Masjid Bawah Tanah Sumur Gumuling

0
1596
Kawasan wisata Tamansari

Masjid bawah tanah Sumur Gumuling berada di kawasan wisata Tamansari. Tepatnya berlokasi di tengah-tengah perkampungan kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Jika kita lihat dari luar maka akan terlihat sebuah bangunan seperti benteng dengan jendela tanpa kaca berukuran besar. Bangunan berwarna abu-abu, karena memang tidak memakai cat. Jendela-jendela berukuran besar dengan atap bangunan tanpa genteng.

Setiap pengunjung yang akan masuk harus membeli tiket di loket yang ada di depan wisata Tamansari. Karena tiketnya sudah termasuk dengan wisata Tamansari yang ada di depan sebelum masjid. Harganya Rp 5000 untuk wisatawan domestik, dan diperbolehkan membawa kamera. Lalu Rp 100.000 untuk wisatawan internasional. Bedanya untuk wisatawan internasional sudah termasuk guide. Sedangkan wisawatan domestik harus menyewa sendiri jasa guide-nya. Dimana kita bisa nego harga, saat itu Saya ditawari seharga Rp 50.000.

Begitu masuk maka terlihat pengunjung berlalu lalang keluar masuk masjid. Paling banyak terlihat wajah-wajah anak muda yang mengalungkan kamera dileher sambil eksis mengabadikan foto. Cara menuju masjid bawah tanah, pertama harus menuruni anak tangga menuju lorong. Lalu menuruni sebuah anak tangga lagi dan menyusuri lorong berikutnya. Setelah itu sampai di Masjid bawah tanah.

Bangunan masjid berbentuk lingkaran. Awalnya saya sempat penasaran dengan apa yang akan saya temukan jika saya menelusurinya, ternyata saya malah kembali ke tempat asal saya berdiri. Karena memang bangunan berbentuk bulat. Lantai bawah tanah masjid ini dahulu digunakan untuk sholat berjamaah. Saat ini kita bisa menyaksikan buktinya dengan adanya sebuah ruang untuk imam yang akan melaksanakan sholat berjamaah dengan makmumnya.

Tamansari Yogyakarta
Lantai bawah tanah atau lantai 1 masjid.

Saat ini masjid sudah tidak dipakai sebagai tempat sholat. Tepat ditengah-tengah lantai bawah tanah masjid, terdapat kolam air. Dahulu difungsikan sebagai tempat wudhu. Jika ingin melihat kolam bisa melewati pintu-pintu yang mengelilingi lantai bawah tanah masjid. Di Masjid inilah penjajah Belanda tak mampu melacak keberadaan Islam.

Dari beberapa pintu yang ada, ada 4 pintu yang tersambung dengan 5 anak tangga menuju lantai dua. Menurut penuturan guide, jumlah anak tangga berjumlah 5 melambangkan jumlah waktu dalam sholat, yaitu sholat subuh, dhuhur, ashar, maghrib dan isya. Kemudian pertemuan anak tangga dahulu adalah tempat khotbah para ulama. Kelima tangga diatas kolam inilah yang biasa dipakai para pengunjung untuk berebut spot foto.

Jangan terlalu berharap bisa berfoto sesuka hati. Antrian panjang mengular karena harus bergantian. Kaki saya sempat pegal harus bergantian dengan pengunjung lain. Dan saya sempat jengah karena ada pengunjung yang asal menyerobot karena tak mau antri. Karena tak mendewakan foto, alias malas mengantri, akhirnya saya asal difoto saja. Daripada harus mengantri lama sekali.

Masjid Bawah Tanah
Aktivitas mewarnai batik oleh warga.

Setelah puas menelusuri masjid, kita bisa keluar Masjid dengan kembali ke lorong sebelumnya. Lalu kalian akan menemukan pemukiman warga. Kalian akan menemukan aktivitas membatik yang dilakukan warga lokal. Namun uniknya, ada aktivitas sehari-hari warga yang akan anda temui. Seperti kasih makan anak, buka toko hingga nyuci jemuran. Hal ini karena masyarakat sudah berada di kawasan wisata sekitar abad 18 yang lalu. Sehingga kehidupan masyarakat sudah menyatu dengan lokasi wisata.

Lokasi wisata Tamansari yang teramat luas membuat saya capek. Waktu saya duduk menunggu kebaran saya buang air kecil, seorang Ibu penjaga Toko mempersilakan pengunjung yang sedang berdiri untuk duduk di teras rumahnya. Saking ramahnya, dia bahkan melebarkan senyumannya sambil menghampiri pengunjung itu hanya untuk mempersilakannya duduk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.