Makan Nikmat di Gudang Lawuh Dhe Widi Notoprajan, Yogyakarta

0
1780
Gapura Ndalem Notoprajan.

Kota Yogyakarta menjadi kota kenangan bagi banyak orang. Sejarah, kuliner, hingga bentang alam menjadi cerita tersendiri bagi banyak orang. Tak terkecuali bagi saya, yang seakan sudah tertaut hati pada kota ini. Aneka bangunan masa lampau yang dibumbui dengan lezatnya kuliner khas kota ini menjadi bukti bahwa Yogyakarta adalah kota yang benar-benar layak dikunjungi.

Salah satu tempat favorit saya adalah Ndalem Notoprajan. Tempat ini sendiri sebenarnya tak jauh dari kompleks Keraton dan Taman Sari Yogyakarta. Saya sendiri lebih senang menggunakan transportasi umum Trans Jogja untuk mencapai tempat ini.

Dari halte terminal bus Ngabean, saya hanya perlu berjalan sekitar 400 m sepanjang Jalan KH. Agus Salim ke arah Masjid Kauman. Sebelum mencapai lokasi, kita akan disuguhi aneka toko yang menjual oleh-oleh khas Jogja dengan harga grosir seperti kaos dan beberapa pernak-pernik. Kalau sedang ada uang cukup, biasanya saya membeli beberapa helai kaos untuk dibawa pulang.

Warung Penjual Makanan.

Nah, di antara bangunan toko yang cukup padat tersebut, ada sebuah gang kecil dengan pohon besar yang cukup rindang. Di sinilah letak Ndalem Notoprajan, sebuah daerah milik pangeran keraton Yogyakarta. Sayang, saat saya datang ke sana, bangunan rumah tersebut sedang tutup dan tidak bisa dikunjungi oleh pengunjung dari luar.

Sebenarnya, bangunan ini sendiri terdiri dari beberapa kompleks. Sebuah gapura dengan atap joglo menjadi pembatas antara kompleks permukiman milik sang bangsawan dengan pemukiman masyarakat biasa. Diperkirakan, bangunan-bangunan di dalam kompleks ini dibangun sekitar tahun 1811 yang diberikan pihak keraton kepada Gusti Pangeran Haryo (GPH) Notoprojo. Maka dari sinilah tempat ini dinamakan Ndalem Notoprajan atau kediaman dari Pangeran Notoprojo.

Walau sedikit kecewa, namun saya tidak sia-sia datang ke sini. Saya melihat cukup banyak orang yang bergerumul di sebuah warung kecil di depan kompleks Ndalem Notoprajan. Ternyata, warung tersebut adalah salah satu warung legendaris di Kota Yogyakarta. Apalagi kalau bukan sebuah warung nasi yang sangat ramai.

Penjual Aneka Makanan Khas Yogyakarta.

Melihat sekilas dari kejauhan, aneka lauk-pauk yang sungguh menggoda untuk disantap begitu memikat. Ada perkedel jagung, telur, dan tentunya tahu serta tempe bacem. Aneka sayur-mayur pun begitu menggiurkan.

Ada sayur gudeg sebagai menu utama, sayur daun pepaya, sayur sop, dan beberapa sayur bersantan lain. Ada pula beberapa pepes ikan tongkol dan pepes tahu yang sangat sayang untuk tidak dicoba. Saya sendiri sampai bingung akan mencoba menu apa. Akhirnya, saya memutuskan untuk memesan tempe bacem dan sayur sop saja.

Ternyata, rasanya sangat enak. Menurut penuturan rekan saya yang sering datang ke sini, sang penjual memiliki resep sendiri dalam mengolah masakannya, terutama tahu dan tempe bacem. Sebagai orang luar Yogyakarta, lidah saya sebenarnya tidak terlalu suka manis. Kalau bisa di-level-kan, mungkin hanya level biasa saja.

Tempe dan Tahu Bacem yang Menggoda.

Nah, tahu dan tempe bacem dari warung ini menjawab keinginan saya. Tak semanis tahu dan tempe bacem di tempat lain. Yang saya suka, bumbu kemiri dan ketumbar sebagai bahan dasar baceman terasa pas. Sayur-mayur yang dijual juga berasa gurih di lidah. Meski beberapa diantaranya cukup pedas, namun menurut saya masih dapat ditoleransi.

Harga sayuran dan lauk di warung ini juga cukup terjangkau. Saya memesan sepiring nasi, tiga buah tempe bacem, sayur sop, sambal goreng kentang, dan segelas teh hangat hanya dihargai Rp. 11.000. Kala saya membawa pulang nasi berisi dua buah tahu bacem, sambal goreng, dan mie kering, sang penjual hanya menghargai sebesat Rp. 8.000. Intinya, warung di kompleks Ndalem Notoprajan ini sangat terekomendasi untuk dicoba kala berlibur ke kota Yogyakarta.

Sambil ditemani semilir angin dan suasana jadul, mengisi perut di warung kompleks Ndalem Notoprajan adalah kegiatan asyik. Kegiatan yang bisa dicoba sebelum menyusuri kompleks keraton dan Taman Sari Jogja. Tertarik mencoba?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.