Liburan di Bromo yang Tak Pernah Membosankan

0
1904

Gunung Bromo merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang terletak pada ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut. Bromo terkenal dengan padang Savana, lautan pasir, dan kawah yang eksotis, serta pemandangan matahari terbit yang sangat indah. Pernah ada yang meninggalkan komentar di blog saya, bahwa sunrise di Bromo termasuk salah satu sunrise terbaik di dunia. Wow!

Sebagai daerah puncak gunung, hawa dingin menyelimuti Bromo sepanjang hari, sepanjang tahun. Lebih dari itu, Bromo sebagai kawasan wisata menyajikan panorama alam yang memiliki banyak keistimewaan yang bisa membuat takjub wisatawan.

Setidaknya ada empat jenis wisata yang dapat dinikmati di Bromo. Yaitu menyaksikan sunrise, mengunjungi padang pasir berbisik, menikmati segarnya hijau padang savana, dan tentu saja menyaksikan langsung kawah puncak gunung berapi yang masih aktif.

Akses yang mudah dan kelengkapan fasilitas umum seperti penginapan dan persewaan kendaraan, melengkapi Kawasan Wisata Bromo sebagai destinasi saat liburan yang tidak boleh dilewatkan.

Bromo dapat diakses dari empat kabupaten yang melingkarinya, yakni Pasuruan, Lumajang, Malang, dan Probolinggo. Apabila menggunakan angkutan umum, yang paling mudah adalah dari Probolinggo. Dari terminal Probolinggo kita cukup naik elf sampai Desa Ngadisari. Tarif elf Rp. 35 ribu per orang jika elf bisa penuh. Apabila setelah lama penumpang tak kunjung datang, kita bisa bernegosiasi dengan driver agar mau mengantarkan kita hingga Ngadisari dengan tarif berapa. Asal kedua belah pihak sepakat dan win-win solutions.

Waktu itu saya kembali ngetrip ke Bromo dengan seorang teman. Kami naik angkutan umum dari Surabaya. Dari terminal Bungurasih, kita bisa naik bus patas jurusan Jember/Banyuwangi dan turun di terminal Probolinggo dengan tarif 35 ribu rupiah per orang.

Hari itu masih gelap ketika kami sampai di Terminal Bungurasih. Kami belum sempat sarapan. Jadi begitu tiba di Terminal Probolinggo, sambil menunggu elf berangkat, kami sarapan dulu. Di sebelah kiri pintu keluar Terminal Probolinggo ada berjejer warung makan. Waktu itu kami sarapan Soto. Dan soto tersebut recomended lho, Sahabat TravelBlog. Kami bahkan mampir lagi ke warung tersebut esok hari saat perjalanan kembali ke Surabaya. Hehe.

Waktu itu kami pergi di hari libur panjang. Ketika kami tiba di dusun Cemorolawang, ternyata penginapan sudah penuh. Ada mas-mas yang menghampiri kami dan membantu untuk mencari penginapan. Kami berkeliling sampai menemukan penginapan yang memiliki kamar kosong namun dengan harga 500 ribu sehari-semalam. Tidaaak. Itu teramat mahal bagi wisatawan hemat ala kami ini.

Kami sempat berfikir untuk tidak menginap alias langsung pulang sore hari. Tapi itu pasti tidak akan memuaskan. Entah wangsit dari mana, kami terpikir untuk menginap di rumah warga biasa. Dan kami mendapatkan sewa kamar di rumah warga dengan tarif 150 ribu! Kami bahkan tidak hanya dapat satu kamar tapi malah satu rumah!

Kami lalu istirahat dan tidur siang. Setelah itu kami baru akan pergi ke bukit Savana dengan naik ojek. Tarif ojek ke Savana Rp 25 ribu per orang. Rencananya, kami hanya naik ojek saat berangkat lalu kembali dengan berjalan kaki sambil selfie. Jarak dari padang Savana kembali ke pos masuk sekitar 8 kilometer. Rencana yang luar biasa, bukan?

Dengan berat hati dan nampak kekhawatiran yang tinggi di wajahnya, Bapak Ojek pergi meninggalkan kami. Kami bersantai di padang rumput yang hijau mempesona. Meski itu bukan kali pertama saya ke padang Savana, tapi saya tidak pernah bosan. Saya suka berlama-lama duduk manis di tengah hamparan rumput sambil menikmati angin membelai bulu mata saya. Saya suka meski harus berjalan berkilo-kilometer menjajaki padang Savana. Ah benar, saya tidak pernah bosan. Bahkan tidak bisa bosan.

Kami lalu berjalan meninggalkan padang Savana sambil menikmati pemandangan. Dan tentu saja tidak ketinggalan, kami harus berswafoto alias ber-selfie ria. Kami terus selfie walau dengan berbagai pose yang sama. Bahkan parahnya, di saat kami harus memilih mana yang diutamakan apakah kecantikan pemandangan atau kenarsisan kami, tentu kami pilih yang kedua. Hahaha.

Selain Savana yang memorable, setiap kali liburan ke Bromo selalu punya cerita yang berbeda. Selau ada kenangan indah yang tidak terlupakan. Really, every journey has its spesially sweet story. Waktu itu, tepat saat kami merasa puas dan lelah yang datang bersamaan, sedangkan perjalanan masih kurang sekitar 3-4 km, tiba-tiba sebuah jeep berhenti. Jeep yang berisi rombongan keluarga dari Kediri. Dan kami diajak bareng! Luar biasa!

Ketika tiba di loket, kami baru menyadari bahwa kami tidak memegang tiket karena tadi lupa membayar. Begitu tiba di pos, kami langsung hendak membayar tiket masuk (padahal sudah keluar). Ternyata justru digratiskan. Senangnya…

Puas berjalan di padang Savana, kami mampir makan mie di dekat loket. Apapun yang kami makan, rasanya nikmat. Bisa jadi ini karena hati yang bahagia. Hari sudah gelap, namun hati dan pikiran semakin terang. (ea) Usai makan, kami kembali ke penginapan.

Rencana kami di hari esok adalah selepas Subuh segera keluar homestay lalu menuju bukit Mentigen untuk berburu sunrise dilanjutkan ke Seruni Point. Tapi rencana tinggallah rencana. Usai Subuh saya tidur lagi dan baru bangun jam 5.23. Kawan saya tak tega membangunkan dan dia bersabar menunggu saya terbangun. Akhirnya dengan sedikit penyesalan kami berangkat lantaran matahari sudah hampir setinggi galah.

Kami bertemu lagi dengan tukang ojek yang dulu pernah mengantar saya dan Mbak Maya di perjalanan Bromo sebelumnya. Short story, kami ke Mentigen dan Seruni Point diantar Mas Ojek. Dan bonusnya, beliau bisa jadi fotografer buat kami, hehehe. Walau hasil fotonya cukup menjadi alasan untuk mengelus dada. *pish

Setiba di Seruni, ternyata Mas ojek mendapat order dari pihak lain. Lantas dia meninggalkan kami begitu saja di Seruni Point dan minta dibayar seikhlasnya. Kami tidak marah sedikitpun maupun sakit hati padanya. Karena meskipun kami marah, itu hanya akan merugikan kami sendiri, sementara mas Ojek sudah pergi dengan santainya. Dalam perjalanan, tidak selamanya mulus. Bisa saja terjadi hal-hal tidak terduga yang tidak menyenangkan. Namun kita bisa memilih untuk menggerutu dan menyalahkan keadaan atau melihat dari sudut pandang lain dan tetap bahagia menikmati perjalanan.

Karena ditinggal mas-mas Ojek, kami harus kembali ke penginapan dengan berjalan kaki dari Seruni sejauh tiga kilometer. Kami hanya berdoa semoga Allah kirimkan malaikat lagi untuk menemani perjalanan kami seperti kemarin mendapat tumpangan jeep. Walalupun dari tadi di Seruni Point tidak ada jeep sama sekali. 😀

Dan benar, Allah mengirimkan seorang bule tampan dari belakang kami. Kami saling menyapa. Lalu kami pun mengobrol. Kami bertukar banyak cerita walaupun lebih banyak dengan bahasa isyarat. Karena bahasa Inggris kami sama-sama buruk. Haha. Mas Bule berasal dari Spanyol yang bekerja sebagai pendamping diving. Dia lebih tua dari kami dan masih jomblo. Hahaha. Dia hanya perlu bekerja selama tiga bulan dalam setahun. Sementara selama sembilan bulan lainnya, dia berkeliling dunia. Wah enaknya, bikin envy saja ya! Sepanjang jalan kami ngobrol apa saja dan membuat perjalanan jadi sangat menyenangkan dan kami sama sekali tidak merasa lelah. Bahkan kalau boleh berharap, penginapan kami menjauhlah. Hahaha.

Dan segalanya, seperti berjalan dengan baik, seperti ada sutradara yang mengarahkan para pemain film untuk memerankan perannya. Mulai dari saya bangun kesiangan, tukang ojek yang ingkar janji dan meninggalkan kami, lalu pertemuan dengan Mas Bule. Seolah semua telah ada skenario yang ditetapkan. Because every journey has its specially sweet story, as always. Meski liburan ke Bromo lagi, tetap tidak pernah membosankan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.