Melintasi Lautan di Atas Jembatan Suramadu

0
619
Bisa kamu lihat ujungnya?

Hari itu saya dan teman saya sedang berlibur di sebuah kota metropolitan di provinsi Jawa Timur: Surabaya. Kalau mendengar kata Surabaya, kata yang terlintas di pikiran biasanya adalah suhunya yang panas. Yup, betul sekali. Kota terbesar setelah Jakarta ini memang memiliki cuaca yang terbilang cukup panas, apalagi untuk saya yang terbiasa berada di kota Bogor yang berudara sejuk.

Alih-alih menyejukkan diri di dalam gedung ber-AC, saya memilih untuk menikmati hangatnya cuaca Surabaya, atau mungkin panas-panasan sekalian. Sudah jauh-jauh menempuh 820 km ke Kota Pahlawan ini masak cuma jalan-jalan di dalam mall? Setelah berdiskusi singkat, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke salah satu ikon terkenal di Surabaya: Jembatan Suramadu!

Jembatan Suramadu
Jembatan Suramadu dari kejauhan.

Ketika saya mencari rute untuk ke Jembatan Suramadu di Google Maps, ternyata saya diarahkan untuk menuju “Spot Foto Suramadu” yang terletak di daerah bibir pantai tidak jauh dari pintu masuk Jembatan Suramadu. Dari tempat penginapan, kami masih harus menempuh jarak sekitar 40 menit. Panasnya udara Surabaya yang menerpa wajah tidak saya hiraukan. Sepanjang perjalanan kepala saya dipenuhi oleh rasa penasaran, seperti apa wujud jembatan yang disebut-sebut terpanjang se-Indonesia ini?

Pembangunan Jembatan Suramadu dimulai pada 20 Agustus 2003 yang diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Kemudian selesai pada 10 Juni 2009, dimana pembukaannya diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan nama resmi Jembatan Nasional Suramadu. Tidak heran jika jembatan Suramadu disebut sebagai jembatan nasional. Selain menghubungkan dua pulau di Indonesia, jembatan yang panjangnya lebih dari 5 km ini dinobatkan sebagai jembatan terpanjang di Indonesia sekaligus terpanjang ketiga di Asia Tenggara lho. Posisi pertama dimiliki Jembatan Penang di Malaysia (panjang 13,5 km) dan Jembatan Mawlamyaing di Myanmar (panjang 6,6 km) di posisi kedua.

Spot wisatawan untuk beristirahat sambil menikmati gagahnya Suramadu.

Sesampainya di sana, saya dibuat terkagum-kagum oleh megahnya Jembatan Suramadu yang berdiri di depan saya. Jembatan gantung sepanjang 5.438 meter ini benar-benar terlihat gagah. Ingatkah di post sebelumnya, saya telah membahas mengenai Jembatan Shimanami Kaido di Jepang? Jembatan Suramadu tidak kalah megahnya lho!

Sayangnya, kami datang ketika hari sudah menjelang siang. Menurut pedagang setempat, jembatan Suramadu akan terlihat lebih indah untuk dilihat ketika pagi menjelang matahari terbit atau ketika malam hari. Kata beliau Jembatan Suramadu akan diselimuti oleh kelap-kelip lampu di malam hari, yang membuatnya terlihat semakin cantik. Rasa kecewa sedikit terasa karena kami datang di saat yang kurang tepat, namun saya tidak menyesal karena sudah menyaksikan kemegahan jembatan terpanjang di negeri saya sendiri.

Mencoba Melintas dengan Kendaraan Roda Dua
Ombak di sini tidak deras, jadi cukup aman. Tapi tetap harus hati-hati ya!

Tidak puas hanya melihat dari jauh, saya ingin merasakan sensasi mengendarai di atas Jembatan Suramadu. Fakta bahwa kendaraan roda dua bisa melintasi jembatan ini membuat rasa penasaran saya semakin menjadi-jadi. Dengan mengikuti jalur yang disarankan Google Maps, kami mencoba memasuki Jembatan Suramadu. Uang cash sudah kami siapkan, jaga-jaga jika kami harus membayar. Ternyata perkiraan kami salah. Kendaraan motor dua bisa melintasi Suramadu secara gratis!

Satu kilometer pertama di atas jembatan, saya belum merasakan perbedaan sensasi. Maklum, posisi saya masih dekat dengan daratan Jawa. Angin kencang baru mulai terasa ketika saya sudah berada dekat dengan tengah-tengah jembatan. Saya harus berusaha menyeimbangkan motor dari angin yang bertiup kencang. Terlihat beberapa rambu yang merintah kendaraan roda dua lebih berhati-hati dan menurunkan batas kecepatannya. Ada juga rambu yang melarang kendaraan untuk berhenti di tengah jembatan.

Meski terasa mendebarkan, namun di atas motor kami tertawa karena asyiknya sensasi naik motor sambil ditiup kencang angin Selat Madura. Tubuh kami yang sama-sama kurus dan mudah tertiup angin membuat perjalanan semakin mendebarkan. Sesampainya di Pulau Madura, kami memilih untuk beristirahat sejenak. Ingin rasanya berkeliling di Pulau Madura, namun daftar wisata yang belum kami kunjungi membuat kami kembali menyebrang Jembatan Suramadu untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.