Liburan Low Budget ke Air Terjun Pelangi

0
144
Air terjun pelangi.

Meski kondisi keuangan saya sedang tidak baik-baik saja, kehendak untuk jalan-jalan tak mau padam begitu saja. Terlebih jika melihat foto pemandangan indah di media sosial dengan caption: Hai, kamu dapat salam dari sini, kapan main ke sini? 

Menyeimbangkan antara keinginan jalan-jalan dan kondisi finansial bukanlah satu hal yang mudah. Tempat  yang cocok untuk memanjakan jiwa dan panca indera biasanya terlalu jauh dari rumah dan telah mematok tarif untuk didatangi. Hampir saja saya menyerah pada keadaan dan memilih untuk rebahan di akhir pekan, sampai akhirnya seorang teman menyebutkan satu lokasi yang belum pernah saya kunjungi. Air Terjun Pelangi, yang terletak di Desa Uevolo, Kecamatan Siniu, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Lokasinya sekitar 20 kilometer dari rumah saya di Desa Pelawa.

Akhir pekan pun tiba. Setelah menyiapkan segala perlengkapan, saya dan tiga orang teman berangkat ke Desa Uevolo. Tak lupa kami membawa kompor gas mini, nesting, mie instan, kopi instan, cabai, dan yang terpenting tumbler berisi air minum. Meski tidak berencana untuk menginap, kami tetap membawa bahan makanan. Hemat dan tak ada yang namanya makan di luar. Sejak awal kami telah bersepakat bahwa anggaran perjalanan kali ini tidak boleh lebih dari Rp 20.000 untuk satu orang.

Pemndangan di sekitar sungai menuju air terjun pelangi.

Dari Jalan Trans Sulawesi, Desa Uevolo, kami menempuh perjalanan selama 10 menit menggunakan motor, melewati jalan setapak yang tebentuk di antara semak dan kebun kelapa. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki kurang lebih 10 menit. Sedikit nanjak dan lumayan bikin ngos-ngosan.

Beruntung saya datang dengan teman yang sebelumnya sudah pernah berkunjung ke air terjun ini. Meski jaraknya dekat dengan pemukiman penduduk, orang yang baru pertama kali datang akan sedikit kesulitan untuk mencari lokasi Air Terjun Pelangi. Bahkan teman saya yang sudah dua kali berkunjung pun masih kebingungan mengingat arah. Tidak adanya papan penunjuk dan banyaknya jalan setapak yang terbentuk oleh aktivitas warga membuat kami sedikit kesulitan. Tapi jangan khawatir, masyarakat setempat selalu berbaik hati untuk menunjukkan jalan.

Hampir 10 menit kami berjalan. Lagi-lagi teman saya kebingungan menentukan arah. Kali ini bukan karena banyaknya jalan setapak, melainkan bergesernya lokasi aliran air sungai. Rupanya banjir yang terjadi di desa ini beberapa waktu lalu membuat jalur air sedikit berpindah. Menurut teman saya, lokasi yang kini dipenuhi bebatuan dan potongan kayu berukuran besar dulunya merupakan aliran sungai.

Lokasi air terjun pelangi yang tersembunyi balik tebing.

Kami terus berjalan menyusuri sungai. Musim panas membuat debit air berkurang. Saya menjadi sedikit pesimis, jangan-jangan air yang sedikit ini berpengaruh pada indahnya air terjun yang akan kami datangi nanti. Tak berapa lama, teman saya yang berjalan paling depan berseru  “Sampai… Aaaaaa… Assalamualaikum…” Sambil menjawab salam di dalam hati, saya bertanya mana air terjunnya? Lagipula tak terdengar suara air jatuh. Ah, jangan-jangan teman saya ini berhalusinasi.

Merasa penasaran, saya semakin mempercepat langkah. Setelah mengambil jalan sedikit menyerong ke arah kiri, tujuan kami mulai terlihat. Pantas saja tadi saya tidak melihat air terjun ini. Lokasinya yang sedikit menjorok dan tersembunyi di balik tebing membuatnya baru dapat dilihat dari jarak dekat. Dengan riang gembira saya pun mengikuti jejak teman saya untuk mengucapkan salam “Assalamualaikum,” diikuti oleh rasa syukur yang tak henti-hentinya pada Sang Pencipta.

Air terjun pelangi.

Indah. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan pemandangan di depan mata kami. Meski musim kemarau membuat debit air berkurang, air terjun pelangi justru terlihat semakin cantik. Suara air jatuh baru terdengar apabila kita berada di jarak dekat. Air terjun ini mengalir dengan tenangnya, begitu anggun bak seorang putri yang dikelilingi tebing dan pepohonan lengkap dengan bebatuan besar sebagai penjaga.

Kami pun sibuk dengan diri sendiri. Merekam pemandangan di dalam ingatan dan mengabadikannya dalam gambar. Setelah mengambil gambar, kami mulai mengeluarkan perbekalan. Seperti biasa, kopi selalu menjadi pembuka, disusul mie instan dengan tambahan sedikit cabai. Saya makan dengan lahap. Oh, betapa murah meriah dan nikmatnya liburan kali ini. Minggu depan saya mau ke mana lagi ya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.