Keindahan Atap Tertinggi di Jawa Tengah, Gunung Slamet

1
629
Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau dari Gunung Slamet.

Tempat wisata di Indonesia memang tidak ada habisnya. Sebagian orang beranggapan bahwa berwisata merupakan salah satu kebutuhan yang harus dilaksanakan untuk menghilangkan kejenuhan atau kebosanan akibat aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Selain wisata bahari yang menjadi keunggulan di Indonesia, gunung-gunung yang dimiliki oleh negara ini juga menyimpan keindahan tersendiri. Gunung-gunung yang ada di Indonesia sebagian besar merupakan gunung yang masih aktif. Hal ini dikarenakan di Indonesia berada pada jalur pertemuan lempeng benua sehingga banyak menghasilkan rangkaian gunung api.

Gunung Slamet merupakan salah satu gunung yang masih aktif dengan jenis gunung stratovulcano. Gunung ini terletak di 5 kabupaten yaitu Kabupaten Banyumas, Brebes, Tegal, Purbalingga dan Pemalang. Memiliki ketinggian 3.428 mdpl menyebabkan gunung ini diberi nama “atap Jawa Tengah” karena gunung ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Gunung ini memiliki beberapa jalur pendakian, untuk pendaki pemula disarankan untuk mendaki lewat jalur Bambangan, Kabupaten Purbalingga karena memiliki jalur yang lebih bersahabat.

Perjalanan kali ini dimulai dari Cirebon. Pada saat itu saya lagi melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di salah satu desa di Cirebon. Sebelum KKN saya dan beberapa teman memang sudah merencanakan untuk naik Gunung Slamet ini. Dua minggu setelah KKN kami berangkat dari Cirebon menuju Purwokerto menggunakan kereta api. Sebenarnya selama KKN kami tidak boleh meninggalkan desa kami kecuali urusan yang benar-benar penting. Karena kami sudah membawa peralatan naik gunung dan sudah di rencanakan dari jauh hari kami pun nekat tetap berangkat (jangan ditiru ya!).

Biaya tiket kereta api dari Stasiun Cirebon Prujakan – Stasiun Purwokerto sekitar Rp150.000 untuk tipe ekonomi. Perjalanan dari Cirebon menuju Purwokerto memakan waktu sekitar 2 jam. Kami berangkat dari Cirebon sekitar pukul 8 pagi dan sampai ke Purwokerto sekitar jam 10. Sesampainya di Purwokerto, kami sudah disambut oleh sopir-sopir yang menawarkan untuk mengantarkan menuju basecamp. Salah satu sopir mendekati kami dan menawarkan carter mobil harga Rp250.000 untuk biaya menuju basecamp. Karena kami berempat dan tidak mau ribet. Jika harus naik angkot akan merepotkan karena kami ingin membeli logistik terlebih dahulu. Akhirnya kami putuskan untuk naik mobil ini. Ditengah perjalanan kami membeli logistik terlebih dahulu dan berhubung kami tidak membawa tenda, kami juga menyewa tenda dengan harga sekitar Rp35.000 per 24 jam.

Gerbang masuk jalur pendakian Pos Bambangan.

Setelah semua logistik dan peralatan sudah lengkap, kami melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Purbalingga karena melewati jalur Bambangan. Kami sampai di basecamp sekitar pukul 13.00. Di jalur ini ada dua basecampbasecamp atas dan basecamp bawah.  Kami langsung melakukan registrasi untuk pendakian, biaya per orang yaitu Rp5.000. Karena kami ingin santai, maka kami melakukan pendakian keesokan harinya. Hari itu kami hanya menghabiskan waktu untuk istirahat dan packing peralatan untuk mendaki keesokan harinya. Di basecamp ini tidak perlu khawatir kelaparan atau panik ketika lupa membawa sesuatu karena di sini banyak terdapat tempat makan dan menjual peralatan pendakian.

Keesokan paginya kami berangkat dari basecamp sekitar pukul 06.00 karena kami tidak ingin kepanasan dan santai ketika mendaki. Di awal perjalanan, kami melihat perkebunan milik warga seperti kol, sawi dan masih banyak lagi. Di belakang kami juga terlihat sekilas Gunung Sindoro dan Sumbing yang juga menjulang. Sekitar satu jam berjalan kami sudah memasuki hutan dan jalan mulai mengecil. Karena kami pemula dan ingin menikmati perjalanan, maka kami sampai di pos 5 sekitar pukul 14.00. Jalur yang kami lalui adalah jalur berpasir sehingga ketika kami jalan banyak debu yang beterbangan. Kami mendirikan tenda di pos 5 karena banyak pendaki yang turun dan menyarankan kami bertenda di sana. Menurut mereka di pos 5 tempatnya cukup bagus dan memang benar.

Salah satu pos yang menjadi tempat singgah para pendaki.

Setelah membangun tenda dan membersihkan diri, kami berempat langsung tidur dan terbangun pukul 16.00. Di luar tenda awalnya banyak tempat yang kosong kini banyak tenda yang sudah berdiri. Cuaca mulai dingin dan ternyata di samping kami ada pendaki yang menyalakan api unggun. Meskipun tidak besar tetapi cukup untuk menghangatkan diri. Karena kami kedinginan, mulailah kami “SKSD” dan ikut untuk menghangatkan diri. Sebenarnya menyalakan api unggun di gunung itu tidak boleh karena jika lalai maka akan menyebabkan kebakaran. Namun ternyata orang yang membuat api unggun itu adalah porter yang sedang menemani pendaki untuk naik. Karena dia berpengalaman dan merupakan orang setempat, maka tak ada masalah jika dia menyalakan api unggun.

Di sini juga kami berkenalan dengan pendaki yang berasal dari Jakarta dan bersepakat untuk naik puncak bareng. Malam itu ditutup dengan makan nasi goreng ala kadarnya. Meskipun sederhana tetapi begitu nikmat rasanya jika di atas gunung. Pukul 02.30 kami bangun dan bersiap-siap menuju puncak. Sebelum itu kami sarapan dahulu dengan sup makaroni dan energen ditambah susu (kalian harus coba!). Setelah itu, kami berkumpul dan bersama-sama menuju puncak.

Awal perjalanan melawati kebun-kebun warga.

Perjalanan menuju pos 8 memakan waktu sekitar 2 jam dan dari pos 8 menuju puncak memakan waktu kurang lebih 2 jam juga. Rencananya kami mengejar sunrise di pucak gunung tetapi matahari muncul sebelum kami mencapai puncak. Namun itu tidak menghalangi keindahan Gunung Slamet. Sekitar pukul 7.30 kami mencapai puncak Gunung Slamet. Ada kebanggan tersendiri ketika kami sudah mencapai puncak tetapi bukan itu tujuan utama kami naik gunung. Yang terpenting dan nomor satu adalah keselamatan.

Setibanya di puncak, lelah sudah tidak ada lagi, lautan awan dan matahari yang baru timbul yang sangat jarang kami temukan membuat rasa-rasa letih itu hilang. Dari atas ini kami dapat melihat gunung-gunung lain yang tinggi menjulang seperti gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau. Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat juga dapat terlihat dari atas sini. Sungguh pemandangan yang indah sekali. Setelah puas makan, minum, dan foto-foto, kami lalu turun kembali ke pos 5 yang ternyata hanya sebentar saja jaraknya. Hanya memerlukan waktu 2 jam saja dan kami sudah sampai kembali ke pos 5.

Puncak Gunung Slamet.

Sekitar pukul 13.00 kami turun dari Gunung Slamet. Di setiap pos pemberhentian terdapat warung-warung yang menjual makanan dan minuman. Jadi kalian tidak perlu khawatir kehabisan air meskipun harganya lebih mahal dibandingkan dengan harga biasanya. Kalian jangan lupa mencoba buah semangka yang dijual di sini karena rasanya yang manis dan cuaca yang dingin menambah kenikmatan semangka tersebut. Jangan lupa juga untuk membawa sampah kalian ketika kalian turun karena gunung bukan tempat sampah. Pukul 17.00 kami sampai di basecamp dan kami pun langsung bersih-bersih. Malam itu juga kami berangkat menuju Cirebon menggunakan bus karena tiket kereta menuju Cirebon sudah habis. Perjalanan menggunakan bus memakan waktu dua kali lipat lebih lama dibandingkan dengan kereta api.

Jadi buat kalian yang ingin berpergian, jangan lupa untuk mempersiapkan rencana kalian dengan matang, kapan kalian datang dan pulang harus dipikirkan dengan baik agar tidak seperti kami yang kehabisan tiket kereta. Oh iya, jangan lupa membawa peralatan tidur yang memadai karena suhunya sangat dingin.

1 COMMENT

  1. Maa Syaa Allah, Alhamdulillah, Tabarakallah. Teruslah keliling mengunjungi bumi Allah. Dan teruslah menulis. Semangat ya kak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.