Menapaki Gunung Slamet dari Sisi yang Berbeda

0
1017
Puncak Gunung Slamet.

Pagi itu sekitar pukul 08:00, saya bersama teman melakukan packing untuk bersiap-siap melakukan perjalanan menuju Gunung Slamet via Baturaden. Kami menaiki motor ke Baturaden dari kosan yang terletak di daerah Arcawinangun dekat Kampus Unsoed. Berdasarkan hasil googling, kami mendapat informasi kalau menuju ke basecamp Slamet via Baturaden harus menuju ke Kebun Raya Baturaden terlebih dahulu, maklum kami berdua memang belum pernah sama sekali menaiki Gunung Slamet via Baturaden, jadi masih miskin informasi.

Sesampainya di depan pintu gerbang Kebun Raya Baturaden, berdasarkan info dari penjaga, jika ingin naik ke Gunung Slamet via Baturaden, maka harus melakukan laporan terlebih dahulu ke contact person yang diberikan. Setelah itu, kami langsung masuk ke kebun raya dan berhenti di suatu tempat yang kami kira merupakan basecamp. Pada tempat itu terdapat rumah kayu, di mana ada orang laki-laki memberhentikan kami, lalu berkata, “Mas, harus menghubungi Radenpala dulu. Sedangkan basecamp Radenpala bukan di sini, melainkan di Hotel Kemangi, itu terletak di dekat Lokawisata Baturaden.”

Mau tidak mau, kami harus keluar lagi dari kebun raya. Namun, setelah kami cari-cari tidak ada yang namanya Hotel Kemangi. Kami sempat berpikir bahwa kami dijahili, namun setelah kami cari tahu lagi, ternyata yang benar adalah Hotel Kemuning. Setelah sampai, kami diberikan lagi nomor Mas Rio, yang akan membantu kami untuk mendaki Slamet via Baturaden. Akhirnya kami bertemu dan diantar ke tempat yang terdapat rumah kayunya tadi. Setelah itu, motor kami dititipkan kepada Mas Rio dan kami melanjutkan pendakian menuju Gunung Slamet.

Memulai Pendakian

Pemandangan dari Jalur Pendakian.

Jalur yang berada di Baturaden ini memang benar-benar masih tertutup, dalam artian masih banyak tanaman-tanaman yang menghalangi langkah kaki. Pohon-pohonnya pun masih terbilang asri, suara kicauan burung terdengar dimana-mana. Bahkan, ketika perjalanan dari basecamp menuju puncak, kami tidak bertemu dengan siapapun, tidak ada pendaki lain di jalur ini, hanya ada kami berdua. Sungguh nikmat pendakian yang sangat tidak boleh didustakan kala itu. Pada jalur ini terdapat lima pos, pada setiap pos memungkinkan untuk mendirikan tenda, karena terbilang lumayan luas. Namun, menurut pos yang paling luas adalah pos 4 dan pos 5, saya perhitungkan di sana bisa membangun hingga 5 tenda.

Oh iya, hati-hati jika ingin mendaki lewat Baturaden, karena jalurnya yang terbilang tertutup dan lembab, maka akan banyak lintah yang menempel di kaki kalian. Sebaiknya memakai sepatu dan celana panjang agar terhindar dari hisapan lintah. Namun, jika terlanjut menempel, bisa dibakar saja lintahnya agar bisa lepas dari kaki.

Mata air di jalur ini terdapat di pos 2. Mas Rio menyarankan kami untuk berkemah di pos 4 saja, namun karena kami sudah kelelahan, maka kami mendirikan tenda di pos 3, sekitar pukul 20:00 kami sudah sampai di pos 3 dan mendirikan tenda untuk beristirahat. Pada saat itu cuaca cerah sekali, bintang bertebaran di mana-mana, bulan nampak begitu memperlihatkan cahayanya, dan tidak ada pendaki lain selain kami. Begitu sunyi, begitu sepi.

Kami pun bangun untuk melanjutkan pendakian pada pukul 02:00 untuk menuju puncak. Masih ada pos 4 dan 5 yang harus disambangi. Pada pos 4, kami menemukan mata air lagi, sedangkan di pos 5, jalurnya belum terlalu terbuka. Namun, setelah melewati pos 5, batas vegetasi sudah terlihat, di sana terdapat tanda dua bendera basarnas berwarna merah dan biru. Ternyata jalur untuk menuju puncak dipenuhi oleh bebatuan dan pasir. Wow! Saya merasa merinding pada saat itu, terlebih hanya kami berdua pada saat itu.

Pemandangan dari Puncak Gunung Slamet.

Akhirnya setelah summit menerjang jalur bebatuan dan climbing dengan sangat melelahkan, kami akhirnya sampai di puncak! Terlihat di jalur lain cukup ramai, mungkin itu jalur Bambangan, dan ada juga jalur lain yang terlihat 1-2 kelompok, mungkin itu jalur Guci. Ketika mencapai puncak, sekitar pukul 07:30, udara terasa masih dingin sekali. Kami berdua hanya sempat berfoto sebentar, lalu memutuskan untuk turun.

Karena jalur turun yang begitu luas dan tandanya hanya berupa dua bendera basarnas, kami sempat tersesat ketika mencari batas vegetasi, hampir memakan 3 jam dari puncak sampai menuju batas vegetasi! Lucunya, ketika turun, kami ternyata mengitari gunung, dari jalur ujung kiri gunung sampai kanan. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan. Pelajaran bagi kalian yang ingin naik Slamet via Baturaden, jangan terlalu ke kiri saat turun dari puncak, agar tidak mengitari gunung saat turun. Namun, saat kami mengitari gunung ketika turun, kami menemukan mata air yang sangat segar yang berada di sekitar jalur summit yang berbentuk seperti kolam kecil.

Akhirnya setelah 3 jam mencari batas vegetasi, alhamdulillah kami menemukan dua bendera basarnas tersebut. Sungguh perjalanan yang banyak sekali menuai pengalaman. Setelah mencapai basecamp, kami dijemput oleh Mas Rio dengan menggunakan motor kami yang dititipkan kepadanya.

Dan ingat, dikarenakan ini termasuk jalur baru, harap memperhatikan jalur agar tidak tersesat. Tetap jaga kerendahan hati saat berada di alam semesta, jangan buang sampah sembarangan, selalu bertanggung jawab saat berkunjung ke tempat yang kalian pijak. Jangan lupa, Indonesia akan tetap indah sampai tua nanti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.