Melihat Monas dari Ketinggian Perpusnas

0
228
Tampak depan gedung inti Perpusnas.

Apakah kalian bosan dengan wisata Monas yang begitu-begitu saja? Atau malas mengantre panjang ketika harus ke puncak Monas? Nah, kalian perlu mencoba wisata anti-mainstream satu ini yang patut dicoba setidaknya sekali dalam seumur hidup jika kalian sedang berkunjung ke ibu kota Jakarta, apalagi ibu kota akan segera pindah ke Kalimantan Timur.

Perpusnas atau Perpustakaan Nasional adalah perpustakaan tertinggi di dunia yang memiliki 27 lantai sekaligus. Tak ayal jika Perpusnas sering disebut gedung pencakar langit. Uniknya, Perpusnas ini menghadap langsung ke Monas. Jika Monas memiliki tinggi 137 M maka Perpusnas memiliki tinggi 126 M. Beda tipis sih, tapi dari puncak Perpusnas kita bisa menyaksikkan hamparan Monas dan emas monas yang mengkilat.

Perpusnas ini mudah dijangkau karena lokasinya berada di pusat Jakarta. Tak jauh dari Stasiun Gambir dan tak begitu jauh dari Monas karena berada di seberangnya pas. Selepas dari Monas bisa sekalian mengunjungi Perpusnas. Apalagi Perpusnas ini mendapat predikat sebagai perpustakaan tertinggi di dunia maka mengunjunginya akan terasa sangat menggembirakan, bule saja jauh-jauh menyempatkan diri ke Perpusnas lantas kita yang WNI tidak pernah menjamahnya.

Mini panggung di lantai 24.

Tak heran sih banyak bule ingin mengunjungi Perpusnas. Selain tinggi, desain interior dan eksteriornya sangat megah dan apik. Begitu masuk ke Perpusnas, kita akan disambut berbagai pajangan unik dan penuh informasi. Jangan lupa juga untuk menyempatkan berfoto di depan gedung Perpusnas yang terdapat tulisan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan lima bahasa di dunia. Setelah puas berfoto, saatnya menuju ke puncak gedung.

Namun sebelum berfoto di puncak Perpusnas, jangan lupa menitipkan barang di lantai 1. Kita akan diberikan kunci loker untuk menyimpan barang-barang kita tapi jika memakai tas kecil kita boleh kok membawanya. Meski dikunci dengan rapat tapi disarankan untuk membawa benda-benda berharga turut serta.

Sebelum melihat Monas dari ketinggian Perpusnas, sempatkanlah untuk membaca satu atau dua buku. Koleksi buku umum ada di lantai 21 dan 22. Ada banyak tempat duduk nyaman di dalamnya. Koleksi bukunya juga sangat lengkap, mulai dari buku fiksi, pelajaran sampai fotografi. Setelah puas membaca, saatnya menuju ke lantai 24.

Kalau tidak ingin berpanas-panasan bisa duduk sambil menghadap Monas.

Lantai 24 inilah yang saya maksud sebagai puncak terasyik untuk melihat Monas. Di sana ada petugas yang menanyakan identitas kalian. Tentu saja identitas keanggotaan Perpusnas yang dibuat gratis namun nunggunya agak lama. Tapi kadang-kadang tidak ada petugas yang menanyakan kartu anggota, jadi tinggal masuk saja.

Lantai 24 merupakan lantai koleksi budaya nusantara. Di sana juga ada mini panggung yang biasa digunakan kalau ada seminar. Koleksi budaya nusantara ini tidak sembarangan orang boleh memegangnya. Namun kita tetap bisa melihat koleksi yang terpajang di kotak kaca di dalamnya.

Ini dia Monas yang terlihat begitu dekat dari atas Perpusnas.

Di luar lantai 24 terdapat dua balkon baik di sisi kinan dan kiri bangunan. Tidak terlalu besar ukuran balkon tersebut namun di sana terdapat kursi kayu dan tanaman hias. Di sinilah kita bisa menyaksikan Monas dengan sudut pandang yang paling dekat. Kita juga bisa melihat gedung-gedung pencakar langit yang berdiri kokoh. Di sebelah Monas juga terdapat Masjid Istiqlal yang bisa kita lihat. Kadang juga kita bisa melihat manusia-manusia kecil bak semut yang sedang berdemo. Suara mereka masih terdengar jelas karena gema dan penggeras suara yang mereka pakai.

Balkon lantai 24 ini agak panas dengan terik matahari sehingga disarankan memakai topi atau payung. Jangan terlalu berlama-lama di balkon jika banyak orang mengantre untuk bersantai di balkon. Tapi sepengetahuan saya, di balkon tidak begitu ramai karena tujuan utama pengunjung ke Perpusnas adalah membaca buku. Oh ya lupa, ada spot duduk di dalam lantai 24 yang sangat nyaman dan menghadap ke luar kaca. Kalian bisa duduk-duduk di sana kalau tidak ingin berpanas-panasan di balkon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.