Lembah Mandalawangi: Lembah Kasih di Gunung Pangrango

1
984
Pemandangan Lembah Mandalawangi Saat Fajar Mulai Menyingsing.

Lembah Mandalawangi sang ‘Lembah Kasih’ terletak tidak jauh dari puncak Gunung Pangrango, hanya sekitar 100 m jauhnya, atau kurang lebih 10 menit perjalanan. Lembah ini merupakan satu dari dua lembah yang di areanya subur ditumbuhi bunga edelweis di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), lembah lainnya adalah Alun-alun Surya Kencana di dekat puncak Gunung Gede.

Perjuangan Menuju Lembah Mandalawangi.

Sebelum menuju Gunung Pangrango, saya bersama ketiga teman saya terlebih dahulu mendaki Gunung Gede hari sebelumnya. Perjalanan saya kali ini adalah sebuah perjalanan lintas jalur untuk mendaki dua puncak gunung sekaligus, Gunung Gede (2958 mdpl) dan Gunung Pangrango (3019 mdpl). Kami berkemah di Kandang Badak yang merupakan pertigaan jalur menuju Gede dan Pangrango.

Energi yang terkuras setelah seharian sebelumnya melakukan perjalanan panjang membuat sesaat sampai di Kandang Badak kami langsung bergegas membangun tenda, mengisi ulang persediaan air, menyiapkan makan malam dan langsung beristirahat untuk esok hari, rencananya kami akan melakukan summit pukul 03:00 untuk berburu sunrise di puncak Pangrango, karena menurut informasi yang kita dapat perjalanan menuju puncak dari Kandang Badak ini memakan waktu kurang lebih 3 jam.

Ditemani hawa dingin yang menusuk tubuh dan kesunyian pagi buta itu kami terbangun, setelah menyiapkan satu ransel berisikan air minum dan jas hujan untuk berjaga-jaga, dan sedikit pemanasan, summit pun kami mulai.

Menikmat Keindahan Mandalawangi.

Kesunyian dalam gelap, sedikit kantuk, dan hawa dingin menemani pendakian menuju puncak Pangrango kali ini. Jalur pendakian menuju puncak Pangrango bisa dibilang sangat terjal, didominasi oleh tanah yang diselingi akar-akar pepohonan sesekali pohon tumbang yang membuat kami harus memanjat atau merangkak melalui bawah untuk melewatinya. Karena keterjalannya, kedua tangan pun sesekali harus digunakan untuk melalui trek ini. Dibandingkan Gunung Gede, Gunung Pangrango bisa dibilang lebih sedikit peminatnya, salah satu faktornya adalah trek menuju puncaknya yang sangat menantang ini.

Setelah melalui trek terjal cukup lama, kemudian trek berubah menjadi datar, yang merupakan pertanda puncak sudah dekat! Sayup-sayup suara pendaki lain terdengar, disambut tugu puncak Gunung Pangrango yang bertuliskan 3019 mdpl dengan latar belakang hutan dan pemandangan langit biru didepannya ini membayar semua Lelah yang telah dilalui. Perjalanan dilanjutkan, kurang lebih 10 menit lagi menuruni jalan dari puncak Pangrango, sampailah kami di Lembah Mandalawangi!

Edelweis Si Bunga Abadi.
Kesunyian Lembah Mandalawangi, Membuat Siapapun Jatuh Hati.

Tidak seluas dan seramai Alun-alun Surya Kencana, kesunyian dan ketenangan Lembah Mandalawangi inilah yang membuat saya jatuh cinta saat pertama kali menapakkan kaki disana, hamparan rumput diselingi bunga edelweis yang masih dibasahi embun pagi, serta sedikit cahaya fajar yang perlahan menampakkan diri dari ufuk timur. Inilah yang saya rindukan! Kesunyian dan ketenangan yang jarang sekali didapatkan di kota-kota besar, ditambah lanskap magic seperti dapat menyihir siapapun yang melihatnya.

Pagi hari memang waktu yang tepat untuk menikmati keindahan dan keajaiban yang disuguhkan Mandalawangi, tak banyak yang kami lakukan disini, kami benar-benar hanya duduk beralaskan rumput mengagumi pemandangan yang eksotis ditemani hembusan angin lembah yang sesekali menghembus, dan sedikit perbincangan yang membuat suasana terasa sedikit hangat dengan pendaki lain.

Lembah Mandalawangi.

Bukan hanya saya, suasana tenang dan sunyi Lembah Mandalawangi seakan sudah menjadi buah bibir di kalangan para pendaki. Sebut saja Soe Hok Gie, seorang aktivis yang juga anggota Mapala Universitas Indonesia ini sangat mengagumi keindahan Lembah Mandalawangi, bahkan abu dari jasad beliau yang meninggal saat mendaki Gunung Semeru ini ditaburkan di lembah ini, Lembah Mandalawangi.

Kekaguman Gie pada Lembah Mandalawangi dan Gunung Pangrango ini dituliskan dalam beberapa puisi buatannya antara lain berjudul ‘Sebuah Tanya’ dan ‘Mandalawangi-Pangrango’. Gie menggambarkan lembah ini dengan sangat apik di setiap bait dalam puisinya tersebut membuat seakan Dia memiliki sebuah ikatan khusus kepada lembah yang Dia beri julukan Lembah Kasih ini.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.