Melihat Diorama Malang di Masa Lalu Lewat Kampung Heritage

0
1437
Salah Satu Spot Foto di Kampung Heritage Malang.

Travelovers sudah pernah berkunjung ke Malang? Biasanya naik moda transportasi apa, nih? Kereta? Atau bis? Mayoritas pelancong menggunakan moda transportasi kereta ketika berkunjung ke Malang. Untungnya stasiun pusat Kota Malang, yaitu Stasiun Kota Baru Malang letaknya di pusat kota sehingga banyak hal yang bisa travelovers lakukan dengan jarak yang relatif dekat.

Nah, kali ini saya akan ajak travelovers untuk menelisik diorama Malang di masa lalu lewat peninggalan heritage-nya di salah satu kampung wisata yang unik, di mana mengangkat peninggalan histori dari bangunan rumah-rumah yang masih lekat arsitektur jaman dulunya, yaitu Kampung Heritage Kayutangan.

Kampung Heritage letaknya tidak jauh dari Stasiun Kota Malang, mungkin hanya memakan waktu 5-10 menit saja untuk menuju kawasan ini dari stasiun. Kampung ini tepat berada di area poros Jl. Kayutangan, Malang, kampung ini berada. Terdapat salah satu gang sempit dengan tulisan besar “Kampung Heritage Kayutangan” di atasnya. Nah, travelovers bisa masuk dari dua sisi yang berbeda, bisa via Jl. Kayutangan ataupun Jl. Kawi Malang. Proses perencanaannya berlangsung 5 tahun ini, tapi baru resmi dibuka 2 tahun belakangan.

Peta dan Post Card yang Didapatkan Ketika Masuk.

Memasuki kawasan ini sudah ada beberapa petugas dari kampung ini sendiri, ada yang mengatur parkir, ada yang di bagian ticketing. Harga tiket memasuki kawasan heritage ini adalah Rp. 5.000 per orang dan Rp. 2.000 untuk parkir kendaraan roda dua. Setelah membayar biaya masuknya, travelovers akan diberi postcard dengan kalimat jenaka khas boso walikan (bahasa kebalikan) ala kera ngalam (arek malang / anak malang). Selain itu, travelovers juga akan mendapat peta kampung wisata ini sehingga tidak perlu takut untuk tersesat.

For your information, disamping mendapat peta, ternyata petunjuk arah di sini juga sangat lengkap, sehingga perjalanan menyusuri kampung wisata ini lebih mudah dan nyaman. Banyak rumah-rumah kuno lengkap dengan penjelasan di depannya, seperti informasi bangunan rumah milik arsitektur lokal atau Belanda kah, rumah milik siapa kah, maupun sejak tahun berapa bangunan tersebut didirikan.

Saya sangat menikmati setiap sudut kawasan heritage ini, karena bangunaannya masih asli lawas, ditambah dengan tambahan dekorasi unik setiap rumahnya. Travelovers bisa sembari berangan-angan bagaimana kondisi dan situasi replika Kota Malang di masa lalu lewat bangunan rumah-rumah ikonik seperti Rumah Namsin ataupun Rumah Jamu. Selain itu banyak juga foto yang menunjukan area-area tertentu di masa lampau, seakan melewati lorong waktu!

Rumah Jamu dengan Penjelasannya.

Ada beberapa area atau objek yang bisa dikunjungi seperti Tangga 1000 Belanda, Pojok Dolanan, Rumah Jengki, Terowongan Semeru, Rumah 1870, terdapat beberapa Galeri Antik, sampai kafe untuk singgah sejenak sambil bersantai. Tentunya kafe di sini didekorasi seunik mungkin dengan properti jadul untuk menambah kesan vintage.

Melalui rumah demi rumah, warga setempat sangat terbuka bagi para wisatawan. Terkadang melontarkan beberapa pertanyaan dan membantu pengunjung yang tidak tahu arah. Ini juga salah satu plus dari adanya kampung wisata bahwa interaksi dengan penduduk lokal merupakan kegiatan yang cukup seru saat melakukan suatu perjalanan.

Petunjuk Arah di Kampung Heritage.

Ada satu spot yang jadi favorit para wisatawan, yaitu kawasan galeri antik di area dekat pintu masuk via Jl. Kawi. Di sini ada berbagai barang antik dan di sebelah rumah galeri antik tersebut didekorasi beberapa spot foto bertema vintage untuk digunakan para wisatawan berswafoto. Tenang, tidak dipungut biaya untuk berfoto di sini, yang penting jangan lupa bersabar untuk antri, ya. Jika ingin masuk ke area galeri antik, travelovers diharuskan untuk membayar Rp. 10.000, termasuk difotokan oleh pemiliknya.

Dengan adanya Kampung Wisata Heritage ini membuat Malang tidak haus akan identitas aslinya, bahkan diselipkan bahasa-bahasa walikan di sekitar guna memperkuat branding identitas Malang lewat bahasanya. Hal ini membuat saya semakin bangga jadi kera ngalam!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.