Jenang Bu Gesti: Kuliner Legendaris Yogyakarta!

0
266
Bubur jenang khas.

Wisata kuliner adalah salah satu wisata andalan di Yogyakarta. Kuliner memiliki banyak sekali hal menarik untuk dieksplorasi. Apalagi di Kota Istimewa ini terkenal dengan budaya dan keragamannya. Di Yogyakarta, kuliner tradisional menempati tempat khusus dikalangan wisatawan. Kue leker, bakpia, gudeg, sate klatak, soto bathok, dan makanan tradisional lainnya selalu dicari cari oleh wisatawan.

Minat terhadap kuliner tradisional bukan hal yang aneh. Karena kuliner tradisional adalah sebuah cara untuk mengenal tradisi dan budaya di sebuah tempat. Dengan mencoba dan mengeksplorasi makanan daerah tersebut pun kita akan memahami nilai budaya di daerah itu. Tulisan ini akan membahas sebuah kuliner unik di Yogyakarta, yaitu Jenang Bu Gesti!

Pembeli selalu ramai tiap pagi.

Keunikan, Legendaris, dan Langganan Tokoh Besar.

Jenang adalah makanan tradisional, terbuat dari berbagai macam tepung dan olahan hasil bumi, seperti singkong dan ketan. Jenang sudah sangat dikenal sebagai makanan tradisional daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Jenang Bu Gesti sendiri disajikan dalam bentuk bubur, dengan bubur mutiara merah (monte), sumsum, candil (atau cenil), dan santan. Teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis membuat Jenang Bu Gesti disukai banyak orang.

Hari Sabtu pagi, 9 November, saya pergi ke Pasar Lempuyangan. Menariknya, Jenang Bu Gesti berada dalam pasar Lempuyangan. Pasar ini masih tradisional, jadi mencari sarapan di pasar Lempuyangan adalah hal yang sangat menarik. Pagi itu pasar sudah penuh, pedagang sibuk berjualan, warga lokal juga sibuk berbelanja. Di tengah keriuhan itu, sebuah lorong pasar sudah penuh, orang orang mengantre panjang.

Anyaman bambu dan daun pisang, sajian nikmat.

Setiap Sabtu atau Minggu, Jenang Bu Gesti selalu penuh. Antreannya bisa belasan sampai puluhan orang, padahal lorong pasar dan lapak dagangannya cukup sempit. Walaupun sudah lapar sekali, tapi saya tetap ikut mengantre, kebetulan di paling belakang. Setelah mengantre selama hampir setengah jam, akhirnya tiba bagian saya memesan.

Saya memesan satu porsi jenang campur, ada candil, sumsum putih, sumsum coklat, mutiara, dan santan. Disajikan menggunakan pincuk daun pisang dan anyaman bambu, rasanya autentik sekali! Kebetulan ketika masih pagi, jenangnya masih hangat. Rasa manisnya alami, karena memakai gula merah, lalu ada rasa sedikit asin dan kenyal dari jenang sumsumnya. Rasa candilnya juga unik sekali, kenyal, padat, manis, dan ada rasa “smoky” dari proses pembuatannya yang mungkin dibakar menggunakan tungku api. Perpaduan rasa yang komplit ini nikmat dan cocok sekali untuk sarapan. Hampir kalap, saya menambah satu porsi lagi. Memang, Bubur Jenang Bu Gesti juara!

Bubur jenang khas.

Ternyata, bukan hanya saya saja yang suka masakan Bu Gesti, banyak tokoh-tokoh besar juga yang suka. Menurut informasi yang saya dapat dari pembeli langganan – juga karyawan Jenang Bu Gesti, usaha jenang ini sudah ada dari tahun 1950-an! Sekarang sudah sampai di generasi ketiga. Makanya, penikmat Jenang Bu Gesti adalah tokoh-tokoh seperti Pak Soeharto (Mantan Presiden ke 2), Bu Megawati (Mantan Presiden ke 5), dan keluarga Sultan Hamengkubuwono X. Bahkan, saking legendarisnya, jenang ini sampai dijuluki jenang Pak Harto!

Nah, Jenang Bu Gesti tidak hanya legendaris dan lezat, harganya pun sangat murah. Satu porsi bubur jenang hanya 5 ribu rupiah saja! Itulah mengapa pembeli rela antre panjang hanya untuk melahap satu porsi jenang, sudah lezat, murah pula! Oh iya, jangan datang lebih dari jam 10 ya, biasanya sudah ludes. Jenang Bu Gesti mulai buka dari jam 8 pagi, kalau weekend, datang lebih awal ya.

Jika kalian sedang berpetualang ke Yogyakarta, jangan lupa mencoba Jenang Bu Gesti di Pasar Lempuyangan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.