Kopi Kawa, Sejarah Masa Lalu, dan Keindahan Alam

0
229
Kopi Kawa.

Aku terbangun dari tidurku, bingung sesaat ketika kendaraan mendadak berhenti. Seharusnya tidak ada titik pemberhentian lagi dalam perjalanan dari Padang ke Bukittinggi. Titik pemberhentian terakhir dalam itinerary adalah Istana Pagaruyungdi Batusangkar. Seolah membaca kebingunganku, pak supir pun berkata: “Kita berhenti di sini dulu ya. Ngopi dulu.”

Kopi. Tentunya aku akan sulit menolak jenis minuman ini. Tak peduli betapa lelahnya badan yang sudah sejak pagi hari berangkat dari Padang dan berhenti di banyak tempat demi bisa menikmati keindahan Sumatera Barat. “Ini kita di Tabek Patah. Kopinya berbeda. Mbak coba saja masuk dan nanti tahu sendiri kenapa saya bilang beda,” lanjut pak supir sambil aku bersiap-siap beranjak keluar dari mobil.

Pemandangan yang Ditawarkan dari Belakang Kopi Kiniko.
Kopi Kawa dan Sejarah Masa Lalunya

Karena penasaran, aku pun bergegas memasuki tempat yang dimaksud. ‘Kiniko’, begitu nama tempat ini sebagaimana yang tertulis di salah satu temboknya. Terletak di Jalan Raya Batusangkar, Tabek Patah, rupanya ini merupakan kedai kopi sekaligus pabrik kopi.

Di bagian depan tampak toko oleh-oleh. Tetapi aku terus masuk ke bagian dalam, berusaha mencari tahu apa sih yang beda dari kopi di sini. Oh ya, kedai kopi berada di area belakang, menghadap pemandangan yang luar biasa indah. Aku mulai kelabakan sendiri, haruskah memandangi pemandangan yang cantik ini atau mencari tahu tentang kopi yang bikin aku penasaran terlebih dahulu. Dua-duanya sulit aku tolak rasanya.

Akhirnya aku memutuskan untuk mencari tahu soal kopi ini terlebih dahulu. Kopi kawa, begitu nama kopi yang tersedia di sini. Kalau biasanya kopi identik berwarna hitam pekat, kopi kawa justru tidak berwarna hitam, apalagi pekat. Warna kopi kawa cenderung coklat dan bening seperti teh. Ternyata kopi ini memang tidak berasal dari biji kopi, tapi dari daun kopi yang dikeringkan dengan cara diasapi dan disangrai. Daun kopi tersebut ditaruh di atas tungku selama berhari-hari hingga warna daun berubah menjadi coklat. Daun yang sudah kering inilah yang nantinya diseduh.

Suasana di Kedai Kopi.

Kopi kawa di sini disajikan dalam wadah tempurung kelapa sebagai penganti gelas. Katanya dengan cara minum seperti ini akan memberikan kesegaran bagi tubuh dan mampu menetralisir lemak. Kopi kawa disajikan secara gratis di tempat ini. Tetapi yang paling menarik adalah sejarah kopi itu sendiri.

Kopi kawa sudah populer sejak zaman kependudukan Belanda di Sumatera Barat. Pada saat itu kawasan Tabek Patah merupakan kawasan perkebunan kopi saat masa penjajahan. Warga yang dipekerjakan hanya diberi kesempatan untuk menanam, merawat, dan menjaga perkebunan kopi ini tanpa bisa mencicipi kenikmatan olahan biji kopinya. Akhirnya para petani tersebut mengolah daunnya menjadi minuman.

Ada juga yang mengatakan kopi kawa sudah ada sebelum Belanda masuk ke Sumatera Barat karena masyarakat Minangkabau sendiri sudah menanam kopi sejak abad ke-19. Hanya saja mereka tidak tahu kegunaan biji kopi dan akhirnya terbuang begitu saja. Entah kisah mana yang benar.

Menikmati Kopi Kawa.
Kopi Kawa dan Keindahan Panoramanya

Beralih dari sejarah kopi kawa, saatnya menikmati hangatnya kopi ini sambil menatap keindahan panorama yang berada tepat di belakang tempat ini. Sejauh mata memandang terdapat hamparan sawah hijau dengan latar belakang pegunungan.

Duh, rasanya aku ingin membawa pulang latar belakang ini untuk ditampilkan di halaman rumah agar aku bisa menikmatinya setiap hari. Ah, seandainya saja itu mungkin. Tak apa, cukup menikmatinya di Kiniko saja, tepatnya di kilometer 16, Jalan Raya Batusangkar – Bukittinggi. Sambil menikmati pemandangan dan kopi kawa, kamu juga bisa memesan aneka cemilan seperti pisang goreng.

Bagaimana? Tergoda untuk mengunjungi tempat ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.