Masyarakat Adat Kampung Naga: Mempertahankan Warisan Nenek Moyang

0
1316

Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Letak kampung ini berada di daerah perlintasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. Kita harus menuruni sekitar 400 anak tangga agar bisa mencapai kampung tersebut.

Dari atas undakan anak tangga, kita bisa melihat dari kejauhan atap rumah yang terbuat dari ijuk dengan gaya capit gunting, berderet rapi dengan menghadap ke arah yang sama. Kebun, sawah, dan sungai menjadi pemandangan yang sangat menyejukkan mata. Dari hasil pengamatan tersebut, kita bisa membuat simpulan, bila bercocok tanam merupakan mata pencaharian utama masyarakat adat Kampung Naga. Pola hidup gemeinschaft sangat menonjol dari adanya saung-saung penumbukan padi dengan pola tempat tinggal yang rapat antara satu rumah dengan rumah lainnya.

Bertahan di Tengah Modernisasi
Petromak menjadi sumber cahaya,karena listrik tidak ada di Kampung Naga.

Kala malam menjelang, cahaya lampu petromak menjadi alat penerang bagi masyarakat adat Kampung Naga. Meskipun sudah berada di tahun 2019, aliran listrik belum masuk ke kampung ini. Lebih tepatnya adalah aliran listrik tidak masuk ke Kampung Naga. Alasan paling mendasar adanya penolakan pemasangan aliran listrik ke kampung tersebut adalah kondisi rumah yang terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Rumah mereka berbentuk panggung dengan lantai papan sebagai alasnya. Anyaman bilik bambu sebagai dinding dan tumpukan alang-alang serta ijuk sebagai atapnya.

Mereka khawatir, bila terjadi korsleting aliran listrik, akan mengakibatkan rumah serta kampung habis terbakar. Selain alasan keamanan, masyarakat adat Kampung Naga berpikir tentang dampak sosial dari perubahan gaya hidup yang akan diterimanya apabila mereka menerima tawaran listrik tersebut. Sebagai masyarakat yang mengagungkan paguyuban, maka sangat dihindari terjadinya persaingan kondisi ekonomi antara kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi mapan dengan kelompok masyarakat yang berada di tingkat ekonomi labil.

Alat memasak sangat tradisional.

Meski tidak ada aliran listrik, bukan berarti akses informasi tertutup. Masyarakat adat Kampung Naga tetap mengikuti perkembangan zaman. Salah satunya adalah perkembangan teknologi informasi. Sebagian kecil masyarakat adat di Kampung Naga ada yang telah memiliki telepon genggam. Selain itu mereka pun sudah ada yang memiliki televisi hitam putih. Aki menjadi sumber energi yang bisa menghantarkan aliran listrik sehingga masyarakat adat Kampung Naga bisa menikmati acara televisi. Mereka akan melangkahkan kaki keluar dari perkampungan apabila aki dan baterai telepon genggam habis. Mereka akan mengisi daya baterai dan aki di area parkir yang merupakan daerah di luar Kampung Naga.

Keluarga Sebagai Agen Enkulturasi Budaya di Kampung Naga

Kearifan lokal masyarakat adat Kampung Naga sangat terasa dalam alam pikiran dan tingkah laku mereka. Prinsip hidupnya adalah “hidup bersama alam bukan hidup di alam”. Oleh karenanya kearifan lokal tersebut menjadi sebuah kekuatan bagi masyarakat adat Kampung Naga untuk menjaga lingkungannya, Kepadatan aritmatik Kampung Naga menunjukkan angka 22 jiwa/km2, dihitung dari jumlah penduduk Kampung Naga sebanyak 325 orang dengan wilayah untuk ditinggali seluas 1,5 hektar.  Pemahaman dalam menjaga alam didukung dengan adanya konsep “leuweung larangan” dan istilah pamali. Ketahanan budaya tersebut diperoleh dari pendidikan keluarga.

Leuweung Larangan adalah istilah untuk hutan yang dilarang dimasuki oleh siapapun.

Fungsi pendidikan dalam keluarga di Kampung Naga berjalan dengan baik. Prinsip hidup “kami kumawula ka agama jeung darigama” (kami mengabdi kepada agama dan pemerintah)” diwariskan melalui proses enkulturasi yang dilakukan oleh orang tua melalui perilaku sehari-hari. Agama yang dianut oleh masyarakat adat Kampung Naga adalah Islam. Di dalam ajaran Islam pendidikan karakter sangat penting diterapkan oleh keluarga.

Potret saya dengan background kerajinan yang dibuat masyarakat kampung naga

Sebagai masyarakat Sunda kearifan lokal tentang penghormatan kepada orang tua bisa kita lihat dari naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian (Kropak 630) yang menyatakan, “Nihan sinangguh dasa prebakti ngaranya. Anak bakti di bapa, ewe bakti di laki… (Ini yang disebut dasa prebakti. Anak tunduk kepada bapak; isteri tunduk kepada suami…)”, pola sikap inilah yang menjadi ciri dari kehidupan manusia Sunda khususnya masyarakat adat Kampung Naga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.