Membatik Cantik di Kampung Batik

0
112
Sudah jadi! Cocok buat dijadikan pajangan, kan Yuk, datang ke kampung batik dan coba buat karyamu sendiri!

Pada awal tahun 2020 yang lalu, saya pulang ke Kota Solo. Berbulan-bulan merantau di ibukota, rasanya sayang sekali jika liburan kali ini lagi-lagi dihabiskan di mall. Waktu itu, saya menginginkan wisata budaya yang berkesan njawani atau berarti seperti orang Jawa sekali. Pemikiran ini muncul karena saya sempat terpilih sebagai wakil dari Indonesia untuk datang ke Singapura dan menunjukkan budaya nusantara. Tetapi saya malah bingung mau membawa dan menampilkan apa. Saya merasa bersalah, apalagi saya sendiri tinggal di salah satu kota yang memiliki budaya serta tradisi paling kental di Indonesia, yaitu Solo.

Maka saya memutuskan untuk mengeksplorasi Kota Solo dan menemukan Kampung Batik Laweyan. Saya mengetahui bahwa Laweyan adalah salah satu tempat berburu batik-batik cantik di Kota Bengawan. Namun, ini pertama kalinya saya mengetahui keberadaan kampung batik. Saya memutuskan untuk melakukan riset kecil-kecilan dan menilik fasilitas serta harga karena sebagaimana mahasiswa pada umumnya, budget traveling saya terbatas. Setelah menimbang-nimbang, saya mantap menetapkan itinerary terbaru saya di liburan tersebut adalah beraktivitas di Kampung Batik Laweyan.

Ternyata mencanting lebih sulit dari yang dibayangkan. Tiup dulu malamnya, lalu goreskan perlahan. Hati-hati, panas!

Lokasi kampung batik ini terletak tidak jauh dari jalan raya utama Solo, yaitu Jalan Slamet Riyadi, serta bisa diakses oleh kendaraan roda empat. Sebelum memasuki kampung, pengunjung disambut oleh gapura bergaya perpaduan Jawa dan Belanda. Gapura tersebut seolah memisahkan dua dunia yang benar-benar berbeda. Keramaian di luar langsung terabaikan ketika saya melangkahkan kaki ke dalam kawasan kampung. Suasananya lengang, syahdu, hening, dan tenang sekali. Saya ditemani suara kicau unggas milik warga dan hangatnya matahari Kota Solo. Rumah-rumah bergaya klasik dengan ornamen kayu jati khas Jawa berjejer sejauh mata memandang. Tiap rumah tersebut adalah pabrik batik yang dimanfaatkan warga sebagai mata pencaharian.

Salah satu rumah yang menarik perhatian saya adalah Rumah Batik Putra Laweyan. Ketika saya memasuki pekarangan, terdapat sebuah pendopo bergaya joglo dan sebuah butik. Halamannya diperindah dengan kolam ikan dan pepohonan rindang yang menciptakan suasana asri dan sejuk. Cocok bagi pengunjung yang ingin sejenak mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kota.

Saya menghampiri salah satu karyawan dan menyampaikan maksud kedatangan saya, yaitu untuk belajar membatik. Sambil tersenyum ramah, beliau mempersilakan saya masuk ke ruang kerja yang terletak di belakang butik. Ruangan kerja tersebut adalah ruangan luas tanpa tersekati dinding dan penuh dengan peralatan membatik. Pertama-tama, saya diminta menggambar motif di atas kain mori. Karena saya suka menggambar, maka saya membuat motif burung merak sesuai imajinasi. Namun, pihak Putra Laweyan juga menyediakan gambar yang bisa dijiplak atau jasa karyawan untuk menggambar bagi pengunjung yang merasa kurang nyaman untuk membuat motifnya sendiri.

Sudah jadi! Cocok buat dijadikan pajangan, kan Yuk, datang ke kampung batik dan coba buat karyamu sendiri!

Setelah itu, saya melanjutkan ke proses nyanting. Istilah nyanting diambil dari kata canting, yaitu alat yang terbuat dari logam dan kayu untuk menyendok malam dan menebalkan garis pensil. Saya ditemani oleh seorang pengrajin yang sudah bertahun-tahun membatik. Sejak usia 12 tahun, beliau tekun membatik hingga kini selembar karyanya dihargai dengan kisaran minimal 3 juta rupiah oleh pihak Putra Laweyan. Beliau menjelaskan bahwa nyanting itu harus sabar, tenang, dan menikmati proses.

“Sayang sekarang sudah sedikit yang masih membatik, paling tinggal yang tua saja seperti saya ini. Anak muda sekarang mana mau disuruh membatik,” katanya. Mendengar ini tentu saya merasa prihatin karena Jawa Tengah, khususnya Solo, adalah salah satu tempat di mana batik-batik halus dan indah dihasilkan. Semuanya masih tradisional dan otentik. Maka, rasanya akan menjadi kerugian yang besar bagi kita kalau sampai tidak ada penerus dari para pengrajin ini.

Setelah mencanting dan berbincang sejenak, saya melanjutkan ke proses pewarnaan dan lorod. Seorang karyawan mendampingi saya untuk mencelupkan kain ke dalam zat warna dan soda abu. Soda abu sendiri berfungsi untuk menahan warna agar tidak ikut luntur bersama malam ketika nanti memasuki proses lorod atau perebusan kain. Air yang digunakan untuk merebus harus mendidih supaya malam lepas dengan sempurna dan tidak meninggalkan bekas kecoklatan diatas kain. Kemudian, kain yang sudah direbus diangin-anginkan sampai kering sebelum akhirnya bisa dibawa pulang oleh pengunjung.

Sambil menunggu kain saya kering, saya mengeksplorasi Butik Putra Laweyan. Butik tersebut juga dikunjungi beberapa turis asing karena menjual pakaian serta aksesoris yang otentik dan indah. Melihat hal ini, saya paham mengapa harga batik tulis di pasaran cenderung mahal. Proses pembuatannya membutuhkan ketekunan dan keterampilan yang tinggi, maka tak heran bahwa sehelai kain batik yang bahannya baik seperti sutra bisa dihargai sampai 15 juta rupiah. Namun, hari itu saya menghabiskan 35 ribu rupiah saja untuk belajar membatik selama 7 jam karena saya datang sendiri dan menggunakan kain berukuran 30 x 30 cm. Harga tersebut bisa berbeda-beda jika pengunjung membawa rombongan atau bersama orang asing, tapi bagi saya tarif tersebut tergolong layak karena saya mendapatkan lebih dari sekedar pengalaman.

Rumah Batik Putra Laweyan Solo hanyalah satu dari sekian banyaknya rumah batik di kampung-kampung batik lainnya. Masyarakat setempat sudah mengusahakan fasilitas, harga, dan pengalaman menarik bagi wisatawan sekarang kembali lagi pada kita, khususnya anak muda, untuk mengeksplor wisata budaya ini. Karena kalau bukan kita yang jatuh cinta dan melestarikan batik, lantas siapa lagi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.