Memacu Adrenalin di Festival Bantengan Kota Batu 2019

0
710
Harimau membuat bantengan marah dan kalap.

Saat berkunjung ke Kota Batu awal Agustus ini, saya mendapat kejutan dengan adanya perhelatan Festival Bantengan Kota Batu 2019. Dari namanya, saya sudah menduga pasti kesenian Bantengan menjadi pusat dari festival seni ini. Ya, salah satu ikon budaya Malang Raya ini memang terus dipertahankan hingga sekarang.

Tradisi budaya bantengan merupakan tradisi yang telah dimainkan oleh masyarakat Malang Raya sejak zaman dahulu kala. Ada sumber sejarah yang mengatakan bahwa bantengan telah ada sejak zaman Kerajaan Singosari, sebuah kerajaan yang berpusat di Singosari Malang.

Dalam tradisi bantengan, ada beberapa unsur kesenian yang digabungkan menjadi satu. Antara lain sendra tari, ilmu kanuragan (ilmu dalam), seni musik, dan mantra-mantra. Beberapa unsur seni tersebut dijadikan satu dalam satu kesatuan berupa kostum banteng yang dimainkan oleh dua orang.

Bantengan yang dimainkan oleh dua orang.

Jika boleh jujur, saya cukup takut jika melihat bantengan. Biasanya, kesenian ini dimainkan saat karnaval kampung dalam rangka menyambut HUT RI. Itupun hanya satu dua buah bantengan yang dimainkan. Durasi permainan pun relatif singkat karena bergantian dengan festival budaya lain.

Nah, saat mengetahui ada Festival Bantengan Kota Batu 2019, saya berpikir bahwa festival ini akan dipenuhi bantengan dari seluruh penjuru kota. Dugaan saya tepat. Festival ini diikuti oleh puluhan sanggar bantengan yang berasal tidak hanya dari Kota Wisata Batu saja melainkan dari seluruh penjuru Malang Raya. Mereka berparade melalui jalan-jalan protokol di Kota Wisata Batu. Saya sendiri memilih melihat dari Alun-Alun Kota Wisata Batu karena kebetulan sedang berjalan-jalan di sana.

Ketakutan saya disebabkan pemain bantengan akan melakukan kegiatan kalap atau tak sadarkan diri sehingga ia bisa menyeruduk siapa saja yang berada didekatnya. Termasuk penonton sekalipun. Ada sebuah mitos menyatakan jika ada orang yang berbaju merah, kemungkinan besar ia akan diseruduk lantaran bantengan suka sekali dengan warna merah. Seiring waktu, saya tidak menemukan kenyataan mitos itu karena ternyata siapapun yang dekat dengan pemain bantengan, ia harus menerima risiko tersebut.

Pawang bantengan memberikan mantra agar bisa terkendali.

Sebelum pemain bantengan kalap, terlebih dahulu dua hingga tiga dukun memberinya kemenyan di kepala sambil membacakan mantra. Para pemain pun segera tak sadarkan diri dan kemudian dipandu untuk masuk di dalam bantengan yang berupa kain hitam panjang dengan kepala banteng. Oh ya, tanduk kepala banteng ini biasanya dibuat dari kepala kerbau atau sapi sungguhan.

Selepas pemain bantengan tak sadarkan diri, ada seorang pemain lain yang bertugas memberi lecutan cambuk ke tubuh para pemain itu. Saya sendiri sering tak tega melihat para pemain bantengan dicambuk. Tak sekadar lecutan, ada atraksi tarian sebelum kegiatan itu dilakukan. Bunyi keras dari suara cambuk pun biasanya terdengar beberapa meter sebelum bantengan datang. Jadi, ini juga sebagai pertanda bahwa kegiatan bantengan akan dilakukan.

Akibat pecutan itu, para pemain bantengan akan langsung kalap dan marah. Ia akan mulai menyeruduk siapa saja. Penonton pun biasanya histeris dan menyelamatkan diri. Sang pawang membuat para pemain kalap bertugas menjaga agar amarah para pemain bantengan dapat dikendalikan. Ia akan mengucapkan mantra-mantra lagi sambil memegang kepala banteng. Jika sudah begini, rasanya hati saya sebagai penonton bisa sedikit lebih tenang.

Ikon harimau sebagai pengganggu bantengan.

Tak hanya ikon bantengan, dalam kesenian ini biasanya muncul ikon macan/harimau dan monyet. Kedua ikon ini berperan sebagai pengganggu bantengan agar amarah sang banteng tidak terkendali. Maka, ada sebuah filosofis dari permainan ini bahwa amarah manusia bisa saja tak terkendali seperti banteng jika ia diganggu oleh hal-hal lain.

Selain itu, di dalam pertunjukan bantengan, dimainkan pula musik tradisional. Musik-musik ini memainkan lagu-lagu jawa yang mengingatkan manusia pada proses kehidupan, seperti lahir, dewasa, hingga meninggal. Agar kehidupan bisa selamat, maka pengenalian hawa nafsu dan amarah harus dilakukan agar terkendali tidak seperti bantengan yang mudah diganggu.

Festival bantengan semacam ini pun menjadi daya tarik bagi para wisatawa, tak hanya lokal maupun mancanegara. Festival ini juga diagendakan rutin di seluruh Malang Raya dan biasanya digelar berdekatan dengan momen HUT RI yakni pada bulan Juli hingga September. Jadi, jika ingin melihat festival bantengan, kita bisa datang ke Malang Raya sekaligus berwisata menikmati keindahan alamnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.