Memaknai Keindahan Bangunan Candi Kalasan dan Candi Sari Yogyakarta

0
533
Bangunan Candi Kalasan.

Wilayah Kabupaten Sleman memiliki julukan sebagai wilayah seribu candi. Sebutan itu sangatlah tepat karena banyak sekali candi-candi peninggalan kerajaan Hindu-Buddha di wilayah yang berjuluk Sleman Sembada itu. Beberapa diantaranya bahkan menjadi situs warisan dunia.

Saya cukup beruntung pernah tinggal di Yogyakarta. Saat akhir pekan, saya bisa sejenak singgah ke candi-candi di Sleman. Beberapa diantaranya adalah Candi Kalasan dan Candi Sari. Dua candi yang berada di Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman dan tak jauh dari Jalan Raya Jogja Solo.

Mengendarai sepeda motor bersama rekan, saya menjelajahi dahulu Candi Kalasan yang berada tepat di pinggir Jalan Jogja-Solo. Candi yang memiliki nama lain Candi Kalibening ini merupakan salah satu candi bercorak Buddha peninggalan dari Dinasti Syailendra Kerajaan Mataram Kuno.

Tak perlu membayar tiket untuk memasuki candi ini. Saya hanya perlu mengisi buku tamu dan mematuhi instruksi dari petugas loket untuk tidak naik ke bagian tubuh candi lantaran bangunan suci ini sedang mengalami pemugaran. Maka, saya hanya bisa mengelilingi bagian candi setinggi sekitar 34 meter tersebut.

Ceceran arca Candi Kalasan.

Ada empat buah pintu di empat penjuru mata angina namun hanya sisi timur dan barat yang bisa digunakan untuk memasuki ruang utama candi. Arca-arca banyak berada di dinding candi yang memiliki cekungan-cekungan unik dengan pahatan motif kala. Keunikan lain dari Candi Kalasan adalah adanya puncak Meru dan penampakan sosok makhluk kerdil bernama Gana. Sosok ini tidak banyak ditemukan pada candi-candi di Jawa Tengah dan DIY yang melambangkan penolak bala dan roh-roh jahat.

Seperti pada candi-candi lain, saya pun selalu mengabadikan momen saat mengunjung candi dari balik sebuah pohon. Bagi saya, bangunan ini akan terlihat lebih elok jika kita memotretnya dari balik pohon. Tertutup oleh dedaunan yang rindang, ia akan cantik dan masih terlihat kokoh meski usia telah memakannya.

Candi Sari tampak dari depan.

Puas menjelajahi Candi Kalasan, saya dan rekan hanya menyeberang jalan untuk sampai di Candi Sari. Masih berada di Kecamatan Kalasan, candi bercorak agama Buddha ini juga masih berdiri kokoh. Sama dengan Candi Kalasan, saya juga tak perlu membayar tiket. Walau sama-sama bercorak agama Buddha, Candi Sari dan Candi Kalasan memiliki beberapa perbedaan.

Jika pondasi dasar Candi Kalasan secara umum berbentuk persegi, maka Candi Sari berbentuk persegi panjang. Jika ditinjau dari fungsi pembangunan candi, keduanya juga memiliki perbedaan. Candi Kalasan lebih berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada Dewa Tara dan masih digunakan hingga sekarang, namun Candi Sari memiliki fungsi yang berbeda. Bangunan ini lebih berfungsi sebagai tempat kegiatan belajar keagamaan pada masa dulu. Jika dianalogikan sekarang, candi ini berfungsi serupa dengan pondok pesantren atau seminari.

Candi Sari dilihat dari balik pohon.

Makanya, ketika saya masuk ke dalam pintu utama, akan tampak lorong-lorong dengan celah jendela layaknya sebuah bangunan asrama. Dari informasi yang saya baca di papan pengumuman, candi ini sebenarnya memiliki dua hingga tingkat yang memiliki fungsi masing-masing. Ada yang digunakan sebagai tempat menyimpan benda keagamaan dan ada pula yang digunakan sebagai ruang belajar. Pembagian ruangan tersebut diperjelas dengan adanya tiang-tiang rata di sepanjang dinding tingkat bawah dan relung-relung bertiang di sepanjang dinding tingkat atas. Dari paparan dan temuan saya di dalam bangunan candi ini semakin meneguhkan fakta bahwa kebudayaan bangsa kita sudah cukup tinggi pada masa lampau.

Keunikan lain dari Candi Sari adalah adanya pahatan berbagai bentuk yang memenuhi dinding. Beberapa diantaranya adalah Kinara Kinari (manusia burung), suluran, dan kumuda (bentuk dedaunan bunga). Yang menjadikan candi ini juga istimewa adalah adanya hiasan Kamalakaran tanpa rahang bawah di bagian atas ambang jendal. Hiasan tersebut cukup berbeda dengan candi lain karena kesan seram yang biasanya muncul dari sosok Kamalakara menjadi hilang.

Mengingat pentingnya keberadaan candi ini maka sudah sepantasnya dua candi ini dikunjungi saat berlibur ke Jogja. Tidak sekadar belajar sejarah dan menikmati bangunannya namun pelajaran berharga akan kebudayaan masa lalu menjadi hal yang tak bisa dikesampingan saat mengunjunginya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.