Keindahan Flora dan Fauna dibalik Pendakian Gunung Ciremai

0
450
Kacamata gunung / Zosterops montanus.

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung setinggi 3078 mdpl ini menjadi salah satu favorit bagi para pendaki karena menawarkan petualangan yang seru selama perjalanannya. Pada kesempatan ini saya akan bercerita tentang pengalaman melakukan pendakian di Gunung Ciremai jalur Palutungan. Perjalanan kali ini membuat berkesan karena selain mempunyai pengalaman mendaki Gunung Ciremai saya dapat menikmati keindahan flora dan fauna di hutan Gunung Ciremai.

Jalur Palutungan memiliki jarak tempuh kurang lebih 14 Kilometer dari basecamp hingga puncak. Jalur lainnya pada Gunung Ciremai adalah jalur Apuy, Linggasana dan Linggarjati.

Saya memulai perjalanan dari Purwokerto menuju basecamp Palutungan menggunakan sepeda motor. Basecamp jalur Palutungan terletak

Seperti biasa setelah sampai basecamp melakukan registrasi dan pengecekan alat terlebih dahulu sebelum berangkat. Biaya registrasi plus sudah mengurus SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) sebesar 50 ribu Rupiah per orang.

Perjalanan menuju pos 1 Cigowong memakan waktu selama 2,5 jam. Kami beristirahat cukup lama di pos 1 dan setelah itu langsung melanjutkan perjalanan menuju pos dengan target untuk mendirikan camp.

Perjalanan adalah momen yang harusnya sangat dinikmati bagi seorang pendaki gunung. Selama perjalanan saya mendokumentasikan beberapa flora dan fauna menarik yang kami temui.

Setelah melakukan perjalanan sekitar 50 menit akhirnya kita mencapai Pos 2 Kuta. menuju Pos 3 Paguyangan badak memakan waktu sekitar 50 menit. Setelah itu Pos 4 Arban ditempuh dalam waktu kurang lebih 1,5 jam. Pos 5 Tanjakan Asoy dengan ciri khas tanjakannya yang benar-benar asoy kami tempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit.

Coelogyne tomentosa.

Selama diperjalanan menuju pos 6 Pasanggrahan kami menemukan salah satu Tumbuhan Anggrek yang indah. Anggrek tersebut mempunyai nama ilmiah Coelogyne tomentosa. Anggrek yang tumbuh di tanah ini (litofitik) diperindah dengan bunga berwarna kuning. Coelogyne tomentosa dapat ditemukan di hutan pegunungan pada ketinggian 1500-2000 mdpl. Sungguh kesempatan yang menyenangkan dapat melihat anggrek ini saat sedang berbunga, karena anggrek sendiri tidak berbunga setiap bulan.

Pos 6 Pasanggrahan akhirnya dicapai dalam waktu kurang lebih 1 jam. Kami segera mendirikan tenda dan makan malam. Malam hari kami habiskan dengan istirahat.

Pagi hari setelah sarapan saya pun mencoba menikmati suasana pagi di sekitar tenda. Terlihat banyak burung-burung berada di sekitar tenda mencari makan dari sisa makanan para pendaki, beberapa memburu cacing tanah yang ada di lokasi camp. Burung-burung ini begitu santai hinggap di tanah dan terbang pendek kesana-kemari. Saya pun tidak membuang sia-sia momen ini dengan mengabadikannya melalui kamera. Setelah di Identifikasi terdapat dua jenis burung yaitu Anis Gunung dan Anis Sisik yang terdapat di sekitar tenda.

Anis sisik / Zoothera dauma.

Anis sisik atau dengan bahasa latin Zoothera dauma. Anis Sisik ini memiliki tubuh berwarna coklat dengan motif berenda dengan warna kuning emas dan hitam yang membuat motifnya seperti sisik.

Burung kedua yang kami temui adalah Anis Gunung atau bahasa latinnya Turdus poliocephalus. Bagi kawan-kawan yang sering mendaki gunung pasti sudah sangat familiar dengan burung ini. Burung ini memiliki warna hitam dan paruh serta lingkar mata kuning. Pada gunung-gunung Pulau Jawa, Anis Gunung ditemukan mulai dari ketinggian 2000 mdpl. Sangat mudah sekali menemukan Burung yang satu ini, mulai di lokasi camp, di perjalanan hingga beberapa dapat ditemukan di puncak gunung. Anis Gunung di percaya merupakan burung yang sering menuntun para pendaki gunung agar tidak tersesat.

Setelah puas memotret burung yang lincah-lincah ini, saya dan teman pun langsung melanjutkan perjalanan menuju puncak. Untuk menuju Pos 7 Sanghyang Ropoh memakan waktu kurang lebih 1,5 jam.

Bagi kawan-kawan yang ngidam buah selama perjalanan, arbei hutan dapat dengan mudah dipetik saat mulai memasuki puncak. Arbei hutan dengan nama latin Rubus sp. ini berwarna merah pada buah yang matang. Buah yang telah matang terasa segar dengan sedikit rasa asam. Tanaman dari buah ini merambat dan berduri, jadi berhati-hati ya dalam memetiknya.

Ceret gunung / Horornis vulcanius.

Selama mendekati daerah puncak burung-burung pun masih banyak dijumpai. Salah satunya adalah si berisik yang suka bersembunyi di semak-semak yaitu ceret gunung atau dengan nama ilmiah Horornis vulcanius. Burung berukuran kecil ini berwarna coklat dengan bagian bawah tubuh putih kekuningan. Jika dilihat dari dekat burung ini memiliki motif seperti alis berwarna putih di atas matanya.

Burung lain yang tidak kalah ramainya adalah kaca mata gunung atau para kicau mania menyebutnya dengan pleci. Burung dengan nama ilmiah Zosterops montanus dapat sangat mudah dikenali dengan lingkar putih pada matanya. Tubuh berwarna hijau dengan bagian bawah putih. Burung ini sangat lincah sekali terbang berkelompok dan memakan buah-buahan di semak-semak.

Akhirnya kami sampai dalam waktu kurang lebih 1 jam menuju Pos 8 Goa Walet 1 jam. Dari Goa Walet menuju puncak sudah cukup dekat dan memakan waktu kurang lebih 30 menit.

Selayang pandang dari Gunung Cermai.

Akhirnya pun kita mencapai puncak. Cuaca Puncak Ciremai hari itu sangat cerah dengan angin yang berhembus dengan santai, awan stratokumulus menghampar luas di langit. Anis gunung pun masih setia menemani perjalanan kami dari camp sampai puncak.

Setelah puas di puncak kami turun menuju camp. Kami tidak lama di camp hanya makan siang dan langsung segera packing untuk turun. Setelah sampai basecamp kami mendapatkan makanan dari basecamp.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.