Kampung Budaya Sindang Barang: Jejak Kerajaan Sunda Abad ke-12 Yang Masih Terawat

0
280
Berbagai permainan tradisional.

Saat kelulusan hampir tiba, pembuatan buku tahunan mulai menjadi pembicaraan semua siswa. Untuk pembuatan buku tahunan sekolahku, setiap kelas dipersilahkan memilih konsep/tema foto untuk kelas masing-masing. Ada satu bab dimana bab tersebut memiliki tema besar yaitu pakaian adat Indonesia. Beruntungnya, kelasku sepakat untuk memilih tema Sunda, mengapa beruntung? Karena lokasi sekolah kami, yaitu Bogor, merupakan bagian dari tanah Sunda sehingga akan lebih mudah untuk mememukan lokasi yang cocok untuk menjadi latar belakang foto kami.

Setelah melakukan pencarian ke berbagai tempat, pilihan kami jatuh kepada Kampung Budaya Sindang Barang. Kami memutuskan untuk memilih tempat ini karena jarak yang tidak begitu jauh, hanya sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Bogor. Kampung Budaya Sindang Barang terletak di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Untuk menuju lokasi, kita harus melalui jalan yang cukup berkelok-kelok.

Terakhir kali aku berkunjung belum terdapat angkutan umum yang melewati kawasan tersebut. Namun, menurut referensi, saat ini ada moda transportasi yang bisa dipilih, yaitu angkutan umum 03 Ciapus jurusan SBR (Sindang Barang Raya). Rekomendasi kendaraan yang paling enak digunakan adalah sepeda motor. Selain waktu yang cepat, sepeda motor juga mampu menjamah jalan kecil hingga sampai di gerbang utama Kampung Budaya Sindang Barang.

Aula Tempat Berkumpul.

Kampung ini diyakini sudah ada sejak abad ke-XII bila ditilik dari naskah Pantun Bogor dan Babad Pajajaran. Disebutkan dalam naskah, tempat ini merupakan tempat penggemblengan para Satria Kerajaan sekaligus pusat kebudayaan Sunda Bogor. Di tempat ini, kebudayaan Sunda Bogor lahir dan dipertahankan. Di tempat ini juga kita bisa mempelajari budaya Sunda Sindangbarang sambil belajar kesenian seperti Tari Jaipongan dan Silat Cimande. Tidak hanya itu, kita juga bisa bermain permainan tradisional seperti egrang, dampu, bakiak, dan memanah di tengah suasana pesawahan.

Di dalam area Kampung Budaya ini, terdapat sekitar 20 rumah adat Sunda Sindangbarang yang telah direkontruksi dan direvitalisasi. Rumah-rumah tersebut memiliki fungsi yang berbeda, seperti untuk tempat tinggal, lumbung padi, balai tempat berkumpul, hingga peninginapan. Iya, kita bisa memesan paket untuk bermalam jika berminat untuk berlama-lama sembari menikmati suasana di kawasan budaya ini.

Di Kampung Budaya, ada rumah yang terletak di tempat yang paling tinggi. Rumah tersebut adalah rumah kepala adat yang biasa disebut dengan Imah Gede. Sementara di bagian lain, tampak rumah kecil tanpa pintu namun memiliki jendela pada sisi depan bagian atasnya. Rumah tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen atau lumbung padi milik masyarakat Kampung Sindang Barang. Tepat di sebelah lumbung padi, terdapat Bale Pesanggerahan. Rumah ini biasa digunakan sebagai tempat menginap para tamu kehormatan yang datang ke Kampung Budaya Sindang Barang.

Alat musik tradisional khas Sunda.

Selain rumah adat, terdapat juga rumah tempat penjualan souvenir, pernak-pernik hasil karya masyarakat Desa Pasir Eurih dan Kampung Sindang Barang. Terdapat area pementasan yang merupakan salah satu area paling penting dari Kampung Budaya. Berbagai kesenian asli Sunda seperti calung hingga angklung gubrang menjadi hiburan menarik yang secara rutin selalu dipentaskan di Kampung Budaya. Salah satu yang paling aku sukai adalah alunan gamelan tatalu yang selalu dimainkan dengan merdu.

Baca juga:

MENGENAL KEBUDAYAAN TANAH PASUNDAN DI MUSEUM SRI BADUGA

Lokasinya yang berada di kawasan pesawahan dan berada di kaki gunung membuat lokasi ini memiliki udara yang sejuk dan suasana yang nyaman. Untuk dapat berkunjung ke Kampung Budaya Sindang Barang, tiket yang harus dibayar adalah sebesar Rp. 15.000 untuk weekdays dan Rp. 25.000 untuk weekend.

Tempat ini beroperasi setiap hari pada pukul 09.00 – 17.00 WIB. Terdapat juga paket kegiatan yang bisa kita ikuti, seperti tari-tarian, permaianan tradisional, dll. Kamu bisa mengikuti kegiatan tersebut dengan membeli tiket sebesar Rp. 150.000 – Rp. 400.000, tergantung paket yang dipilih. Untuk wisatawan yang ingin menginap, terdapat paket dengan harga mulai dari Rp. 350.000/malam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.