Kei, The Hidden Paradise in Maluku

0
130
Pulau Bair yang mempesona.

Pada Desember 2018, saya dan dua orang teman berada di Kei. Sebuah kepulauan yang menjadi bagian dari Provinsi Maluku. Kei begitu memesona dengan pantai-pantainya yang begitu indah. Tetapi untuk sampai ke sana, kami harus melakukan perjalanan panjang yang begitu menantang mengingat kami bertiga adalah perempuan.

Perjalanan itu dimulai dari pedalaman Papua. Kami bertiga bertugas di pedalaman Papua sebagai seorang guru penggerak. Di akhir tahun kami memutuskan untuk pergi ke Maluku untuk mengunjungi kampung halaman saya. Untuk menghemat biaya, perjalanan kami menggunakan kapal.

Kami menggunakan kapal Sabuk Nusantara 114 dari distrik (kecamatan) Bade menuju Tual (Kei Kecil). Perjalanan sangat menantang, banyak hal yang kami alami selama menempuh perjalanan tersebut. Mulai dari berjualan di kantin kapal membantu ABK yang sudah memberikan tempat tidur gratis bagi kami di ruangan mereka, menghadapi ombak yang ganas sampai mual dan muntah, harus menempuh perjalanan 9 hari lamanya karena gelombang yang besar dan kapal tidak diizinkan keluar di beberapa pelabuhan, hingga harus membantu menemani penumpang kapal yang hendak melahirkan.

Dalam perjalanan itu Tuhan mempertemukan kami dengan banyak sekali orang baik yang membantu kami. Meskipun terlihat penuh tantangan tetapi perjalanan kami di akhir tahun kemarin membuat kami dapat mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Seperti Agats, Asmat yang dijuluki Kota Diatas Papan, Timika yang dijuluki Kota Dolar, Dobo Kepulauan Aru, dan berkeliling Tual, Kei Kecil.

Kuliner Khas Kei, Pisang Enbal.

Kami sampai di Tual malam hari, dan menumpang di salah satu kenalan saya yang bersedia menampung kami. Tual sendiri begitu mempesona kami dengan pantainya yang begitu cantik. Kami berkeliling Tual dengan menggunakan motor dan diantar oleh dua orang teman kuliah saya. Pertama-tama kami pergi ke Pantai Ngurbloat yang pasirnya sehalus terigu. Di sana kami mencoba kuliner khas Kei yaitu pisang enbal, sambil menikmati pemandangan matahari terbenam.

Keesokan harinya kami mengunjungi Pantai Ohoidertawun. Pantainya juga tak kalah memesona, dengan pemandangan yang sangat cantik. Dari Pantai Ohoidertawun kami pergi ke Bukit Masbait. Sebuah tempat wisata religi dan bukit doa bagi umat Katolik. Dari atas bukit Masbait terlihat gugusan pulau yang begitu indah di antara laut yang biru.

Selajutnya kami mengunjungi Goa Hawang. Goa Hawang merupakan goa dengan air tawar yang sangat jernih dan sejuk. Belum sampai setengah jam kami mandi dan berenang, kami sudah kedinginan karena airnya yang begitu sejuk.

Pemandangan di Ohoi Letman.

Keesokan harinya kami menuju Pulau Bair. Sebuah pulau dengan laguna yang tersembunyi di tengah gugusan karang. Untuk menuju Pulau Bair, kami mengeluarkan budget sebesar Rp 500.000,- untuk menyewa Speed Boat dari pelabuhan Dullah ke Pulau Bair. Perjalanan ditempuh sekitar 1 jam. Ketika sampai di sana kami dibuat terpesona dengan pemandangan yang begitu luar biasa indahnya. Sebuah Laguna dengan air yang begitu jernih, tersembunyi diantara gugusan karang. Kami bersyukur kepada Tuhan untuk alam ciptaan-Nya yang begitu indah ini.

Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata di Tual, Kei, saya akhirnya tak heran mengapa Kei dijuluki sebagai The Hidden Paradise. Traveling yang saya lakukan bersama teman-teman mengajarkan saya satu hal, bahwa “Traveling itu bukan tentang seberapa banyak uang yang kita siapkan untuk berjalan, tetapi tentang seberapa besar nyali yang kita punya untuk melangkah.” Ada banyak surga tersembunyi di sekitar kita, dan kita hanya perlu nekat untuk menikmatinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.