Menapaki Keindahan Gunung Rinjani via Jalur Timbanuh

0
598
Tampak Puncak Orplas Rinjani.

Gunung Rinjani tiada habis untuk dieksplor keindahannya. Dari arah timur, barat, utara, maupun selatan akan tetap indah. Kali ini saya bersama lima kawan berkesempatan menapaki Gunung Rinjani dari desa Timbanuh arah selatan kaki Gunung Rinjani.

Rinjani memang memiliki banyak jalur untuk mendakinya. Ada 4 jalur resmi dan 1 jalur adat. Namun, jalur Timbanuh sangat jarang dilalui oleh para pendaki lantaran tidak begitu terkenal atau tidak banyak yang eksplor. Jalur Timbanuh dinamakan seperti nama desa tepat ia berada di Desa Timbanuh. Perbedaan jalur Timbanuh dengan empat jalur Rinjani ialah memiliki puncak tersendiri.

Rinjani memang gunung yang memiliki tiga puncak. Puncak tertinggi bisa dilalui melalui jalur Senaru dan Torean dengan melewati Danau Segare Anak terlebih dahulu. Namun, jalur Sembalun sendiri tidak perlu melewati danau sama halnya dengan jalur Timbanuh.

Jalur Hutan Timbanuh.

Jalur Timbanuh memang sangat berbeda dari jalur biasanya, memiliki Puncak sendiri bernama puncak Orplas dengan ketinggian 3200 mdpl. Sedangkan puncak Tusuk Gigi memiliki ketinggian 3100 mdpl. Inilah perbedaan puncak yang akan kita temui melalui jalur Timbanuh dan jalur Rinjani bagian Selatan.

Bersama enam orang kawan dari berbagai daerah, ada yang dari Jawa Timur seperti Lamongan, Cepu, dan Lombok sendiri. Berangkat sepagi subuh dari kota Mataram menuju Desa Timbanuh Kecamatan Pringgesela Kabupaten Lombok Timur. Kami berenam sudah menaiki roda empat. Selama tiga jam perjalanan, kami sampai di desa Timbanuh. Desa Timbanuh terletak di bawah lereng kaki Gunung Rinjani bagian selatan.

Desa Timbanuh sendiri memilki ketinggian 700 mdpl. Sesampai kami di desa Timbanuh pada pukul 09:30 WITA, kami berenam memesan tiket masuk Rinjani dengan menunjukkan perlengkapan kepada petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) yang ada di Desa Timbanuh. Salah satu petugas memeriksa peralatan yang kami bawa. Baik dari snack, pakaian, tenda, alat memasak, dan plastik minuman. Semua didata oleh petugas BTNGR Timbanuh setelah memenuhi persyaratan untuk mendaki Rinjani via Timbanuh selama 3 hari 2 malam lamanya. Untuk retribusinya, kami membayar Rp. 15.000 saja untuk tiga hari dan Rp. 10.000 per orang sebagai asuransi jiwa dari pihak BTNGR. Setelah melakukan registrasi, kami langsung memulai perjalanan menuju Rinjani.

Tampak Danau Segare Anak dari Pelawangan Timbanuh.

Kami berjalan menuju pos 1 Timbanuh melewati hutan yang lebat, membuat kami berenam tidak merasakan terik panas sinar matahari. Berjalan menanjak selama 2 jam lamanya, kami akhirnya tiba di pos 1 Timbanuh. Keadaan perut yang lapar, kami langsung memasak barang bawaan untuk mengisi energi menuju pos 2 untuk bermalam di sana. Keadaan yang sudah hampir maghrib ketika kami tiba di pos 2, kami langsung mendirikan tenda dan bermalam di pos tersebut.

Esok paginya setelah sarapan, kami sudah packing dan siap menuju pos 3. Selama 3 jam perjalanan di dalam hutan Timbanuh, kami banyak menemukan bekas galian babi hutan. Menurut Pak Putri, penjaga pos pendakian Timbanuh, babi hutan mencari cacing di malam hari. Maka dari itu, disarankan untuk para pendaki agar tidak berjalan pada malam hari. Sesampainya di pos 3 Timbanuh, kami langsung mendirikan tenda tepat pukul 11:30 WITA. Setelah memasak, kami langsung menuju pelawangan dengan membawa snack dan kamera untuk memotret sunset di atas Pelawangan Timbanuh. Karena setelah gempa Lombok, tidak disarankan untuk para pendaki menuju puncak.

Pada perjalanan menuju Pelawangan Timbanuh, kami melewati padang savana yang luas membentang. Terdapat satu pohon cemara besar dan tinggi menjulang di tengah padang savana. Di bawah pelawangan Timbanuh, kami menemukan banyak bunga eidelweis yang sedang bermekaran. Bukan hanya bunga eidelweis, kami juga menemukan pohon stroberi hutan sedang berbuah, terasa sangat manis.

Tampak Puncak Orplas Rinjani.

Sesampainya di Pelawangan Timbanuh, kami beristirahat dan berdoa mengucap rasa syukur karena Tuhan telah menciptakan Rinjani dengan kemegahannya. Sungguh indah Rinjani sore itu, keadaan kaki yang letih terbayar sudah ketika melihat biru air Danau Segare Anak. Di sebelah timur, kami dapat melihat puncak Orplas yang tinggi kokoh. Sesekali, kami mendengar suara longsorang dari pelawangan Senaru akibat gempa Agustus tahun lalu.

Pada pukul 18:20 WITA, hawa dingin mulai merasuk dalam kulit kami, karena kami tidak bergerak. Maka, kami memilih untuk turun ke pos 3 untuk bermalam di sana. Esok paginya, kami bergegas pulang dengan membawa kenangan baru di Gunung Rinjani. Berjalan selama 5 jam, kami sudah sampai pos BTNGR dengan selamat.

Sampai jumpa Rinjani, lain kali kami akan menyambangimu lagi dengan suka cita. See you again Rinjani!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.