Lombok dengan Beragam Wisata dari Pegunungan, Pantai, dan Budaya

0
408
Pemandangan Gunung Rinjani.

Bagi kalian yang ingin menikmati keindahan Pulau Lombok, sebaiknya rencanakan matang-matang terlebih dahulu mulai dari transportasi yang akan digunakan, destinasi-destinasi yang ingin dikunjungi, dan yang terakhir atur budget ini hal yang terpenting.

Untuk menuju Lombok, ada 3 pintu masuk, yang pertama adalah Pelabuhan Lembar yang terletak di bagian Barat, kedua adalah Pelabuhan Khayangan yang terletak di bagian Timur, dan ketiga adalah Bandara Praya, yang terletak di bagian Tengah.

Sebelumnya, saya sudah menceritakan perjalanan saya dari Semarang menuju Pelabuhan Lembar. Dikarenakan pengalaman saya adalah masuk dari pintu pertama, yaitu Pelabuhan Lembar, jadi saya akan melanjutkan perjalanan ini mulai dari Pelabuhan Lembar.

Gunung Rinjani

Saya langsung teringat dengan cuaca panas yang menyengat kulit ketika perjalanan dari basecamp menuju pos 3, monyet-monyet di pagi hari yang siap mencuri apa saja yang bisa dicuri terutama makanan, tujuh bukit penyesalan yang membuat saya hampir putus asa. Namun, itu semua terbayarkan dengan sabana yang terbentang luas, Puncak Dewi Anjani yang membuat saya terpesona akan lekukan tubuhnya, dan keindahan Danau Segar Anak yang maha dahsyat.

Untuk menuju Gunung Rinjani dari Pelabuhan Lembar, kalian keluar dari pelabuhan sudah banyak yang menawari jasa transportasi menuju basecamp Gunung Rinjani apa lagi jika kalian terlihat menggendong tas besar nan gagah, pasti kalian akan didekati oleh bapak-bapak supir untuk menawarkan jasa transportasi.

Karena saya pada saat itu berkelana hanya berdua, jadi sebelumnya, saat di kapal saya sudah mencari teman terlebih dahulu, supaya budget yang dikeluarkan untuk transportasi dari pelabuhan menuju basecamp Sembalun murah meriah.

Akhirnya, setelah melakukan tawar-menawar dengan supir, akhirnya disepakati biaya menuju basecamp Sembalun adalah sebesar Rp500.000 untuk 1 mobil, yang dibagi kepada 6 orang yang ada di dalamnya. Perjalanan untuk menuju ke basecamp adalah sekitar 4-5 jam.

Jika kalian kekurangan logistik, sebaiknya dilengkapi di basecamp saja, karena banyak teradapat warung-warung yang cukup lengkap untuk persediaan logistik. Lumayan, kalian turut membantu juga perekonomian warga setempat. Untuk retribusi, pendakian Gunung Rinjani dikenakan biaya per hari sebesar Rp5.000, beserta asuransi sebesar Rp10.000. Karena saya akan melakukan pendakian selama 4 hari, jadi total biaya yang harus dibayarkan adalah sebesar Rp30.000. Untuk estimasi waktu pendakian, mungkin akan saya ceritakan pada tulisan berikutnya. Nantikan.

Gili Trawangan
Berlabuh di Gili Trawangan.

Pulau ini sudah sangat terkenal, jadi saya yakin kalian yang akan berpetualang ke Lombok, menjadikan Gili Trawangan sebagai salah satu destinasi wajib.

Sebenarnya, pulau yang ada di Lombok bukan hanya Gili Trawangan saja, tetapi ada 2 pulau lagi yang berdekatan,yaitu Gili Meno dan Gili Air. Gili Trawangan memiliki nasib yang lebih baik dari kedua sahabatnya, namun menurut warga sekitar, untuk urusan pemandangannya tak kalah dari Gili Trawangan. Sedangkan saya sendiri hanya bermain-main di Gili Trawangan.

Untuk menuju ke Gili Trawangan dari Pelabuhan Lembar ada beberapa cara, jika kalian berjalan-jalan dengan gaya backpacker, kalian bisa menggunakan cara estafet dari angkutan ke angkutan. Dari pelabuhan, kalian cari angkutan ke arah Terminal Mandalika, lalu dilanjutkan angkutan ke arah Pelabuhan Bangsal.

Awalnya saya mau estafet seperti itu, dikarenakan kapal sampai di Lembar sekitar pukul 14:00 WITA, dan kapal dari Pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan hanya melayani keberangkatan sampai pukul 17:00 WITA. Jadi, kalau estafet, tidak memungkinkan, karena waktunya tidak akan terkejar.

Akhirnya saya ditawari oleh abang supir pelabuhan untuk ke Bangsal dengan biaya Rp130.000, berdua bersama teman saya. Ternyata, saya satu mobil bersama dengan rombongan ke luar yang searah ke bangsal.

Setelah mengantar rombongan keluarga, tak lama, supir tersebut menyuruh saya bersama temen untuk turun di tempat angkutan biasa menunggu yang searah bangsal. Karena sudah kesal dengan sang supir, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan ke banagsal dengan angkutan. Ingin rasanya memaki, tapi apa daya beginilah resiko petualangan. Selain bertemu dengan orang-orang baik, di sisi lain pasti ada saja orang yang sebaliknya, petualangan memang seru.

Biaya angkutan ke bangsal adalah Rp15.000 per orang, namun jantung berdebar-debar karena angkutan berpacu dengan waktu keberangkatan kapal terakhir ke Gili Trawangan. Alhamdulillah, kami tiba di Pelabuhan Bangsal tepat waktu, dan masih mendapat tiket penyebrangan sebelum loket tutup dengan biaya Rp15.000.

Waktu tempuh kapal ke trawangan adalah sekitar 15-20 menit. Sesampainya di trawangan, baru saja turun dari kapal, kami langsung ditawarin penginapan dengan harga Rp200.000 –  Rp300.000. Namun, karena tidak sesuai dengan budget, akhirnya kami mencari penginapan lain, dan akhirnya mendapat penginapan seharga Rp150.000.

Hal yang paling saya sukai dari trawangan ini adalah dunia malamnya sangat luar biasa. Kalian harus melihat sendiri begitu bebas dan lepas. Selain dunia malam, saya juga paling suka mengitari Pulau Trawangan menggunakan sepeda di pagi hari, begitu luar biasa bisa menyusuri dan menikmati keindahan Gili Trawangan.

Untuk biaya makannya, paling murah adalah Rp15.000, jika kalian ingin mencari makanan yang lebih mahal langsung saja masuk ke restoran-restoran yang sudah banyak tersedia di pinggir pantai.

Hal yang sangat saya sesali di Gili Trawangan adalah karena belum sempat menikmati keindahan bawah lautnya, dikarenakan harus menuju destinasi selanjutnya.

Desa Sade
Belajar merajut di Desa Sade.

Selain menikmati keindahan alam di Pulau Lombok, ternyata kalian bisa menikmati dari sisi budaya. Desa sade adalah destinasi wajib untuk mengenal Suku Sasak. Menurut saya, Desa Sade ini selain unik dari rumah adat, kerajinan, dan masyarakatnya, juga memiliki nilai edukasi yang sangat tinggi untuk mengenal sejarah kehidupan Suku Sasak.

Untuk biaya masuk ke Desa Sade sebenarnya tidak bayar, namun diwajibkan menggunakan jasa guide warga lokal asli Sade dengan biaya seikhlasnya. Karena seikhlasnya, untuk saya bingung harus memberi berapa. Setelah bercakap dengan teman saya, akhirnya kami memutuskan untuk memberinya Rp20.000.

Untuk sampai ke Desa Sade, saya mendapat bantuan dari teman saya yang memiliki kenalan di daerah Praya. Saya dijemput tidak jauh dari Terminal Mandalika, dan langsung diajak ke rumahnya untuk beristirahat, sekaligus bermalam di rumahnya. Lumayan, dapat penginapan gratis, makan gratis, dan dipinjamkan motor untuk berkeliling seharian. Selalu menyenangkan bertemu orang-orang baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.