Kepingan Alam di Pantai Pink – Lombok Timur

0
470
Sunset Di Bukit pantai pink

Nama panggilan saya ‘Rull’, Pengalaman yang paling terkesan yang mengenang di memori saya sampai saat ini, saya merasa bahagia dapat menceritakan pengalaman ini ke dalam bentuk narasi dan sekaligus merekomendasikan tempat ini untuk dikunjungi sama sahabat sekalian. Bermula ketika saya bekerja disalah satu resort yang tidak jauh dari Pantai Pink yakni menempuh sekitar 60 menit dari tempat saya bekerja pada hari Selasa tanggal 16-April 2017. Kami waktu itu empat orang berencana untuk jalan-jalan untuk mengisi waktu yang tersedia, singkatnya menghabiskan waktu sore harinya untuk menikmati indahnya kepingan surga alam sekitar sini, sekaligus sebagai perpisahan keluarga saya yang datang jauh-jauh dari Finland, yang mana saya sangat kangen sama mereka sampai saat ini, mereka berdua datang ke pulau lombok dengan kesibukan rutinitas yang padat di high season saya harus berusaha menghabiskan waktu bersama mereka.

18 April 2017 jam 2 siang cuaca sudah mulai bersahabat, kami memutuskan untuk berangkat menggunakan sepeda motor dari resort tempat saya bekerja yakni ‘Heaven On The Planet Resort’ Desa Ekas Kecamatan Jerowaru Lombok Timur, di perjalanan di daerah ini aktivitas orang-orang terlihat di sepanjang jalan berada di depan rumah, seketika lewat kami ditegur sapa dan dipanggil ‘tourist-touris’ bule, saya menegur sapa dengan penduduk jika ada teman yang lewat, saling menyapa satu sama lain ketika berpapasan/lewat itu sudah membudaya di daerah kami. Dengan kecepatan sedang fokus ke jalan yang mana lumayan sepi kami tetap santai mengendara, setelah menempuh kurang lebih 35 menit kami di Desa Sekaroh kami menemukan jalan sudah tidak berasfal lagi, jalan terlihat seperti jalan di desaku pada 15 tahun yang lalu, setelah melalui rumah-rumah penduduk kami sampai di daerah kehutanan yang mana rumah penduduk sudah tidak terlihat lagi, di sekeliling kami sudah mulai melihat pohon-pohon liar, terlihat seperti taman-taman impian yang memukau, monyet-monyet menyapa kami sepanjang jalan, mungkin harapan mereka ingin dilemparkan segumpal sisa makanan, kami sudah mulai melihat wilayah pantai, laut lepas yang biru dihalangi oleh pohon-phon, membuat pemandangan semakin bervariasi, kami mengobrol mengenai tempat ini pada 5 tahun kedepan sambil mengendara, kami berpendapat mungkin akan jauh beda nantinya, atau mungkin bangunan-bangunan hotel akan mulai mengisi tempat ini, kami dilema kami tidak mau pemandangan indah ini, lenyap ditelan bangunan beton, syukur wajah asli tempat ini masih bisa kami nikmati walaupun banyak sudah perencanaan tentang tempat ini. Harapan kami waktu itu semoga pembangunan wilayah ini menggunakan cara yang berkelanjutan.

Pantai Pink – Lombok Timur

Kurang lebih jam 4 sore kamipun mulai masuk ke jalan menuju Pantai Pink, kemudian kami memarkirkan kendaraan, setiba disana keluarga Finland saya sudah mulai teriak senang, mereka kelihatan bahagia, ceria dan mengangkat-angkat tubuhnya, mungkin mereka terlalu bahagia, kami benar-benar menghirup udara segar. Bagi saya setelah letih bekerja berbulan-bulan letih itu hilang begitu saja sekejap, saat itu seolah-olah ada satu saja yang ada dibenak saya yakni tempat ini langit-langit seperti mereka berbeda dengan langit yang kita lihat setiap harinya, sungguh alami sebagian bukit-bukit membatasi air laut, pasir berwarna pink dicampur dengan warna putih membuat pancaran warna yang menakjubkan, matahari pun ikut memberikan warnanya sehingga taklah kita tidak bersyukur, waktu itu saya benar-benar dalam keadaan bersyukur total sambil membayang-bayang setiap gambaran alam yang ada disana.

Gili Petelu di Pantai Pink – Lombok Timur

Hari sudah mulai gelap pukul 5:40 , kita memutuskan untuk menghabiskan waktu sunset di resort di mana jarak antara Pantai Pink hanya 6 menit memakai kendaraan, resort ini sangat private dimana orang luar tidak boleh masuk karna alasan privasi, akan tetapi jika kita hendak membeli sesuatu di restorannya kita akan diberikan akses masuk seperti tamu kamarnya, selain itu juga saya bertemu banyak teman lama semasih bangku sekolah menengah dulu, yang mana mereka sekarang bekerja di resort tersebut, sayapun langsung disambut mereka dengan senang hati, waktu itu saya tidak memberitahu mereka sebelumnya bahawa saya akan berkunjung ke tempatnya. Kemudian pelukan untuk teman-temanku sambil mengungkapkan rasa rindu, mengobrol sejenak menanyakan perihal hidup sekarang satu sama lain yang sudah berubah pesat, saya mengatakan ‘lain kali saya akan sering-sering bersilaturohmi dengan kalian jika ada waktu luang nanti’, setelah saya memperkenalkan keluarga yang saya bawa, mereka mempersilahkanku untuk kedepan dimana private pantai dan restauran berada disana, setiba didepan untuk kedua kalinya keluarga Finland saya teriak senang dan lebih dari itu kali ini mereka menari-nari di tepi pantai, mereka memelukku, mereka berlari-lari lepas memandang langsung ke samudra Hindia langsung ke lautan lepas, resort kecil ini memang dikembangkan dengan sangat sederhana bangunan ini terdiri dari enam kamar berjenis bungalow, kebanyakan matrial berasal dari kayu dan bambu kelihatan tidak ada coran semen, satu restauran tenda yang sangat sederhana, sedangkan semua bangunan menghadap ke pantai yang berjarak sekitar 10 meter, kamar-kamar langsung berhadapan dengan pantai tanpa ada halang pandangan, semua operational listrik disini menggunakan generator berhubung listrik belum sampai ke kawasan resort, sedangkan air bersih masih dibeli menggunakan truck-truck.

Sunset di Bukit Pantai Pink , Lombok Timur

Matahari akan tenggelam segera, hembusan angin pantai meniup dengan sedang, kuhirup udara segar, sedangkan keluarga yang lain kelihatan mereka semua sedang melamun masing-masing tidak berbicara apa-apa kita seolah-olah menikmati sendiri keadaan alam ini. Saya sendiri waktu itu sedang melihat langit di ujung laut yang sangat jauh, kulihat berbagai macam warna langit yang akan berubah menjadi malam, laut dan langit kelihatan dekat sekali, mereka seolah-olah berdekatan satu sama lain, lautan Hindia seperti sebagai sebuah tempat dimensi yang saya rindukan, alam begitu bersahabat disini, cuaca, pemandangan dan hewan-hewannya seolah-olah mengatur supaya manusia bisa menikmatinya. Mereka seperti satuan yang kita percaya bahawa mereka sudah pasti indah jika mereka disyukuri keberadaannya, disisi pemandangan lain lampu-lampu nelayan sudah mulai terlihat rupanya mereka sudah meninggalkan rumah gubuknya untuk memulai mencari nafkah keluarga, lalu lalang mereka ke arah laut lepas menambah pemandagan yang saya lihat, waktu itu kegelisahaan ketakutan hidup hilang entah kemana, mereka seolah-olah takut akan tempat itu, sedangkan keluarga saya entah apa yang mereka pikirkan, mungkin sama seperti apa yang saya lihat dan rasakan. Kami tidak berbicara sampai setengah jam sibuk dengan pikiran masing-masing padahal jarak kita duduk hanyalah berjarak lima sampai sepuluh meter.

Sudah larut malam di tengah-tengah remote area semua tidak terasa sudah jam 9:30 Pm waktu yang cukup malam di kawasan sepi dan terpencil ini. Akan tetapi langit tidak berubah seolah-olah kita tidak merasakan perubahan apapun ketika langit memasuki malam hari, malam itu seperti terang tidak ada gelapnya malam yang terasakan, kita bergerak melangkah kearah yang sama yaitu ketengah-tengah pantai lalu kemudian duduk bersama dengan lebih rapat “Rull jika saya jadi orang kaya engkau dan Anet akan kubuatkan rumah kecil disini” akan ku bawa kalian berlibur ke tempat ini sesering mungkin, begitulah keluarga Finland mengucapkan kalimat akan tetapi saya menjawab ibu walaupun kita tidak kaya kita masih bisa menikmati alam ini selama kita mensyukuri apa yang ada disekitar kita. Saya betul-betul bahagia saat ini walaupun rumah saya dekat dari sini saya tidak pernah merasakan moment seperti ini, sekaligus tidak pernah menghabiskan waktu untuk diriku sendiri sampai malam hari di tempat seperti ini, tanpa merasakan waktu yang begitu cepat dan tidak memandang waktu kapan saya akan pulang.

Kami memutuskan untuk pulang walaupun malam sudah larut, sekian cerita saya dari gubuk kecil desa kecil pulau kecil Indonesia bagian tenggara, saya bangga dan bersyukur hidup disini di pedesaan walaupun masih banyak kekurangan. Semoga kita semua lebih mencintai alam dan selalu mensyukuri apa yang kita punya saat ini, saya bangga sekali hidup di pedesaan. Saya bangga Indonesia, Sekian Salam dari Lombok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.