Mari Mengenal Bangsa Sendiri di Museum Ranggawarsita, Semarang

0
511
Museum Ranggawarsita.

Museum Ranggawarsito adalah museum yang bisa dibilang merupakan sebuah paket komplit jika ingin belajar mengenai bangsa sendiri.Kita bisa menemukan banyak hal mulai dari manusia dan hewan dari zaman purba hingga beralih ke teknologi pada peradaban berikutnya menuju peradaban industri. Semuanya dapat dipelajari di museum yang berlokasi di Kalibanteng Kidul, Semarang Barat, Semarang.

Perjalanan menuju Museum Ranggawarsito dapat ditempuh sekitar 10 menit dari Kawasan Simpang Lima Semarang. Untuk menuju Museum ini bisa menggunakan motor maupun naik Bus BRT (Transjateng), karena lokasi Halte BRT Siliwangi dekat dengan museum. Museum Ranggawarsito memiliki 4 gedung dengan luas sekitar 2 hektare. Tiket masuknya adalah hanya Rp. 4.000 saja. Namun, karena kebetulan saya datang pada saat ulang tahun Museum Ranggawarsito, yaitu tanggal 5 Juli, saya tidak dibebankan biaya tiket masuk.

Dari depan, Museum Ranggawarsito tampak sebuah bangunan joglo. Berada di sebelah kanan patung seorang tokoh yang sedang menunggangi kuda. Setalah masuk, saya disambut oleh ornamen kayu dari rumah Joglo. Kemudian bisa masuk ke gedung A yang berisikan koleksi zaman purba, seperti tengkorak pithecanthropus, fosil kura-kura, tengkorak buaya tandung banteng, tanduk gajah purba, hingga tengkorak manusia modern. Penjelasan yang cukup baik dan ternyata museum ini memiliki koleksi benda bersejarah sebanyak kurang lebih 60.000 koleksi. Selain itu, saya juga belajar mengenai geologi atau batuan di ruangan ini. Seperti formasi batuan Karangsambung Kebumen, batu mulia, susunan batuan bumi dan masih banyak lagi lainnya.

Serat Tulisan Tangan.

Pada gedung B terdapat koleksi arca, seperti arca ganesha, arca dua muka, arca abhaya mudra, dan arca hindu budha lainnnya. Selain itu, terpajang juga Maket Candi Borobudur, Candi Prambanan, Menara Masjid Kudus, dan Masjid Demak. Saya juga melihat senjata yang dipakai Penjajah Belanda seperti meriam sulut dan Meriam kecil. Terdapat juga berbagai kesenian Indonesia seperti gerabah, terakota, Blencong dan lain-lain.

Pada ruang berikutnya, pengunjung juga bisa menikmati koleksi alat musik tradisional Indonesia seperti gamelan dan kenong, pakaian adat dari berbagai daerah, seni wayang, hingga tempat tidur zaman kerajaan. Saya juga baru tahu ternyata wayang juga dipakai oleh Masyakat Tionghoa zaman dahulu dengan nama Wayang Potehi. Kemudian juga ada maket yang menceritakan Politik Etis Pemerintahan Kolonial Belanda, Pemberontakan DI/TII tahun 1949-1954, dan masih banyak lagi lainnya. Selanjutnya juga ada patung burung garuda yang menjadi lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Maket Pemberontakan DI/TII Tahun 1949-1954.

Pada lantai 2, saya bisa menyaksikan koleksi batik dengan banyak variasi, keramik lokal, perhiasan, dan manik-manik. Kemudian juga terdapat maket kapal dan temuan akesoris kapal zaman dahulu. Pada sastra zaman dahulu bisa kita temukan seperti serat tulisan tangan, manakib tulisan tangan, naskah tauhid. Selain itu juga ada aksesoris pelengkap makanan seperti cangkir minuman dengan berbagai jenis.

Sedangkan pada lantai dasar juga terdapat museum yang berisi emas mulia. Koleksi emas yang dimiliki Museum Ranggawarsito berasal dari kerajaan zaman dahulu. Salah satunya adalah emas yang ditemukan di Wonoboyo Jagonalan Klaten yang ditemukan dalam guci keramik Dinasti Tang sekitar abad 9 Masehi. Koleksi emas pada umumnya didapat pada zaman kerajaan hindu-budha. Sayang sekali waktu saya datang ke Museum Ronggowarsito runagan yang berisi emas tersebut masih digembok. Kemudian sebagaian penerangan di lantai 2 sebagian rusak, mungkin masih dalam perbaikan, karena selain itu seluruhnya sudah terdapat pencahayaan yang baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.