Masjid Muhammad Cheng Hoo: Representasi Toleransi Antar Umat Beragama

0
171
Nuansa Klenteng pada Masjid Muhammand Cheng Hoo yang didominasi warna merah.

Salah satu hal yang menarik dari Indonesia yaitu keberagaman keyakinan yang dianut oleh masyarakatnya. Sungguh menjadi suatu kebanggaan menjadi bagian dari negeri ini karena kita mampu menjaga dan saling menerima di tengah perbedaan tersebut. Bukti saling menghormati keberagaman itu dapat dilihat melalui keberadaan rumah ibadah, misalnya Jakarta memiliki Masjid Istiqlal yang berdekatan dengan Gereja Katedral.

Lain Jakarta lain pula Surabaya. Di sini terdapat masjid unik yang bernama Masjid Muhammad Cheng Hoo. Penamaan Masjid ini terinspirasi dari nama seorang laksamana Muslim yang berasal dari Tiongkok bernama Cheng Hoo (Zheng He). Hal menarik dari masjid ini yaitu bangunan dengan nuansa klenteng atau dikenal juga sebagai tempat beribadah umat Budha. Penerapan nuansa klenteng di masjid ini bertujuan untuk mengenang leluhur Tionghoa yang mayoritas beragama Budha.

Perjalanan Laksamana Cheng Hoo dimulai pada tahun 1405 atas perintah Kaisar Dinasti Ming. Dia ditunjuk sebagai laksamana dari pasukan laut kerajaan. Sejak saat itu Cheng Hoo melakukan perjalanan mengarungi Samudra ke berbagai negara. Selama perjalanannya, Cheng Hoo mengunjungi wilayah di Asia dan Afrika termasuk Aceh, Sumatera, Semarang, dan Surabaya.

Salah satu Prasasti di Area Masjid.

Sejak kecil, ia dikenal cerdas dan rendah hati. Bahkan ketika dewasa, dia disegani karena sifatnya yang sholeh dan taat serta tidak membeda-bedakan orang lain dan agama. Sebagai bentuk penghormatan pada laksamana Muslim keturunan Tiongkok ini, dibangunlah masjid bernuansa klenteng. Masjid Cheng Hoo tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, bahkan di lokasi yang belum pernah dikunjungi Cheng Hoo sebelumnya seperti Surabaya, Palembang, Kutai Kartanegara, Purbalingga, Gowa, Batam, Banyuwangi, Jambi, Banjarmasin dan Samarinda.

Salah satu Masjid Cheng Hoo terdapat di Surabaya yang diresmikan pada tanggal 28 Mei 2003 oleh Bapak Said Agil Husin Al Munawar yang kala itu menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. Lokasi Masjidnya sendiri berada di Jalan Gading No 2, Ketabang, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Jawa Timur. Lokasi Masjid sangat dekat dengan pusat kota, hanya sekitar 1 km dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan transportasi.

Ciri khas masyarakat Tiongkok sangat kental di masjid ini yang terlihat dari desain interior dan warna bangunan yang didominasi oleh warna merah. Pada bagian depan bangunan utama terdapat ruangan yang digunakan oleh imam untuk memimpin shalat dan khotbah yang sengaja dibentuk seperti pintu gereja. Hal ini menunjukan bahwa Islam mengakui dan menghormati keberadaan Nabi Isa as yang menerima Kitab Injil untuk disebarkan pada umat Nasrani. Ini juga merepresentasikan bahwa Islam mencintai perdamaian dan saling menghormati perbedaan kepercayaan.

Masjid Muhammad Cheng Hoo.

Di sisi kanan masjid terdapat relief Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakan beliau dalam mengarungi Samudera. Relief ini berpesan kepada Muslim Tionghoa di Indonesia khususnya agar tidak risih dan sombong sebagai seorang Muslim.

Kawasan Masjid Muhammad Cheng Hoo juga menyediakan beberapa fasilitas umum seperti TK (Taman Kanak-Kanak), lapangan olahraga, kantor, kelas kursus Bahasa Mandarin, dan kantin. Selain itu, untuk menambah wawasan pengunjung mengenai sejarah hidup Laksamana Cheng Hoo dan informasi mengenai masjid ini, terdapat beberapa prasasti disekitar area masjid.

Masjid Muhammad Cheng Hoo memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang hendak beribadah maupun yang berwisata di Surabaya. Di sini juga pengunjung dapat belajar betapa beragamnya Indonesia sejak dahulu. Perbedaan keyakinan tidak membuat kita saling mengusik, melainkan dapat hidup rukun berdampingan dan saling menghormati satu sama lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.