Klenteng Gie Yong Bio: Wisata Religi Sejarah di Lasem

0
965
Klenteng Gie Yong Bio

Lasem adalah sebuah daerah di kawasan utara Jawa Tengah. Daerah Lasem identik dengan wisata budaya dan sejarahnya yang sangat khas, karena adanya akulturasi atau perpaduan budaya antara warga lokal Nusantara dan Tionghoa sejak ratusan tahun lalu.

Wisata di Lasem bermacam-macam, mulai dari wisata alam sampai religi, sekaligus sejarah dan budaya. Lasem tidak hanya terkenal dengan komplek Tiongkok Kecil yang legendaris itu, tapi juga dengan Klenteng yang unik dan bersejarah. Salah satu klenteng yang bersejarah adalah Klenteng Gie Yong Bio.

Klenteng Gie Yong Bio adalah satu dari tiga klenteng di Lasem, yaitu klenteng Cu An Kiong dan klenteng Po An Bio. Sepintas, ketiga klenteng ini mirip dan sama. Tetapi jika kita mengulik dan mendengar ceritanya lebih dalam, tentu akan banyak sekali nilai yang bisa kita dapat.

Mural di Klenteng Gie Yong Bio.

Pada hari Rabu, 10 April 2019, saya berkesempatan mengunjungi klenteng Gie Yong Bio. Dari arah Masjid Jami Lasem, saya menyusuri jalan “pantura” dengan sepeda onthel. Truk gandeng dan bis besar lalu lalang di jalanan, sibuk dan padat. Tapi, rasanya tentram sekali berkeliling Lasem dengan sepeda onthel tua, menikmati jalan dan gedung antik, nikmat! Kurang lebih 10 menit bersepeda, sampailah saya di pelataran klenteng Gie Yong Bio.

Aroma hio (seperti dupa) menyambut, beruntung sore itu cuaca cukup teduh, sambutan hangat dari semesta dan klenteng. Setelah masuk ke area klenteng, saya menyapa penjaga dan meminta izin  untuk berkunjung. Penjaga klenteng mengizinkan dan saya pun diperbolehkan masuk ke dalam.

Sebenarnya, bangunan klenteng tidak terlalu besar. Dibanding klenteng-klenteng lain yang ikonik di Jawa Tengah, maka klenteng ini tergolong kecil. Halaman dan luas bangunannya sedang, tidak terlalu besar, walaupun halaman depan klenteng cukup luas.  Setelah mendapat izin, saya pun membuka alas kaki dan masuk ke dalam klenteng.

Altar Klenteng.
Cerita Tiap Sudut.

Entah mengapa, ketika mulai masuk ke bangunan klenteng, sudut-sudut bangunan seakan bercerita. Mulai dari tempat dupa di halaman, patung hanzi (singa) di halaman, sampai lukisan lukisan mural di dinding. Semuanya seakan memiliki cerita dan sedang menceritakan sebuah kisah.

Tempat ibadah ini adalah salah satu yang tertua di Lasem, bahkan daerah pulau Jawa. Klenteng ini dibangun pada tahun 1780, tujuannya untuk beribadah dan menghormati pahlawan Lasem. Tahun 1740, terjadi perang antara masyarakat Tionghoa Lasem dan VOC. Pertempurannya sangat sengit dan mengerikan, pertempuran itu disebut sebagai Geger Pacinan.

Altar Panji Margono.

Ada tiga pahlawan Lasem yang berjasa ketika melawan VOC, yaitu Oei Ing Kiat, Tan Kie Wee, dan Raden Pandji Margono. Ketiga pahlawan ini diperingati dan dihormati, ketiganya dibuatkan altar, dan dihormati oleh masyarakat Tionghoa Lasem. Termasuk Raden Pandji Margono, yang notabene merupakan seorang tokoh ningrat Jawa dan beragama Islam. Tetapi, Raden Pandji Margono tetap dibuatkan altar dan altarnya diperlakukan seperti altar lain di klenteng ini. Unik, kan?

Nah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika ingin berkunjung ke Klenteng Gie Yong Bio. Pertama, kita harus menjaga tata krama dan sopan santun saat mengunjungi klenteng, karena klenteng adalah tempat ibadah yang sakral, seperti masjid, vihara, pura, dan gereja, maka kita harus menghormati semua peraturan dan adab disini. Kedua, jika akan datang berkunjung, mintalah izin kepada pengurus klenteng terlebih dahulu, apalagi jika sedang ada kegiatan ibadah. Ketiga, jika ingin mengambil foto atau video, meminta izinlah kepada pengurus klenteng.

Jadi, tertarik berkunjung ke Klenteng Gie Yong Bio?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.