kerbau menjadi hewan peliharaan yang sangat berharga hingga dibuat pasar khusus. Daging hewan ini biasa dinikmati untuk upacara kematian.

Transaksi Babi di Pasa-Bolu.

Sebenarnya bukan hanya kerbau yang bisa dilihat di hari pasar ini. Di bagian pinggir dan tidak terlalu luas, ada juga barisan pedagang babi. Berbeda dengan kerbau yang dibiarkan berdiri bebas, babi-babi berwarna hitam itu dibaringkan dengan kaki terikat. Sebagian yang baru datang saya lihat dikarungi satu-satu di mobil bak terbuka. Bagi yang pingin lihat, karungnya dibuka oleh pemiliknya, lalu dimasukkan lagi kalau tidak berminat.

Pagi itu, ada beberapa kali saya melihat motor yang pengendaranya memboncengi babi dalam posisi tidur. Saya sempat kaget sendiri di motor karena baru kali pertama melihat hal seperti itu.

Saya tidak sempat bertanya berapa harga babi-babi itu. Saya belum terbiasa berdiri di dekat babi dengan jumlah sebanyak itu, sehingga hanya melihatnya dari jarak jauh. Tapi, seperti juga kerbau, ini hewan berharga di Tana Toraja. Selain sebagai makanan sehari-hari, dagingnya selalu disajikan pada pesta pernikahan.

Katanya, ada juga pedagang ayam di bagian lain pasar ini, tapi saya tidak sempat melihat. Entah ada hewan apa lagi yang bakal dijumpai seandainya saya berkeliling lebih jauh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.