Melihat Wajah Baru dari Gunung Merbabu

0
785
Pemandangan Deretan Gunung dari Sabana Jalur Baru.

Bagi para pecinta kegiatan outdoor, salah satunya pendakian gunung, pasti tidak asing dengan nama gunung yang satu ini. Inilah Gunung Merbabu, sebuah gunung yang terletak berdampingan dengan gunung merapi ini memiliki ketinggian yang cukup menantang untuk dicoba. Terletak pada ketinggian mencapai 3.145 mdpl, dengan hutan dan sabananya yang luas, menjadikan gunung ini cukup populer untuk digunakan sebagai ajang kegiatan pendakian.

Gunung Merbabu terletak di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Magelang. Terdapat lima jalur utama pendakian Gunung Merbabu, antara lain jalur Tekelan, jalur Selo, jalur Suwanting, jalur Wekas, dan jalur Chuntel. Di antara semua jalur tersebut, jalur pendakian via Selo merupakan jalur paling populer dan menjadi jalur favorit para pendaki.

Hal tersebut dikarenakan trek yang ditempuh tidaklah sulit dan tidak terlalu terjal. Ketika melewati jalur ini, pendaki juga akan disuguhi sabana yang luas dengan kebun edelweiss yang tumbuh dengan subur. Bukan hanya itu, ketika melewati jalur ini, sobat travelers akan dihadapkan dengan Gunung Merapi yang berdiri dengan gagah dan terlihat begitu dekat. Terlepas dari semua jalur tersebut, saya ingin membagikan pengalaman saya saat ikut membuka jalur baru di Gunung Merbabu. Penasaran seperti apa kira-kira wajah baru tersebut?

Sebenarnya, jalur baru ini masih melewati jalur Tekelan, dari basecamp hingga pos dua. Karena itu, saya akan bercerita sedikit gambaran mengenai jalur Tekelan. Jalur ini terletak di Dusun Tekelan, Desa Getasan, Kecamatan Kopeng, Kabupaten Semarang. Dari basecamp, pendaki akan berjalan melewati rumah warga, kemudian melewati perkebunan sayur. Baru setelah itu, jalur pendakian mulai masuk ke dalam hutan. Dari sini, jalan akan terus menanjak hingga pos 2.

Sunrise di Gunung Merbabu.

Vegetasi hingga pos 2 didominasi oleh tumbuhan kayu besar. Ketika malam hari, sepanjang jalur pendakian hingga pos 2 akan terlihat Kota Salatiga yang dipenuhi hamparan lampu-lampu kota. Pada pos pertama terdapat sumber air yang bisa diambil dari keran yang berada di dekat pos. Begitu pula pos 2, juga terdapat sumber air dari kran yang disediakan. Jika pendakian pada umunya setelah pos dua lurus searah jalan setapak yang biasa dilalui para pendaki, Kali ini, kita akan mencoba sesuatu yang baru nih.

Pembukaan jalur dilakukan dengan membabat semak dan pohon, serta mencangkul tanah agar dapat dilalui dengan lebih mudah. Jalur tersebut memiliki sudut kemiringan yang cukup tinggi. Jadi, harus berhati-hati karena medannya sangat terjal. Tidak lama setelah melewati medan yang cukup ekstrem tersebut, medan sudah berupa sabana luas, sabana ini didominasi oleh tumbuhan paku-pakuan.

Sebenarnya, pada sabana ini tidak terdapat area datar, dan hanya terdapat sedikit pohon, sehingga ketika melakukan akivitas camp di sini, travelers harus membuat sendiri area datar dengan meratakan tanah. Tapi, sisi baiknya, ada pemandangan luar biasa indah yang mungkin belum dilihat oleh kebanyakan orang.

Menyusuri Hutan Mati Gunung Merbabu.

Jika ketika malam hari di sepanjang jalur menuju pos dua terlihat sebagian kota Salatiga, dari sini travelers bisa melihat seluruh Kota Salatiga lebih dari 180o. Ketika pagi hari, sunrise muncul dari balik bukit-bukit sabana di sebelah timur. Sedangkan dari ujung paling barat terlihat Gunung Sindoro dan Sumbing. Lebih ke arah timur terlihat Gunung Telomoyo yang berada di depan travelers, serta Ambarawa. Sebuah perpaduan keindahan dari sisi yang berbeda.

Dari sabana tersebut, apabila perjalanan dilanjutkan dan melewati sebuah bukit kecil, akan didapati hutan mati dari bekas kebakaran Gunung Merbabu yang terjadi sekitar tahun 2018. Di sini terdapat barisan pohon-pohon berwarna hitam dengan banyak ranting-ranting yang gundul. Ketika kabut tiba, suasana di sini terasa seperti berada pada latar film-film horror. Menakjubkan! Jalur menuju ke arah barat masih didominasi oleh hutan mati hingga sampai di jalur pendakian umum sebelum menara radio. Dari sini, travelers bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak dengan jalur normal kembali.

Apabila travelers ingin melewati jalur pintas ini, perlu diingat betul bahwa setelah pos 2 ambil jalan ke kanan, dengan jalur terjal yang terus menanjak. Di sini sobat travelers juga harus jeli melihat tanda berupa bekas tanah yang telah dilalui manusia, serta tanda lain seperti kain atau rafia yang diikatkan pada pohon-pohon. Apabila sobat travelers mengikuti tanda tersebut, berarti sobat travelers berada pada jalur yang benar.

Sebelum mendaki jangan lupa kondisikan fisik, persiapkan logistik, dan peralatan yang sekiranya dibutuhkan. Jangan lupa bawa turun sampahmu. Dan mari kita menjaga apa yang seharusnya menjadi milik semua orang dan masa depan. Salam lestari!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.