Katedral Jakarta: Loka Tua di Jantung Metropolitan

0
1916
Katedral Jakarta
Bangunan utama Katedral Jakarta. Tampak megah dan agung.

Lima tahun lalu, saya memandang kagum pada tiga buah menara tinggi menjulang di pusat kota Jakarta. Menara itu bukanlah gedung beton bertingkat, melainkan sebuah kerucut berwarna putih yang di pucuknya berdiri simbol salib.

Sebelum kereta api yang membawa saya pulang kembali ke Yogyakarta bertolak, saya punya waktu empat jam. Jarak dari Gambir ke tiga menara itu tidaklah jauh. Saya lalu berjalan kaki, mengikuti trotoar lebar sambil dibantu aplikasi Google Maps. Tak sampai setengah jam, saya pun tiba.

Bangunan dengan tiga menara di pucuknya ini tak lain tak bukan adalah Gereja Katedral Jakarta. Gereja ini memiliki nama resmi sebagai Gereja Santa Maria Diangkat Ke Surga, atau dalam bahasa Belanda tertulis begini: “De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming”. Fasad depan katedral sangat kental dengan nuansa Eropa. Berdasarkan catatan sejarahnya, gereja ini rampung dibuat pada tahun 1901 dan arsitekturnya menggunakan gaya neo-gotik. Meski demikian, bangunan katedral ini sejatinya bukanlah bangunan gereja katolik yang pertama di Jakarta (dulu Batavia).

Katedral dalam linimasa singkat 

Meski Katedral Jakarta sejatinya adalah rumah ibadah bagi umat Katolik, tetapi pintunya selalu terbuka bagi semua orang. Saya yang bukan penganut Katolik pun dapat masuk ke dalamnya dan menikmati setiap detail keindahannya. Jika datang pada siang hari, Katedral Jakarta juga memiliki bangunan lain yang difungsikan sebagai museum. Di sana kita dapat mengikuti tapak tilas perjalanan gereja Katedral dari masa lampau hingga ke masa kini.

Katedral Jakarta
Temaram lilin yang meneduhkan.

Kontras dengan kondisi Jakarta yang bising dan padat, Katedral adalah kebalikannya. Suasananya tenang. Orang-orang datang dengan sikap khidmat. Saya berjalan masuk ke dalam lewat pintu samping. Setelah pintu kayu yang ukurannya besar dibuka, deretan bangku dipelitur coklat berjejer rapi. Bangku-bangku ini kosong jika tidak sedang ada ibadat. Saya berjalan memutari seisi ruangan sebelum memilih duduk di deretan tengah.

Katedral nan megah ini sebenarnya ukurannya tidak besar-besar amat. Jika sedang penuh umat, kapasitasnya mungkin cuma sekitar 650 orang. Saat hari besar tiba, biasanya umat yang jumlahnya membeludak mengikuti ibadah di luar gedung.

Katedral Jakarta
Bentuk atap di katedral. Di dinding terlihat lukisan jalan salib.

Menilik perjalanan sejarahnya, pada tahun 1810 jumlah umat Katolik bertambah banyak namun mereka tidak memiliki sarana ibadah yang memadai. Pastor J. Nellisen, Pr kemudian mendapatkan sumbangan sebuah kapel dari Gubernur Jenderal Herman Daendels yang lokasinya di sekitaran Senen. Tapi, kondisi bangunan kapel itu kurang layak, sehingga digalakkanlah aksi pembangunan gereja. Ketika pembangunan itu rampung, gereja dapat diperbesar hingga dapat menampung sekitar 200 umat.

Namun, nahas. Pada tanggal 27 Juli 1826, terjadi kebakaran yang menghanguskan gereja beserta 180 rumah penduduk di sekitarnya. Tapi, perjalanan pembangunan gereja ini tidak berhenti sampai di situ. Lama berselang, pada tahun 1891 dimulailah peletakan batu pertama pembangunan sebuah gereja baru yang letaknya di dekat Lapangan Banteng. Gereja inilah yang akhirnya menjelma menjadi Gereja Katedral yang berdiri megah hingga kini.

Loka tua yang memberi keteduhan

Di hari ketika saya berkunjung, gereja katedral tidak sedang menyelenggarakan ibadah. Saya merasa betah duduk berlama-lama di sini. Dari kursi di deret tengah, saya bisa menghadap altar yang tampak sakral. Di kiri kanan altar itu berdiri patung Maria dan Yesus. Dan, yang paling menyita perhatian adalah sebuah orgel besar yang terletak di sayap kanan gereja. Orgel ini bukan orgel sembarangan. Ia didatangkan langsung dari Eropa. Untuk memainkannya, sang organis harus menaiki sebuah tangga kayu dulu. Tapi, orgel ini tidak selalu dimainkan setiap ibadat. Hanya pada acara khusus saja.

Katedral Jakarta
Ornamen berupa patung di katedral.

Di bagian belakang kursi umat, terselip sebuah loka untuk berdoa yang tenang. Ada beberapa umat yang memejamkan matanya. Mereka berdoa menghadap patung Pieta, patung yang menggambarkan Maria yang sedang memangku Yesus. Di dekat Pieta, terdapat pula sebuah tempat lilin yang pendaran cahaya temaramnya terasa begitu syahdu.

Hmmm…agaknya untaian kata di sini tak cukup elok untuk melukiskan suasana di dalam Katedral. Jika ada di antara kita yang singgah di Jakarta, mungkin tak ada salahnya menjadikan Katedral sebagai salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya.

Katedral Jakarta
Orgel besar didatangkan asli dari Eropa.

Hari ini, bangunan Katedral telah berusia 118 tahun. Jika bangunan ini mampu bicara, mungkin dia akan banyak berpetuah kepada bangunan-bangunan beton lainnya yang berdiri menjulang mencakar langit-langit Jakarta.

Hadirnya katedral di tengah kota Jakarta agaknya tak hanya sebagai rumah ibadah, melainkan juga sebagai simbol akan Indonesia yang memilih untuk bersatu dalam harmoni. Di seberang katedral berdiri Masjid Istiqlal. Kedua bangunan ini berdiri berdampingan, berbagi ruang untuk melayani tiap umat yang hendak menyapa Sang Khalik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.