Lembah Napu dan Situs Megalit Tertua di Indonesia

0
889
Megalit di situs Watulumu yang pada dindingnya tedapat relief berbentuk wajah manusia dengan berbagai ekspresi..

Lembah Napu dikenal dengan bentang alamnya yang indah. Hamparan padang sabana yang amat luas, deretan pohon pinus, dan padang ilalang merupakan hadiah bagi mereka yang pernah melintasi lembah yang berada di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah ini. Namun, ada yang yang tak kalah menarik di Lembah Napu, yakni salah satu jejak peradaban tertua di Indonesia yang sedang diusulkan menjadi warisan dunia UNESCO.

Waktu itu, saya dan teman-teman yang tergabung dalam tim Sanjayo tiba di Desa Maholo ketika hari sudah mulai gelap. Desa Maholo merupakan salah satu desa yang ada di Lembah Napu.

Suasana malam di Lembah Napu terasa begitu tenang, yang terdengar hanyalah suara serangga, dan sesekali diselingi lolongan anjing. Sungguh perpaduan alam yang pas untuk memperoleh tidur yang pulas. Kami semua bergegas tidur, mengumpulkan energi untuk perjalanan esok hari.

Rasanya baru beberapa saat saya tidur ketika matahari pagi menyapa dari sela-sela jendela. Meski di luar sana sang surya bersinar terang, udara terasa sangat dingin. Enggan rasanya berpisah dengan kehangatan selimut berwarna biru yang dipinjamkan oleh pemilik rumah. Namun, rasa lapar memaksa untuk segera bangun dan bersiap untuk memulai petualanagn baru. Hari itu kami mengunjungi beberapa cagar budaya yang ada Lembah Napu. Dari Desa Maholo, kami bergerak menuju Desa Watutau.

Batu berbentuk bundar.

Lokasi pertama yang kami kunjungi ialah Situs Megalitik Watunongko di Desa Watutau, Kecamatan Lore Peore. Pada Situs Megalitik Watunongko, kami melihat berapa batu dengan berbagai ukuran dan bentuk yang unik. Terdapat dua batu besar yang tengahnya berlubang dan terisi air. Kedua batu tersebut masing-masing berbentuk bulat dan menyerupai bentuk perahu.

Situs Megalitik Watunongko tersebar di tengah padang ilalang. Selain dua batu yang saya sebutkan tadi, terdapat beberapa batu lain yang dapat dijumpai jika kita jeli melihat jalan setapak yang terbentuk di antara rimbunnya ilalang. Untuk memudahkan perjalanan, kita bisa meminta masyarakat setempat untuk menjadi pemandu. Warisan budaya di Lembah Napu merupakan kebanggan tersendiri bagi masyarakatnya. Jika beruntung, kita akan bertemu warga yang dengan senang hati mau mengantar dan menceritakan kisah dibalik setiap situs yang didatangi. Waktu itu, kami diantar oleh seorang teman bernama Putri.

Arca yang berdiri di pekarangan rumah warga.

Dari Situs Megalitik Watunongko, kami melanjutkan perjalanan menuju salah satu arca yang berdiri di tengah-tengah pemukiman penduduk, tepatnya di pekarangan rumah warga. Arca dengan tinggi ± 1 meter itu berbentuk manusia dengan jenis kelamin perempuan. Masyarakat menyambut kedatangan kami dengan hangat dan bersemangat menjelaskan bahwa dahulu, arca ini tampak seperti mendukung seorang bayi, namun seiring berjalannya waktu, bagian di punggung arca yang menyerupai bayi menghilang. “Barangkali terkikis air waktu turun hujan”, kata salah seorang ibu di sana.

Tempat ketiga yang kami datangi ialah Situs Megalitik Watulumu di Desa Tamadue, Kecamatan Lore Timur. Dalam perjalanan menuju situs ini, kami melewati kawasan perkebunan yang di dalamnya tumbuh tanaman kol, tomat, daun bawang, kopi, serta banyak tanaman lain. Situs Megalitik Watulumu dikelilingi tanaman kopi baik kopi yang dibudidaya, maupun kopi yang tumbuh liar.

Megalit di situs Watulumu yang pada dindingnya tedapat relief berbentuk wajah manusia dengan berbagai ekspresi.

Terdapat tiga megalit di tempat ini. Megalit pertama berbentuk persegi panjang dengan lubang di tengahnya (mirip bak mandi) yang terisi air berwarna hijau, senada dengan warna lumut di sekitarnya. Pada sekeliling dinding megalit tampak relief berbentuk wajah manusia dengan berbagai ekspresi mulai dari tersenyum, tertawa, sedih, bahkan ada yang terlihat seperti sedang marah.

Megalit kedua dan ketiga di Situs Megalitik Watulumu merupakan dua batu berbentuk setengah lingkaran. Sepertinya, dua megalit ini berasal dari satu batu yang dulunya utuh berbentuk bundar, yang kemudian terbelah atau sengaja dibelah menjadi dua bagian. Satu bagian masih berdiri kokoh, sedangkan bagian yang lain berada dalam posisi terbanting. Melihat batu seperti ini saya berpikir, dengan alat apa masyarakat zaman dulu membelah batu berukuran besar?

Tempat selanjutnya yang kami datangi ialah Situs Megalitik Pekasele, yang ditempuh sekitar 10 menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari Situs Megalitik Watulumu.

Setibanya di Situs Pekasele, kami disambut oleh arca berbentuk manusia yang tingginya ± 3 meter dengan posisi miring – sehingga terlihat seperti setengah berbaring. Tak jauh dari arca itu terdepat pula arca lain dengan tinggi ± 1 meter yang juga berbentuk manusia.

Kedua arca itu terletak di atas tanah berbukit dengan pohon bambu di sisi kiri dan kanannya. Kami mendaki bukit dan pemandangan di atas begitu menakjubkan. Terlihat hamparan batu dengan berbagai bentuk dan ukuran yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Dari sekian banyak bentuk batu, saya berdiri lama di depan dua buah batu yang nampaknya berasal dari satu batu yang dibelah. Irisan pada kedua sisinya terlihat begitu sempurna. Lagi-lagi saya berpikir entah dengan teknologi apa masyarakat zaman dulu membelah batu seperti itu.

Udara di Situs Pekasele terasa sejuk. Gemerisik daun bambu dan suara burung serta serangga menambah indahnya suasana. jika ingin berlama-lama kita dapat beristirahat di gazebo yang terdapat di sekitar situs.

Situs Megalitik Pekasele menjadi akhir wisata budaya kami di Lembah Napu. Masih banyak situs megalitik lain yang tersebar di Taman Nasional Lore Lindu Kabupaten Poso yang akan kami kunjungi dan saya ceritakan di tulisan berikutnya.

Semoga usulan pemerintah memasukkan situs megalit Lore Lindu dalam daftar warisan dunia UNESCO segera terwujud.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.