Konservasi Penyu di TN Karimunjawa

1
394
Konservasi Penyu TN Karimunjawa.

Hari Senin itu berpatroli di kawasan TN Karimunjawa rasanya tidak kunjung selesai. Lelah sudah sangat menghampiriku, terutama kakiku yang dengan bodohnya memakai sepatu boots tanpa kaus kaki. Pak polisi hutan yang bersama kami terus menyemangati dan mengatakan bahwa sebentar lagi kami sampai di tujuan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang dan kami masih berada di dalam kawasan hutan TN Karimunjawa. Temanku yang berjalan di depan bersama dengan Pak PolHut sepertinya sudah sampai lebih dahulu. Aku ingin segera menyusulnya untuk mengistirahatkan kakiku yang  sudah lecet tak karuan.

Vegetasi hutan mulai berkurang dan dari kejauhan sudah mulai tampak hamparan laut, pasir pantai, dan langit yang seolah memanggil-manggil.

“Akhirnya selesai juga perjalanan yang melelahkan di hutan,” pikirku senang.

Jadi ternyata Pak PolHut, sembari mengajak kami berpatroli juga mengantarkan kami menjelajah hutan untuk sampai di pantai yang berada masih di kawasan TN Karimunjawa. Letaknya berada di arah barat tapi masih di sebelah selatan Pulau Karimunjawa. Pantai Pulau Legon Janten namanya. Sebenarnya lokasi pantai berada di satu pulau dengan Pulau Karimun Besar, namun mungkin karena aksesnya melalui laut jadi disebut pulau.

Pantai Pulau Legon Janten merupakan pantai yang dijadikan sarana konservasi penyu. Di sini terdapat sebuah ruangan seperti kandang tempat dilakukannya penangkaran telur-telur penyu yang nantinya akan dilepasliarkan ke pantai.

Pantai Pulau Legon.

Konsep konservasi penyu di TN Karimunjawa dilakukan secara partisipatif oleh masyarakat sekitar. Telur penyu biasanya dibawa oleh para nelayan yang secara kebetulan atau mungkin secara sengaja mendapatkan telur penyu dari manapun di Kepuluan Karimunjawa. Nah, yang menarik yaitu bagi siapapun yang datang dengan membawa telur penyu, maka akan diberikan imbalan berupa uang oleh pihak Taman Nasional. Meski dengan iming-iming imbalan, namun cara ini efektif untuk meningkatkan rasa konservatif dari masyarakat sekitar terhadap populasi penyu.

Telur penyu yang dibawa kemudian disimpan ke dalam sebuh ruangan seperti kandang besar dan dikubur di ember yang berisi pasir. Selama 60 hari telur penyu dibiarkan hingga proses penetasan secara alamiah. Dari ratusan telur penyu yang ditangkar, peluang teluar menetas dengan sempurna hingga 80%.

Telur penyu di tangkaran yang sudah menetas.

Biasanya penyu dilepas ke laut pada waktu sore hari untuk menghindarkan penyu dari berbagai predator seperti elang dan ikan.

Siang itu amat sangat terik dan melelahkan, namun aku dan kawan-kawan tidak menyia-nyiakan kesempatan dan  tetap bersemangat untuk berenang di air pantai yang dangkal. Tiba-tiba dari arah lautan datanglah sebuah kapal yang memuat 4 turis asing beserta tour guide mereka.

Sayangnya aku tidak datang di saat yang tepat untuk melakukan release penyu. Namun aku tetap bisa berenang bersama penyu-penyu kecil yang masih dalam tahap penyesuaian lingkungan.

Penyu-penyu kecil yang masih beradaptasi.

Penyu cilik berenang mengambang di dalam sebuah jaring yang berada di samping panggung dermaga. Aku berenang ke sana kemari disekitaran dermaga sambil bermain dengan ikan-ikan lucu dan penyu cilik yang dikurung.

Oh iya! Selain fasilitas dermaga, di pantai ini juga terdapat dua pendopo besar. Yang satu digunakan sebagai kantor untuk pihak pengelola kawasan dan satunya dapat digunakan untuk umum. Terdapat juga bilik kamar mandi umum yang dapat digunakan jika dibutuhkan.

Untuk sampai ke sini, biasanya kita bisa mengontak pihak balai terlebih dahulu sehingga pengunjung bisa dijemput dan diantar dengan menggunakan kapal. Satu-satunya akses lewat darat harus dengan mendaki gunung dan melewati lembah yang sangat menyusahkan sekali. Itupun harus memiliki peta alias GPS.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.