Memaknai Arti Penting Kemerdekaan RI di Museum Perjuangan Yogyakarta

0
483
Bangunan Museum yang seperti bangunan Romawi Kuno.

Jika berbicara mengenai detik-detik Prroklamasi Kemerdekaan RI, pastinya tempat bersejarah akan peristiwa yang mengringinya akan terkenang. Termasuk Kota Yogyakarta yang pernah menjadi ibukota RI selama 3 tahun, antara tahun 1946 hingga 1949. Begitu banyaknya cerita mengenai perjuangan kemerdekaan negara Indonesia di kota ini membuat banyak tempat yang menyimpan sejarah perjuangan itu tersebar di berbagai penjuru kota.

Salah satunya adalah Museum Perjuangan Yogyakarta. Nama museum ini kerap saya dengar ketika menaiki bus Trans Jogja trayek 3B. Ada sebuah halte bus Trans Jogja yang berada tepat di depan museum ini yang terletak di bilangan Jalan Kolonel Sugiyono, Brontokusuman, Kota Yogyakarta. Jadi, untuk menjawab rasa penasaran saya, maka saya pun menyempatkan turun pada suatu pagi.

Benar saja, museum ini tak jauh dari halte tersebut. Hanya perlu berjalan sekitar 50 m, tampak sebuah bangunan seperti bangunan bergaya Romawi kuno dengan dinding bercat hijau. Di sepanjang dinding itu, tergambar relief yang sangat banyak. Ketika saya mendekatinya, ternyata relief itu bergambar sejarah pergerakan bangsa Indonesia, mulai dari berdirinya organiasi Boedi Utomo, hingga pengakuan kedaulatan Belanda atas Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB).

Memasuki bagian dalam musem, saya disambut seorang petugas tiket yang meminta saya membayar tiket sebesar Rp 3.000 dan mengisi buku tamu. Sayangnya, saya tak mendapatkan guide untuk menjelajahi ruangan museum. Meski begitu, informasi yang ada di dalamnya bagi saya cukup lengkap.

Koleksi tempat tidur yang digunakan saat Peristiwa Rengasdengklok.

Di sini, aneka benda bersejarah seputar Proklamasi Kemerdekaan RI dipamerkan dengan apik. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah sebuah tempat tidur yang digunakan oleh sang proklamator RI, Ir. Soekarno, saat diasingkan ke Rengasdengklok. Tempat tidur ini seakan menjadi saksi penting detik-detik menjelang proklamasi yang begitu gawat akibat kondisi Indonesia belum stabil.

Ada pula patung torso (patung dada) para pahlawan bangsa yang dipanjang di dekat dinding. Ada patung KH. Ahmad Dahlan, RA Kartini, Sultan Hasanuddin, dan sebagainya. Lukisan yang menggambarkan gentingnya suasana perang mempertahankan kemerdekaan RI di Kota Yogyakarta juga tergambar. Salah satu lukisan yang cukup menarik adalah berlangsungnya dapur umum yang diadakan oleh warga Jogja dalam upaya membantu para pejuang kemerdekaan melawan penjajah.

Di ruangan ini ada pula maklumat bersama Sri Sultan HB IX dan Sri Paku Alam VIII yang menyatakan bahwa wilayah Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman menjadi bagian dari NKRI dengan status Daerah Istimewa. Adanya maklumat yang tersimpan di dalam museum ini semakin memperteguh bahwa perjuangan bangsa Indonesia juga tak lepas dari peran masyarakat Yogyakarta. Berbagai benda bersejarah lain seperti bambu runcing, meja kursi untuk berdiskusi, hingga plakat perjuangan juga tersimpan rapi.

Tangga menuju lantai bawah tanah.

Selepas puas melihat koleksi di lantai 1 tersebut, ternyata masih ada ruang bawah tanah yang menampilkan segala hal menenai lahir dan berkembangnya organisasi Boedi Oetomo. Dengan tajuk Jejak Boedi Oetomo dalam Naskah, saya seakan diajak memasuki lorong waktu Indonesia masa awal pergerakan nasional, sekitar tahun 1908.

Di ruangan ini ditampilkan berbagai tulisan surat kabar dan buku dari mahasiswa STOVIA yang menyatukan para cendekiawan untuk memiliki rasa kebangsaan. Beberapa di antara tulisan tersebut cukup vokal dalam menentang Belanda, sehingga kerap kali para mahasiswa tersebut mendapatkan peringatan keras. Sungguh, sebuah perjuangan yang sangat berharga demi tegaknya rasa kebangsaan Indonesia menuju kemerdekaan.

Replika Kelas STOVIA.

Di ruangan ini pula terdapat replika yang menggambarkan kelas STOVIA. Dari kelas inilah muncul para penggerak kebangsaan salah satunya adalah dr. Soetomo. Tak hanya itu, ada pula perangko dan mata uang bergambar dr. Soetomo yang telah menjadi pahlawan nasional.

Dengan mengunjungi museum ini, maka paling tidak bisa menjadi pemacu untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan menyadari arti penting kemerdekaan. Untuk itu, mengunjungi Museum Perjuangan Yogyakarta adalah salah satu cara memupuk rasa kebangsaan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.